Ketika Sampah Menumpuk dan Solusi Hanya Sekadar Menutup

Berita tentang tumpukan sampah di pinggir jalan kawasan Ciputat dan Serpong, Tangerang Selatan, menimbulkan keresahan di tengah masyarakat karena tak kunjung diangkut. Tumpukan sampah tersebut kini hanya ditutupi terpal oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan dengan harapan bau menyengatnya tidak mengganggu aktivitas warga. Pada Sabtu, 13 Desember, tumpukan sampah sudah terlihat sejak titik awal tanjakan flyover Ciputat mengarah ke Pamulang. Sampah-sampah itu berada tepat di trotoar kolong flyover Ciputat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki. Tingginya tumpukan sampah bahkan setara dengan pagar pembatas area pedestrian. Kondisi ini membuat kawasan tersebut tampak kumuh dan tidak terawat. Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyebut penutupan dengan terpal dan penyemprotan bahan khusus sebagai penanganan sementara. Selain itu, Pemkot mengklaim sedang membenahi pengelolaan TPA Cipeucang sebagai solusi jangka panjang.

Melihat kondisi tersebut, saya merasa aneh sekaligus prihatin terhadap pengelolaan sampah di Tangerang Selatan. Penutupan sampah dengan terpal justru menimbulkan pertanyaan besar tentang keseriusan penanganan masalah ini. Saya merasa khawatir apakah langkah tersebut benar-benar solusi atau hanya menutupi persoalan yang lebih besar. Bau yang ditekan hari ini belum tentu menghilangkan dampak lingkungan di kemudian hari. Saya pun bertanya-tanya ke mana arah kebijakan pemerintah daerah dalam mengatasi persoalan sampah yang terus berulang. Penanganan yang dilakukan terlihat masih bersifat darurat tanpa perencanaan matang. Sebagai warga, saya merasa berhak mendapatkan lingkungan yang bersih dan sehat. Kekhawatiran ini muncul karena sampah menyangkut kualitas hidup masyarakat secara langsung.

Menurut pandangan saya, tumpukan sampah di ruang publik menunjukkan adanya masalah serius dalam sistem pengelolaan sampah daerah. Jika sampah bisa menumpuk hingga setinggi pagar di kolong flyover, berarti ada kelalaian yang tidak bisa dianggap sepele. Penanganan dengan terpal memang dapat mengurangi bau, tetapi tidak menyelesaikan akar persoalan. Sampah tetap ada dan tetap berpotensi menimbulkan penyakit serta pencemaran lingkungan. Saya menilai kebijakan semacam ini hanya bersifat reaktif, bukan preventif. Pemerintah seharusnya memiliki sistem yang mampu mencegah penumpukan sejak awal. Ketika ruang publik berubah menjadi tempat penampungan sampah sementara, kepercayaan masyarakat pun ikut menurun. Situasi ini mencerminkan lemahnya perencanaan dan pengawasan lingkungan.

Saya juga melihat bahwa dampak persoalan ini tidak hanya menyangkut kebersihan, tetapi juga keselamatan dan kenyamanan warga. Trotoar yang seharusnya digunakan pejalan kaki kini tertutup sampah sehingga memaksa warga berjalan di badan jalan. Kondisi tersebut tentu membahayakan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Selain itu, citra kota ikut tercoreng akibat pemandangan kumuh di kawasan strategis. Tangerang Selatan sebagai kota penyangga ibu kota seharusnya mampu menunjukkan tata kelola kota yang baik. Ketika masalah sampah terus berulang, masyarakat akan semakin apatis terhadap kebijakan pemerintah. Saya khawatir jika tidak segera dibenahi, persoalan ini akan menjadi kebiasaan yang dianggap wajar. Padahal, membiarkan masalah berlarut justru memperbesar dampaknya di masa depan.

Dalam pandangan saya, solusi yang dibutuhkan bukan hanya penanganan darurat, tetapi langkah konkret dan berkelanjutan. Pemerintah daerah perlu memastikan sistem pengangkutan sampah berjalan tepat waktu dan merata. Optimalisasi TPA Cipeucang juga harus dilakukan secara transparan agar masyarakat mengetahui progresnya. Edukasi kepada warga mengenai pemilahan sampah penting untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir. Saya meyakini kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci utama penyelesaian masalah ini. Tanpa keterlibatan semua pihak, persoalan sampah akan terus berulang. Pemerintah juga perlu membuka ruang evaluasi dan kritik dari warga. Dengan begitu, kebijakan yang diambil tidak terkesan menutup-nutupi masalah.

Pada akhirnya, saya berharap persoalan tumpukan sampah di Ciputat dan Serpong menjadi peringatan serius bagi Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Penutupan sampah dengan terpal seharusnya hanya menjadi langkah sementara, bukan solusi utama. Masyarakat membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar penanganan visual. Lingkungan yang bersih adalah hak dasar warga yang harus dijamin oleh pemerintah. Saya mengajak semua pihak untuk lebih peduli dan kritis terhadap persoalan lingkungan di sekitar kita. Jika masalah sampah terus diabaikan, dampaknya akan dirasakan oleh generasi mendatang. Kesadaran bersama harus dibangun mulai dari kebijakan hingga perilaku sehari-hari. Dengan komitmen yang kuat, saya yakin Tangerang Selatan dapat menjadi kota yang lebih bersih dan layak huni.

Reporter: Nadya Maghfiroh Noor Diswa, KPI/5B

2 komentar

Nam mengatakan...

semoga cepat teratasi

Rayna Aina Putri mengatakan...

Setuju dengan pendapat kamu kak dan semoga cepat teratasi

© all rights reserved
made with by templateszoo