Ketika Diam Dianggap Tidak Berkontribusi

Kepada Redaksi,

Dalam banyak ruang diskusi kampus, suara yang paling sering terdengar kerap dianggap sebagai yang paling berkontribusi. Mahasiswa yang aktif berbicara, menyela, dan menyampaikan pendapat berulang kali lebih mudah dikenali dibanding mereka yang memilih mendengarkan dan berbicara seperlunya.

Tanpa disadari, budaya ini menciptakan standar kontribusi yang sempit. Diam sering disalahartikan sebagai pasif, padahal tidak semua proses berpikir berlangsung dalam bentuk suara. Ada mahasiswa yang menyerap diskusi dengan penuh perhatian, mengolahnya secara internal, lalu mengekspresikannya melalui tulisan, tindakan, atau keputusan yang matang.

Kecenderungan mengukur partisipasi dari seberapa sering seseorang berbicara berpotensi menyingkirkan tipe-tipe pembelajar reflektif. Mereka yang tidak nyaman berbicara di forum besar sering merasa terpinggirkan, meskipun memiliki pemahaman yang mendalam terhadap topik yang dibahas.

Kampus sebagai ruang belajar seharusnya memberi tempat bagi beragam cara berkontribusi. Diskusi yang sehat tidak hanya diisi oleh suara keras, tetapi juga oleh keheningan yang memberi ruang bagi pemikiran berkembang. Menghargai diam berarti menghargai proses berpikir yang tidak selalu terlihat.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menyamakan keaktifan dengan kebisingan. Dalam banyak hal, pemahaman justru tumbuh dari mendengarkan.

Hormat saya,
Esa Albi Sabila Husna
KPI 5B

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo