"Kebaikan itu berawal dari kita sendiri." Kalimat sederhana ini bukan sekadar pemanis kata bagi beliau, melainkan sebuah kompas dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala sekolah. Beliau percaya bahwa sikap ramah, menghormati, dan menghargai orang lain akan menciptakan resonansi yang sama. Jika pemimpinnya membuka hati, maka guru dan siswa pun akan melakukan hal yang serupa. Itulah fondasi utama yang beliau bangun di sekolah ini.
Bagi beliau, keramahan bukanlah sebuah topeng yang dibuat-buat demi wibawa. Sebaliknya, itu adalah bentuk pengajaran nyata bagi seluruh warga sekolah. Beliau ingin menunjukkan bahwa hubungan antara guru dan siswa, atau sesama rekan sejawat, harus dilandasi oleh rasa saling menghargai yang tulus.
Dalam pandangan beliau, seorang pendidik memiliki tanggung jawab yang jauh melampaui papan tulis dan buku teks. Mengajar hanyalah sebagian kecil dari tugas, sementara bagian terbesarnya adalah mendidik dan mengenali karakter setiap anak. Beliau tidak pernah membedakan satu siswa dengan siswa lainnya; bagi beliau, mereka semua adalah keluarga.
Pernah suatu ketika, di tengah hiruk-pikuk jam istirahat, beliau mendapati seorang siswa duduk sendirian. Anak itu tidak ke kantin karena tidak memiliki uang jajan, namun ia tetap duduk dengan tenang dan tersenyum tanpa mengharap belas kasihan. Momen sederhana ini membekas dalam ingatan beliau, menjadi pengingat bahwa di balik seragam sekolah, tersimpan jiwa-jiwa yang gigih dan teguh yang harus terus ia dukung.
Menjadi sosok yang ramah dan mudah bergaul tidak membuat beliau kehilangan sisi tegasnya. Kedisiplinan tetap ditegakkan dengan penuh komitmen. Namun, beliau memiliki prinsip unik dalam memberikan sanksi, hukuman harus bersifat positif dan tidak boleh melukai mental siswa.
"Bersikap tegas dan memberi sanksi atas pelanggaran disiplin itu harus dilaksanakan walaupun itu berat, karena itu proses pendewasaan bagi siswa/siswi di masa sekarang ataupun masa depan," ungkapnya. Beliau melihat hukuman sebagai sarana bimbingan, bukan sebagai bentuk hukuman fisik atau mental. Dengan cara ini, beliau menciptakan wadah belajar yang aman, sehingga siswa dan guru merasa nyaman untuk mengemukakan pendapat tanpa rasa takut. Keberhasilan kepemimpinannya terbukti saat para siswa tetap menaruh hormat dan tidak segan menyapanya, bahkan ketika mereka bertemu di luar lingkungan sekolah.
Di tengah kesibukan mengelola sekolah, beliau sering kali meluangkan waktu untuk sekadar duduk dan bercerita bersama para guru di kantor. Tak jarang, beliau berkeliling sekolah hanya untuk memastikan setiap sudut tertata dengan pas. Baginya, kenyamanan sekolah adalah tanggung jawab bersama.
Setiap langkah yang beliau ambil selalu berujung pada satu pesan yang terus ia tekankan kepada staf dan guru-gurunya: bekerjalah dengan ikhlas dan sabar. Beliau sangat meyakini bahwa rezeki adalah ketetapan Tuhan, dan tugas manusia hanyalah berbuat baik dengan sepenuh hati.
"Jika kita yakin dengan apa yang kita cita-citakan, insyaallah itu akan terjadi," pesannya menutup perbincangan. Melalui sosok beliau, kita melihat bahwa kepemimpinan yang paling inspiratif adalah yang mampu mengubah jabatan menjadi pengabdian, dan mengubah instruksi menjadi kasih sayang yang tulus.
Penulis: Nam Desti Fitriah
1 komentar
Sangat menyentuh sekalii kisah nya 🥹
Posting Komentar