Jebakan Doomscrolling: Mengapa Kita Susah Berhenti Menatap Berita Buruk?

Vokaloka.com -  Pernahkah Anda berniat membuka media sosial "cuma sebentar" sebelum tidur, namun berakhir terjaga hingga larut malam dengan jantung berdebar? Jempol Anda terus menggulir layar, berpindah dari satu berita bencana ke berita krisis politik, lalu ke tragedi lainnya. Anda merasa cemas, takut, bahkan sedih, tetapi anehnya, Anda tidak bisa berhenti.

Jika skenario di atas terdengar familiar, Anda tidak sendirian. Anda sedang terjebak dalam fenomena yang disebut Doomscrolling.

Di era digital yang bergerak secepat kilat ini, media sosial telah bertransformasi. Ia bukan lagi sekadar alat untuk bertukar kabar dengan teman lama, melainkan telah menjadi pusat gravitasi untuk informasi, hiburan, hingga pekerjaan (Pandya, 2024). Namun, di balik kemudahan akses ini, terdapat sisi gelap algoritma yang diam-diam memicu kecemasan kolektif kita.

Candu Bernama Doomscrolling
Istilah Doomscrolling atau Doomsurfing merujuk pada kebiasaan seseorang yang secara kompulsif menelusuri berita-berita negatif secara terus-menerus, meskipun sadar bahwa konten tersebut membuat mereka merasa tertekan, takut, atau sedih (Slaughter, dalam Sharma, Lee, & Johnson, 2022).

Mengapa kita melakukan ini? Bukankah manusia secara alami ingin menghindari rasa sakit?

Ironisnya, otak kita diprogram untuk waspada terhadap ancaman. Di masa lalu, ini berguna untuk menghindari predator. Namun di dunia digital, "ancaman" itu hadir dalam bentuk notifikasi berita buruk yang tidak ada habisnya. Merriam-Webster mendefinisikan aktivitas ini sebagai perilaku menghabiskan waktu berlebihan untuk menyerap konten pemicu emosi negatif. Tanpa sadar, kita memberi makan kecemasan kita sendiri.

Peran Algoritma dalam Memperparah Kecemasan
Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan diri sendiri. Algoritma media sosial dirancang untuk menahan atensi kita selama mungkin. Sistem ini menghitung dan menyajikan konten yang paling mungkin memancing reaksi dan seringkali, berita sensasional atau negatiflah yang paling efektif menarik perhatian (Wicaksono et al., 2024).

Sebuah studi bibliometrik oleh Pellegrino, Stasi, dan Bhatiasevi (2022) menyoroti hubungan erat antara adiksi media sosial dengan masalah kesehatan mental. Temuan mereka menegaskan bahwa paparan berlebihan terhadap algoritma ini berkontribusi signifikan terhadap kecenderungan depresi dan kecemasan.

Kecemasan ini bukan sekadar perasaan tidak nyaman. Hayat (2014) menggambarkannya sebagai ketegangan internal yang menyakitkan akibat dorongan dari dalam maupun luar. Ketika kita melakukan doomscrolling, kita secara sukarela membiarkan algoritma memborbardir kita dengan "dorongan luar" tersebut.

Lingkaran Setan FOMO dan Stres
Kebiasaan ini sering kali didorong oleh rasa takut tertinggal informasi atau Fear of Missing Out (FOMO). Kita merasa perlu tahu segala hal buruk yang terjadi agar bisa "bersiap". Padahal, menurut Laato et al. (2020), konsumsi informasi negatif yang berkepanjangan justru mendistorsi persepsi kita. Kita mulai melihat dunia sebagai tempat yang jauh lebih berbahaya daripada kenyataannya, memicu respons stres kronis dan perasaan tidak aman yang persisten.

Dampaknya sangat nyata. Penelitian Satici et al. (2022) menemukan bahwa individu yang terjebak doomscrolling cenderung memiliki kepuasan hidup (life satisfaction) dan kesejahteraan mental (mental well-being) yang rendah.

Lebih buruk lagi, ini menciptakan siklus yang sulit diputus. Seperti yang dijelaskan oleh Rosmalina (2018) dan ARDI (2024), individu yang cemas sering kali menetapkan standar keamanan yang tidak realistis. Ketika rasa aman itu tidak tercapai, mereka kembali mencari informasi (berita buruk) untuk mencoba menenangkan diri, yang justru membuat kecemasan semakin menjadi-jadi.

Bagaimana Cara Kita Keluar?
Menyadari bahwa kita sedang melakukan doomscrolling adalah langkah pertama yang krusial. Kita perlu mengambil kendali kembali atas interaksi kita dengan teknologi.

Berikut adalah beberapa langkah praktis untuk memutus siklus ini. Mulailah dengan menetapkan batas digital yang tegas, sebagaimana disarankan, guna mencegah "overdosis" informasi fitur screen time di ponsel bisa menjadi alat bantu disiplin yang efektif. Selain itu, penting untuk peka terhadap sinyal emosi; jika dada mulai sesak, cemas, atau marah saat membaca berita, segera berhenti sejenak dan sadari bahwa meneruskan membaca tidak akan memperbaiki keadaan. Upaya ini perlu dibarengi dengan mengurangi asupan informasi, di mana kita menghindari sumber sensasional yang belum terverifikasi dan lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Terakhir, saat dorongan untuk scrolling muncul, alihkan fokus pada aktivitas fisik atau hobi yang menyenangkan..


Penulis: Desy Windayani Budi Artik

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo