Jam Tidur Yang Selalu Mundur

VOKALIFESTYLE, Bandung - Pukul 02.41. Lampu kamar kos di lantai dua masih menyala. Di atas kasur, ponsel diletakkan terbalik, layarnya mati setelah alarm terakhir dipasang untuk pukul enam pagi. Ada tiga alarm di jam yang sama. Bukan karena susah bangun, tapi karena sering lupa kapan akhirnya tertidur. Di meja, gelas kopi sudah kosong sejak satu jam lalu. Laptop masih terbuka, menampilkan dokumen yang belum benar-benar selesai.

Tidur selalu datang belakangan. Bukan karena tidak ingin, tapi karena selalu ada satu hal lagi yang harus dibereskan.

Rizky, 21 tahun, mahasiswa semester enam, biasanya memejamkan mata lewat pukul dua pagi. Kadang lebih. Jam bangunnya bergantung pada jadwal kelas. Jika ada kelas pagi, alarm berbunyi lebih sering. Jika tidak, pagi datang lebih pelan. Ia tidak pernah secara sadar memutuskan untuk tidur larut. Pola itu terbentuk begitu saja, mengikuti ritme hari-harinya.

Malam adalah satu-satunya waktu ketika tidak ada yang menuntut kehadiran. Tidak ada dosen, tidak ada rapat organisasi, tidak ada pesan yang harus segera dibalas. Di siang hari, waktunya terbagi. Di malam hari, waktunya terasa utuh.

Sebelum tidur, Rizky biasanya menyelesaikan hal-hal yang tertunda. Mengedit tugas, membaca ulang catatan, atau sekadar menonton video dengan volume rendah. Aktivitasnya berpindah-pindah, tapi tujuannya sama: memanfaatkan waktu yang tidak diganggu siapa pun. Tidur menjadi batas terakhir yang terus digeser.

Pola ini tidak hanya dialami Rizky. Dinda, 24 tahun, pekerja lepas di bidang desain, memiliki jam tidur yang berbeda tapi sama-sama tidak menetap. Ia bisa tidur pukul satu dini hari, bisa juga lewat pukul empat. Jam bangunnya mengikuti tenggat klien, bukan matahari. Pekerjaan datang dari berbagai zona waktu, dan notifikasi bisa muncul kapan saja.

Dinda tidak menyebut dirinya begadang. Ia menyebutnya bekerja di waktu yang tenang. Malam memberinya ruang untuk fokus tanpa pesan masuk bertubi-tubi. Siang hari dipakai untuk membalas email, rapat daring, dan urusan lain yang tidak bisa dihindari. Tidur berada di sela-sela itu semua, menyesuaikan diri.

Dalam dua cerita ini, tidur tidak lagi berdiri sebagai kebutuhan biologis semata. Ia menjadi hasil negosiasi antara tubuh dan tuntutan hidup. Jam tidur yang bergeser bukan sekadar kebiasaan pribadi, tapi konsekuensi dari cara waktu dibagi dan dikontrol.

Budaya produktivitas membuat waktu terasa selalu kurang. Sistem kerja fleksibel memberi kebebasan, tapi juga menghapus batas. Teknologi memungkinkan pekerjaan dilakukan dari mana saja, sekaligus membuat pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai. Layar ponsel menjadi penanda hari, menggantikan perubahan cahaya.

Di banyak ruang hidup hari ini, malam berfungsi sebagai ruang privat terakhir. Saat kota melambat, sebagian orang justru mulai bergerak. Bukan untuk melawan ritme alami, tapi untuk mencari ruang yang tidak tersedia di siang hari.

Konsekuensinya diterima sebagai bagian dari keseharian. Pagi yang datang dengan mata setengah terbuka. Jadwal makan yang bergeser. Kebutuhan kafein yang meningkat. Tubuh menyesuaikan diri, membangun strategi bertahan tanpa banyak dipertanyakan.

Tidak ada yang secara eksplisit merencanakan jam tidur seperti ini. Ia terbentuk dari tumpukan pilihan kecil, tuntutan yang saling bertabrakan, dan kebutuhan akan kendali atas waktu sendiri. Tidur menjadi penutup hari yang selalu bisa ditunda, selama masih ada ruang untuk menunda.

Jam tidur yang berantakan sering dianggap sebagai masalah disiplin. Padahal, ia lebih jujur dibaca sebagai peta kecil tentang bagaimana seseorang hidup. Tentang siapa yang mengatur waktunya, dan sejauh mana ia punya ruang untuk dirinya sendiri.

Pada akhirnya, tidur bukan hanya soal kapan mata terpejam. Ia adalah cermin tentang bagaimana manusia bernegosiasi dengan dunia yang terus berjalan, bahkan ketika lampu kamar masih menyala lewat pukul dua pagi.

Reporter :
Esa Albi Sabila Husna
KPI 5B


Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo