"Feodalisme" katanya, padahal cuma cium tangan

Vokaopini, Bandung -
Beberapa hari lalu, media sosial universe ramai lagi. Kali ini bukan karena isu politik, tapi karena liputan Trans 7 yang menyorot perilaku santri di salah satu pesantren besar. Potongan videonya menampilkan santri yang jalan bebek dan sun tangan kiai. Narasinya dibingkai dengan kata "feodalisme". Sontak, ramai komentar bernada sinis: "Emang harus segitunya?"

Sekilas, gesture itu memang bisa tampak berlebihan bagi yang tak pernah mengalaminya. Tapi begitulah, secanggih-canggihnya kamera yang terekam itu hanya gerak, bukan niat. Di ruang lingkup pesantren, tunduk bukan bentuk penindasan, tapi ekspresi adab. Cium tangan bukan pemujaan, melainkan penanda bahwa di hadapan ilmu, ego harus dilipat. Namun media sering terjebak pada visual yang mencolok, lalu menarik kesimpulan sosiologis dari sudut pandang luar.

Feodalisme, dalam makna aslinya, adalah sistem kekuasaan di mana otoritas tertinggi terpusat pada segelintir elit, dan rakyat tunduk tak berdaya. Kalau itu dipaksakan ke konteks pesantren, analoginya cacat. Di pesantren, pusatnya bukan kuasa, melainkan keilmuan. Kiai dihormati bukan karena kekuatan sosial, tapi karena menjadi mata rantai ilmu yang menyambungkan kita pada tradisi panjang intelektual Islam dari zaman Rasulullah.

Namun bukan berarti semua bentuk penghormatan tak bisa dikritisi. Ada kalanya, ketika kiai membiarkan santri berlebihan dalam bersikap tanpa menjelaskan maknanya, di situlah adab dipandang sebagai celah untuk mencela. Kemudian muncul kesalahpahaman, baik dari dalam maupun luar pesantren. Adab yang tak disertai pendidikan makna bisa tampak seperti penindasan simbolik. Tapi adab yang disertai penjelasan adalah jembatan spiritual antara ilmu dan kerendahan hati

Media tentu punya hak membahas realitas sosial, tapi juga punya tanggung jawab etis untuk memahami konteks kultural sebelum menayangkan. Tayangan Trans 7 itu muncul menjelang Hari Santri. Momen dan narasi yang dipilih terasa janggal. Apalagi, ketika NU merespons keras framing tersebut, aroma politik dan agenda media mulai tercium samar. Apakah ini sekadar liputan kebetulan, atau memang bagian dari permainan wacana menjelang momentum keagamaan? Entahlah, Tapi publik berhak curiga.

Sebagai santri, saya tak menutup mata bahwa sebagian tradisi pesantren memang perlu direfleksikan ulang. Namun refleksi itu seharusnya lahir dari cinta, bukan dari sinisme. Kita bisa mengkritik tanpa merendahkan, bisa bertanya tanpa menuduh. Karena santri bukan sekadar produk sistem lama, tapi juga bagian dari generasi masa kini yang harus berpikir dan mencintai ilmu dengan cara yang relevan dengan zaman.

Bagi saya, masalahnya bukan "emang harus segitunya?", tapi "emangnya kalian gak tahu segitu mahalnya adab di hadapan ilmu?". Kalau semua hal diukur dengan logika hierarki modern tanpa memahami akar spiritualnya, kita akan kehilangan sesuatu yang lebih mahal: rasa takzim. Dan tanpa takzim, ilmu tinggal data.

Kritik boleh, yang jangan itu framing seenaknya. Sebab sekali makna dilucuti, yang tersisa hanya simbol tanpa ruh. Dan kalau itu terjadi, kita malah membunuh adab dengan nama kebebasan berpikir.

Penulis :
Esa Albi Sabila Husna
KPI 5B

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo