Di Antara Rutinitas dan Alam: Mendaki Gunung sebagai Cara Menjaga Keseimbangan Hidup

Vokaloka, Bandung- Ihsan Malik Amrullah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2021, saat ini berada dalam fase transisi mencari pekerjaan. Di tengah ketidakpastian tersebut, Ihsan tetap menjaga rutinitas harian melalui berbagai aktivitas fisik dan alam terbuka, mulai dari mendaki gunung, bermain sepak bola, hingga berkebun dan bertani di rumah.

Aktivitas-aktivitas ini menjadi cara Ihsan mengisi waktu sekaligus menjaga keseimbangan hidup di luar urusan akademik dan pencarian kerja.

Ihsan mulai aktif mendaki gunung sejak 2023. Pendakian pertamanya dilakukan di Gunung Manglayang, Cibiru, Bandung, yang menurutnya relatif ramah bagi pendaki pemula karena jalur dan waktu tempuh yang tidak terlalu berat. Seiring waktu, ia meningkatkan tantangan dengan mendaki gunung berketinggian sekitar 2.000 mdpl hingga di atas 3.000 mdpl, seperti Gunung Ciremai dan Gunung Slamet.

Dalam setahun, Ihsan rata-rata melakukan tiga kali pendakian, dengan pola dua gunung menengah dan satu gunung tinggi.

"Yang mendorong saya untuk terus mendaki adalah keindahan alam di atas gunung. Pemandangan tersebut memberi rasa bahagia bagi saya karena keindahan alam merupakan bentuk kenikmatan dari Tuhan," ujar Ihsan, Sabtu (13/12/2025).

"Selain itu, mendaki menjadi cara saya menikmati hidup, termasuk merasakan proses lelah dan perjuangan selama perjalanan."

Bagi Ihsan, aktivitas berjalan di alam terbuka sebenarnya bukan hal baru. Ia tumbuh di lingkungan perkampungan yang dekat dengan perbukitan dan hutan, sehingga aktivitas fisik di alam sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil. Baru dalam konteks sekarang, mendaki gunung ia sebut sebagai hobi karena melibatkan perencanaan, perlengkapan, dan persiapan khusus.

Pendakian menjadi sarana bagi Ihsan untuk menjaga keseimbangan antara tekanan mental dan kebutuhan akan ruang personal.

Dalam perkembangannya, Ihsan tidak lagi mendaki hanya bersama teman dekat. Untuk pendakian dengan ketinggian menengah hingga tinggi, ia kini tergabung dalam kelompok bernama Paguyuban Adventure. Keberadaan kelompok ini tidak hanya memudahkan koordinasi pendakian, tetapi juga membangun kebiasaan disiplin dan kebersamaan.

Sebelum pendakian, kelompok tersebut rutin melakukan latihan fisik ringan, seperti jogging atau berjalan santai sejauh satu hingga dua kilometer, dua sampai tiga hari sebelum keberangkatan.

"Tujuannya agar kaki tidak kaget saat berada di jalur pendakian, karena sebelumnya sudah melakukan latihan fisik, khususnya untuk otot kaki," jelas Ihsan.

Dalam aktivitas pendakian, Ihsan menjelaskan bahwa pola komunikasi antar peserta cenderung sederhana dan cair, tanpa formalitas berlebihan. Komunikasi biasanya difokuskan pada perencanaan teknis dan pembagian peran agar perjalanan berjalan aman dan efisien.

Ia menyebut, dalam satu rombongan pendakian umumnya terdapat beberapa peran utama, seperti leader, navigator, chef atau juru masak, sweeper, dan member. Setiap peran memiliki tanggung jawab masing-masing, mulai dari menentukan arah, memastikan konsumsi, hingga memastikan tidak ada anggota yang tertinggal di barisan belakang.

Saat beristirahat di jalur pendakian, para pendaki biasanya mengonsumsi makanan dan minuman manis untuk menambah energi. Asupan gula dianggap membantu menjaga stamina selama perjalanan.

Sementara ketika bermalam di gunung, aktivitas memasak dan makan bersama menjadi rutinitas yang memperkuat kebersamaan, mulai dari barbeque, nasi liwet, hingga makan malam sederhana di tengah alam terbuka.

"Nilai sosial yang paling terasa adalah sikap saling tolong-menolong. Di jalur pendakian, tidak semua orang terbiasa menghadapi medan yang terjal," kata Ihsan.

"Ketika ada pendaki yang kesulitan, tergelincir, atau kelelahan, kami saling membantu, baik dengan menopang maupun membopong."

Ihsan menambahkan bahwa solidaritas antar peserta tidak hanya terbangun saat pendakian berlangsung, tetapi sejak tahap persiapan. Proses menyiapkan perlengkapan, menyusun rencana perjalanan, hingga saling memberi dukungan di lapangan menjadi fondasi kedekatan emosional dalam kelompok.

Menurut Ihsan, aktivitas mendaki membawa pengaruh nyata terhadap gaya hidup sehari-harinya. Ia menjadi lebih menghargai keindahan alam, lebih memperhatikan kebugaran fisik melalui pola makan, serta lebih sadar terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Selain itu, kebiasaan mendaki juga melatihnya dalam mengelola waktu secara lebih terstruktur. Setiap tahapan dalam pendakian menuntut perhitungan yang matang, mulai dari administrasi hingga estimasi perjalanan.

Nilai-nilai sosial seperti saling menyapa, membantu, dan peduli terhadap sesama pun terbawa ke kehidupan di luar gunung.

"Awalnya, saya termasuk orang yang cukup acuh terhadap alam dan lingkungan. Namun setelah aktif mendaki, saya mulai sadar akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian alam," ungkap Ihsan.

Ihsan memandang gunung bukan hanya sebagai ruang petualangan, tetapi juga sebagai ruang sosial. Interaksi antarpeserta pendakian, baik dengan kelompok sendiri maupun kelompok lain sering terjalin secara spontan, dibalut empati dan simpati.

Budaya saling menyapa, berbagi logistik, hingga berbagi cerita masih terjaga dan menjadi ciri khas dunia pendakian yang menurutnya semakin dirindukan.

"Bagi saya, mendaki gunung adalah tentang keindahan."

"Semoga aktivitas mendaki dapat menjadi gaya hidup yang positif bagi banyak orang," harap Ihsan.

Reporter: Arif Kusuma Putra (KPI A)

1 komentar

Ihsan Malik Amrullah mengatakan...

terimakasih, semoga menginspirasi banyak orang🙏🏻

© all rights reserved
made with by templateszoo