Di Antara Masjid dan Gereja: Praktik Moderasi Beragama di Vihara Vipassana Kusalacita Bekasi

Di Antara Masjid dan Gereja: Praktik Moderasi Beragama di Vihara Vipassana Kusalacita Bekasi

Di sebuah sudut kawasan Bojong Menteng, Kota Bekasi, berdiri sebuah vihara yang dikelilingi oleh rumah warga, masjid, dan gereja. Vihara Vipassana Kusalacita tidak hanya menjadi ruang ibadah umat Buddha, tetapi juga bagian dari denyut kehidupan sosial masyarakat lintas agama di sekitarnya. Di tengah keragaman tersebut, praktik moderasi beragama tumbuh bukan dalam bentuk slogan, melainkan melalui komunikasi sehari-hari yang sederhana namun bermakna.
Lie Poseng, salah satu pengelola Vihara Vipassana Kusalacita, menyebut bahwa kehidupan bertetangga di lingkungan Bojong Menteng berjalan dengan tingkat toleransi yang cukup tinggi. Menurutnya, hubungan antarwarga dibangun atas dasar saling memahami kebutuhan satu sama lain. "Yang penting kita berbicara baik dan ramah. Kita semua sama," ujarnya.
Bentuk toleransi itu tampak nyata ketika hari besar keagamaan tiba. Saat perayaan Natal, pihak gereja di sekitar vihara pernah mengajukan permohonan untuk menggunakan area parkir vihara. Permintaan tersebut disambut dengan terbuka. "Kebetulan tempatnya ada dan kosong, ya silakan saja dipakai," kata Poseng. Hal serupa juga terjadi ketika umat Muslim menjalani bulan Ramadan. Pihak vihara kerap membagikan takjil, makanan sahur, hingga sembako kepada warga sekitar tanpa memandang latar belakang agama.
Namun, Poseng menegaskan bahwa seluruh kegiatan sosial tersebut dilakukan dengan komunikasi yang terbuka dan terstruktur. Setiap kegiatan melibatkan koordinasi dengan RT dan RW setempat. Data penerima bantuan pun disesuaikan dengan kebutuhan warga yang direkomendasikan oleh aparat lingkungan. Cara ini, menurutnya, penting agar tidak menimbulkan prasangka atau kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi lintas agama di sekitar vihara tidak selalu diwujudkan dalam kegiatan besar. Tegur sapa, obrolan ringan, dan saling membantu saat ada kebutuhan menjadi bentuk komunikasi yang paling sering dilakukan. "Jangan cuek-cuekan saja. Ketemu, ya ngobrol," ujar Poseng. Bahkan, fasilitas vihara seperti bangku sering dipinjamkan kepada warga Muslim ketika ada hajatan atau keperluan sosial lainnya.
Soal potensi konflik, Poseng mengakui bahwa dalam masyarakat yang beragam, kesalahpahaman bisa saja muncul. Namun, sejauh ini, persoalan-persoalan tersebut dapat diredam melalui dialog di tingkat warga sebelum berkembang lebih jauh. "Kalau ada apa-apa, dibahas bareng-bareng. Enggak sampai jadi besar," katanya. Pendekatan komunikasi yang mengedepankan musyawarah menjadi kunci dalam menjaga harmoni sosial.
Dalam setiap perayaan keagamaan Buddha seperti Waisak atau Kathina, pihak vihara juga selalu mengedepankan prinsip keterbukaan. Warga sekitar diberi informasi terlebih dahulu, aparat keamanan dilibatkan, dan izin lingkungan diurus secara resmi. Langkah ini dilakukan agar tidak ada pihak yang merasa terganggu atau terpinggirkan.
Bagi Poseng, moderasi beragama berangkat dari kesadaran bahwa semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan. Yang membedakan adalah bagaimana ajaran tersebut dipraktikkan dalam kehidupan sosial. "Agama itu baik semua. Tinggal kitanya mau mengikuti atau tidak," ujarnya. Ia menekankan bahwa sikap merasa paling benar justru dapat menjadi sumber konflik dalam kehidupan beragama.
Ke depan, Poseng berharap hubungan lintas agama di Bojong Menteng dapat terus terjaga dan semakin baik. Ia percaya bahwa komunikasi yang ramah, sikap saling menghormati, serta kepatuhan pada aturan bersama merupakan fondasi utama dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Di tengah wacana besar tentang moderasi beragama, kisah Vihara Vipassana Kusalacita menunjukkan bahwa harmoni antarumat beragama dapat tumbuh dari tindakan-tindakan kecil: berbagi ruang parkir, saling menyapa di jalan, dan kesediaan untuk mendengarkan satu sama lain. Dari sanalah moderasi beragama menemukan maknanya yang paling nyata.

Penulis ; Reza Cahaya Hermawan Mahasiswa UIN BANDUNG KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo