Dari Dapur Tradisional ke Meja Wisatawan : Pesona Manis Kue Kawitan Pangalengan


Vokaloka, Bandung - Pangalengan selalu punya cara untuk membuat siapa pun rindu untuk kembali. Udara dingin pegunungannya, hamparan kebun tehnya yang hijau, hingga suasana pedesaannya yang tenang seolah menjadi magnet bagi wisatawan. Namun bagi sebagian orang, ada satu hal kecil yang tak boleh dilewatkan setiap kali berkunjung ke daerah ini yakni kue kawitan oleh-oleh khas Pangalengan yang manis, sederhana, namun sarat kehangatan tradisi.

Begitu membuka bungkusan kue kawitan, aroma manisnya langsung menyapa. Teksturnya lembut di luar, tetapi kenyal saat digigit, dengan rasa gula merah yang khas dan tidak berlebihan. Kue ini dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti tepung beras, gula aren, dan santan merupakan bahan yang sudah lama menjadi ciri khas dapur masyarakat Sunda. Namun yang membuat kue kawitan istimewa bukan sekadar resepnya, melainkan nilai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di salah satu rumah produksi kecil di kawasan Pangalengan, proses pembuatan kue kawitan masih dilakukan dengan cara tradisional. Para pengrajin menanak adonan menggunakan tungku, mengaduknya perlahan hingga mengental dengan warna cokelat pekat yang menggoda. Semua dilakukan dengan ketelatenan dan rasa cinta terhadap warisan kuliner lokal. "Kue ini resepnya sudah ada sejak nenek buyut kami. Dulu biasanya dibuat untuk acara keluarga, syukuran, atau menyambut tamu," ujar salah seorang pembuat kue lokal yang menjadi pemasok utama bagi toko oleh-oleh di sekitar Pangalengan.

Kini, kue kawitan menjadi salah satu oleh-oleh paling dicari oleh wisatawan yang datang, terutama setelah banyak pengunjung mulai berburu kuliner lokal alih-alih makanan modern. Dalam setiap gigitan kue ini, tersimpan rasa nostalgia tentang kampung dan tradisi lama yang mulai jarang ditemui. Rasanya yang manis dan lembut seperti membawa kita kembali ke masa kecil, ketika makanan tradisional masih menjadi inti kebersamaan keluarga.

Di tengah gempuran makanan instan dan oleh-oleh modern, kue kawitan justru tetap bertahan. Bahkan banyak wisatawan mengaku selalu membawa pulang kue ini sebagai buah tangan karena rasanya yang "ngahaja sederhana" manis, tidak berlebihan, dan pas dinikmati bersama secangkir teh hangat khas Pangalengan. Tak sedikit pula yang membeli karena ingin mendukung usaha kecil masyarakat lokal yang tetap menjaga kelestarian kuliner daerah.

Pangalengan bukan hanya soal kebun teh dan wisata alamnya. Di balik kesejukan udara pegunungannya, ada cerita manis dari sebuah kue tradisional yang terus hidup hingga kini. Kue kawitan, dengan kesederhanaannya, telah menjadi simbol kecil dari identitas kuliner Pangalengan yang hangat, lembut, dan selalu membuat siapa pun ingin kembali mencicipinya.

Reporter : Eva Dwi, KPI/5B

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo