Budaya Nongkrong di Cafe : Sekadar Kopi atau Kebutuhan Sosial Baru?



Vokaloka, Bandung - Sore itu, suara denting cangkir bercampur dengan percikan suara mesin espresso yang sesekali menggeram. Di sudut cafe, seorang mahasiswa menatap layar laptop sambil menyeruput iced latte. Di meja lain, dua sahabat mengobrol dengan tawa kecil. Bukan akhir pekan, bukan pula hari libur namun cafe tetap penuh. Fenomena ini bukan lagi hal asing di kota-kota besar Indonesia. Nongkrong di cafe sudah menjelma menjadi gaya hidup baru. Tapi, apa benar semua ini hanya soal kopi?

Konsep third place (ruang ketiga) pertama kali dipopulerkan oleh sosiolog Ray Oldenburg (1989). Ia menyebutkan bahwa manusia membutuhkan ruang selain rumah (first place) dan kantor/sekolah (second place) untuk beristirahat, membangun relasi, dan melepaskan ketegangan. Di era digital, cafe mengambil alih fungsi itu. Tidak heran jika kedai kopi modern tumbuh 8 - 12% setiap tahun di Indonesia (data Asosiasi Kopi Spesial Indonesia, 2024). Cafe menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di rumah seperti suasana yang hidup namun tidak mengganggu, aroma kopi yang menenangkan, dan yang paling penting adalah kesempatan untuk merasa "terhubung" dengan lingkungan sosial.

Penelitian dari University of British Columbia (2022) menunjukkan bahwa berada di lingkungan publik yang hangat dan cukup ramai (ambient social interaction) dapat meningkatkan rasa aman, menurunkan stres, dan memperbaiki suasana hati. Inilah mengapa banyak orang merasa lebih fokus dan lebih produktif di cafe dibanding di rumah. Psikolog sosial, Dr. Tania Jullian, juga menyebutkan bahwa kebiasaan bekerja atau belajar di cafe dipicu oleh efek sosial yang disebut collective presence yaitu sensasi berada bersama orang lain yang membuat otak terasa lebih waspada dan termotivasi.

Perkembangan budaya nongkrong juga didorong oleh media sosial. Cafe tidak lagi sekadar tempat minum kopi, tapi juga ruang untuk membangun citra diri. Interior estetik, minuman warna-warni, playlist indie, semuanya adalah "bahasa visual" yang sering kita lihat di Instagram atau TikTok. Penelitian CFE Media Lab (2023) menemukan bahwa 64% anak muda memilih cafe berdasarkan "vibes" interior, bukan menunya. Kafe menjadi panggung kecil untuk menunjukkan gaya hidup produktif, modern, dan "soft living".

Di balik estetika dan aroma kopi, budaya nongkrong ternyata menjawab kebutuhan yang lebih dalam seperti halnya kebutuhan akan koneksi sosial. Setelah pandemi, banyak orang kehilangan ritme interaksi langsung. Kafe pun menjadi jembatan untuk memulihkannya. Sosiolog perkotaan, Laily Nugraha, menyebut fenomena ini sebagai social re-grounding. Cafe menjadi tempat orang merasa kembali menjadi bagian dari masyarakat tanpa kewajiban, tanpa tekanan.

Bagi sebagian orang, nongkrong di kafe adalah bentuk self-care. Bagi yang lain, itu cara mengatasi kesepian. Dan bagi sebagian besar, itu hanyalah momen singkat untuk bernapas di tengah rutinitas. Dengan kata lain terkadang, kita bukan butuh kopi. Kita butuh suasana hidup.

Di meja-meja cafe itu, kopi hanyalah pintu masuk. Yang dicari orang sebenarnya jauh lebih rumit yakni suasana, pelarian kecil, rasa tenang, produktivitas, interaksi manusia, bahkan identitas diri. Cafe kini bukan hanya tempat minum kopi. Ia adalah ruang sosial baru atau ruang ketiga yang memberi jeda dan makna di tengah hidup yang serba cepat. Dan mungkin, itulah alasan kafe akan selalu penuh. Bahkan di hari kerja sekalipun.

Reporter : Eva Dwi Fajar, KPI/5B

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo