BENARKAH “BUAYA DARAT ITU LAKI-LAKI”

Dalam percakapan sehari-hari, istilah "buaya darat" hampir selalu diarahkan kepada laki-laki. Label ini digunakan untuk menggambarkan sosok yang gemar berselingkuh, tidak setia, dan mempermainkan perasaan pasangan. Menariknya, stigma tersebut seolah diterima begitu saja tanpa banyak dipertanyakan. Padahal, jika dilihat lebih jauh, perilaku tidak setia dalam relasi bukanlah monopoli satu jenis kelamin.
Sejumlah penelitian dalam kajian sosiologi dan psikologi hubungan menunjukkan bahwa perselingkuhan merupakan fenomena yang kompleks. Faktor pemicunya beragam, mulai dari ketidakpuasan emosional, komunikasi yang buruk, tekanan sosial, hingga kebutuhan akan pengakuan diri. Dalam konteks ini, baik laki-laki maupun perempuan memiliki peluang yang sama untuk melakukan pengkhianatan dalam hubungan. Namun, mengapa label negatif justru lebih sering dilekatkan pada laki-laki?
Salah satu jawabannya terletak pada konstruksi budaya patriarki yang telah lama hidup di masyarakat. Dalam budaya ini, laki-laki sering digambarkan sebagai pihak yang aktif, dominan, dan memiliki dorongan seksual tinggi. Narasi tersebut kemudian membentuk stereotip bahwa ketidaksetiaan adalah "sifat alami" laki-laki. Sebaliknya, perempuan kerap ditempatkan sebagai sosok yang setia, emosional, dan pasif. Ketika perempuan melakukan hal yang sama, perilakunya sering kali disamarkan, dibenarkan, atau bahkan dianggap sebagai respons atas kesalahan pasangan.
Padahal, studi tentang dinamika hubungan modern menunjukkan bahwa perubahan peran sosial ikut mengubah pola relasi. Perempuan kini memiliki ruang yang lebih luas dalam pendidikan, karier, dan pergaulan sosial. Kemandirian ini juga membawa konsekuensi baru dalam hubungan romantis, termasuk kemungkinan terjadinya konflik dan perselingkuhan. Beberapa riset psikologi relasi mengungkapkan bahwa perempuan juga dapat menduakan pasangan, terutama ketika kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi, merasa tidak dihargai, atau menemukan kenyamanan pada orang lain.
Namun penting untuk dicatat, membandingkan siapa yang "lebih sering" berselingkuh justru menjauhkan kita dari persoalan utama. Masalahnya bukan pada jenis kelamin, melainkan pada kualitas hubungan itu sendiri. Ketika komunikasi rapuh, kepercayaan terabaikan, dan kebutuhan emosional tidak diolah bersama, relasi menjadi rentan siapa pun pelakunya.
Label "buaya darat" pada laki-laki sebenarnya berbahaya karena menyederhanakan persoalan dan menutup ruang refleksi yang lebih adil. Ia membuat laki-laki otomatis dicurigai, sementara perempuan sering luput dari evaluasi kritis atas tindakannya sendiri. Dalam jangka panjang, stereotip ini justru memperkuat relasi yang tidak sehat, karena tanggung jawab moral dalam hubungan menjadi timpang.
Masyarakat perlu mulai menggeser cara pandang ini. Kesetiaan bukan persoalan gender, melainkan komitmen. Pengkhianatan bukan soal siapa laki-laki atau perempuan, tetapi soal pilihan sadar yang diambil seseorang dalam relasi. Dengan memahami ini, diskusi tentang hubungan dapat bergerak ke arah yang lebih dewasa bukan saling menuding, melainkan saling memperbaiki.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah "siapa yang lebih pantas disebut buaya darat," melainkan mengapa kita masih gemar memberi label, alih-alih membangun relasi yang jujur, setara, dan bertanggung jawab. Selama kita masih sibuk menstigma satu pihak, masalah dalam hubungan akan terus berulang dengan wajah yang berbeda.
Penulis: Nurmalik Aziz Zarkasi

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo