Vokaloka. Bandung – Program Makanan Bergizi (MBG) yang dijalankan di SMA Plus Baiturrahman kini telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Program ini mendapat beragam tanggapan unik dari para siswa. Sejak awal pelaksanaannya, MBG dinilai sangat positif karena mampu mendukung pola hidup sehat di lingkungan sekolah. Namun, muncul pula sedikit kekhawatiran di tengah maraknya isu keracunan makanan bergizi di beberapa daerah.
Rizki Mukti, selaku operator sekolah sekaligus penanngung jawab program MBG, menjelaskan bahwa pihak sekolah terus berupaya menjaga keamanan dan kualitas makanan yang dibagikan.
"Dari awal program MBG ini sangat positif, tapi memang sempat muncul kekhawatiran karena ada isu keracunan di tempat lain. Meski begitu, kami selalu berikhtiar dengan melakukan pengecekan ulang terhadap makanan sebelum dibagikan kepada siswa"
Beragam tanggapan unik muncul dari para siswa terhadap pelaksanaan program ini. Banyak yang antusias karena merasa terbantu untuk menjaga pola makan sehat, atau menghemat uang jajan sekolah, namun ada juga yang memilih tidak ikut karena alasan pribadi atau kekhawatiran orang tua.
Salah satu siswa kelas XII, Adila Pranata, menyampaikan rasa senangnya mengikuti program tersebut.
"pertama, sangat membantu memanajemen keuangan saya, yang tadinya uang boros dipakai untuk jajan, sekarang bisa me manage untuk kebutuhan lain, dari saya sendiri tidak ada sisi negative sama sekali, soal keracunan itu hanya kekhawatiran di masakan basah, dan menu special yang paling saya suka itu burger" ujar Adila Pranata.
Berbeda dengan Rifa Fajriansyah, memilih untuk tidak ikut sejak awal karena merasa cara penyajian makanan bisa saja terkontaminasi.
"Aku sendiri aga risih melihat cara penyajiannya. Takutnya udah kena debu atau tersentuh tangan banyak orang. Aku juga lebih suka yang keringan atau system parasmanan hidangan. Jadi, saya sendiri lebih memilih bawa bekal atau jajan si"
Sedangkan siswa lain, Naila mengaku belum ikut karna orang tuanya masih khawatir dengan isu keracunan yang sempat ramai.
"Awalnya aku juga suka bawa MBG, tapi karna kekhawatiran orang tua yang melihat ramainya isu keracunan yang di sebar lewat media sosial, jadi aku dilarang dulu bawa MBG, jadinya dibekelin kaya biasa aja"
Reporter: Ananda Nabila Nur Atifa
Rizki Mukti, selaku operator sekolah sekaligus penanngung jawab program MBG, menjelaskan bahwa pihak sekolah terus berupaya menjaga keamanan dan kualitas makanan yang dibagikan.
"Dari awal program MBG ini sangat positif, tapi memang sempat muncul kekhawatiran karena ada isu keracunan di tempat lain. Meski begitu, kami selalu berikhtiar dengan melakukan pengecekan ulang terhadap makanan sebelum dibagikan kepada siswa"
Beragam tanggapan unik muncul dari para siswa terhadap pelaksanaan program ini. Banyak yang antusias karena merasa terbantu untuk menjaga pola makan sehat, atau menghemat uang jajan sekolah, namun ada juga yang memilih tidak ikut karena alasan pribadi atau kekhawatiran orang tua.
Salah satu siswa kelas XII, Adila Pranata, menyampaikan rasa senangnya mengikuti program tersebut.
"pertama, sangat membantu memanajemen keuangan saya, yang tadinya uang boros dipakai untuk jajan, sekarang bisa me manage untuk kebutuhan lain, dari saya sendiri tidak ada sisi negative sama sekali, soal keracunan itu hanya kekhawatiran di masakan basah, dan menu special yang paling saya suka itu burger" ujar Adila Pranata.
Berbeda dengan Rifa Fajriansyah, memilih untuk tidak ikut sejak awal karena merasa cara penyajian makanan bisa saja terkontaminasi.
"Aku sendiri aga risih melihat cara penyajiannya. Takutnya udah kena debu atau tersentuh tangan banyak orang. Aku juga lebih suka yang keringan atau system parasmanan hidangan. Jadi, saya sendiri lebih memilih bawa bekal atau jajan si"
Sedangkan siswa lain, Naila mengaku belum ikut karna orang tuanya masih khawatir dengan isu keracunan yang sempat ramai.
"Awalnya aku juga suka bawa MBG, tapi karna kekhawatiran orang tua yang melihat ramainya isu keracunan yang di sebar lewat media sosial, jadi aku dilarang dulu bawa MBG, jadinya dibekelin kaya biasa aja"
Reporter: Ananda Nabila Nur Atifa
Tidak ada komentar
Posting Komentar