Vokaloka.com, Bandung – Sejak matahari mulai meninggi, ribuan warga tumpah ruah ke jalan, menampilkan kostum unik hingga seni tradisional dalam Karnaval Desa Kopo. Diikuti oleh warga dari 13 RW (Rukun Warga), karnaval ini ditujukan untuk menjalin silaturahmi antarwarga yang menjadi tema perayaan tahun ini. Suasana itu mewarnai Desa Kopo, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, pada Sabtu lalu (13/9) yang berlangsung meriah.
Arak-arakan terlihat sepanjang rute dari Kampung Muara hingga ke pusat kegiatan di kantor Desa Kopo. Ada yang tampil dengan pakaian adat, ada pula yang mengenakan kostum kreatif. Tak ketinggalan, atraksi kuda serta penampilan kesenian tradisional khas Sunda ikut memeriahkan suasana. Dentuman musik hingga tepuk tangan penonton yang memenuhi pinggir jalan membuat karnaval ini terasa semarak sekaligus hangat.
Bagi warga, momen ini bukan hanya sekadar hiburan. Hal tersebut diungkapkan oleh seorang peserta dari RW 06, Rizki."Bagus banget, biasanya kan jarang ngobrol sama RW lain, sekarang mah bisa," Ujarnya. Hal serupa diungkapkan oleh Bu Fatma, peserta dari RW 01, "Kayak silaturahmi ke sodara-sodara jauh aja."
Lebih dari sekadar pawai, kegiatan ini juga diramaikan dengan berbagai lomba antar-RW yang menambah semangat kebersamaan. Mulai dari lomba kreasi kostum, penampilan seni, hingga unjuk kreativitas warga menjadi bagian dari rangkaian acara. Pemenang dari setiap perlombaan pun turut mendapatkan apresiasi berupa hadiah dan sertifikat dari Kepala Desa Kopo, Entang Suryana.
"Karnaval ini bukan hanya perayaan HUT RI, tapi juga wadah untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat rasa persaudaraan antarwarga Desa Kopo," ujarnya.
Entang menegaskan HUT RI, tapi juga wadah untuk mempererat silaturahmi. Ia menjelaskan bahwa acara baru bisa digelar pada September karena menyesuaikan dengan agenda desa dan kesiapan warga, sehingga pelaksanaannya tetap optimal meskipun melewati tanggal 17 Agustus.
Kebersamaan yang terjalin dalam karnaval kali ini memberi pesan bahwa semangat kemerdekaan bukan hanya dirayakan dengan simbol-simbol, melainkan juga dengan persatuan. Seperti halnya warga Desa Kopo yang menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah batas, melainkan jembatan untuk mempererat silaturahmi.
Reporter: Sabrina Nurbalqis/5B
Tidak ada komentar
Posting Komentar