Di jantung kawasan Gedebage, Kota Bandung, berdiri megah sebuah bangunan berarsitektur unik yang kini menjadi magnet baru masyarakat Jawa Barat. Masjid Al Jabbar, yang akrab disebut "Masjid Terapung", bukan sekadar rumah ibadah, tetapi juga simbol kemajuan peradaban dan keberagaman aktivitas umat.
Memasuki area masjid, pengunjung langsung disambut hamparan danau buatan yang mengelilingi bangunan utama. Air yang berkilau di bawah cahaya matahari membuat Al Jabbar terlihat seolah-olah terapung di atas permukaan. Kubah raksasa dengan desain geometris segitiga kaca menciptakan kesan futuristik, berpadu dengan nuansa Islami yang mendalam.
Di dalam masjid, suasana khidmat terasa begitu kental. Ruang utama yang mampu menampung puluhan ribu jamaah ini dihiasi interior modern tanpa meninggalkan nilai sakral. Saat azan berkumandang, gema suara muazin berpadu dengan pantulan akustik yang menambah kekhusyukan ibadah.
Namun, Masjid Al Jabbar bukan hanya tempat beribadah. Pemerintah Provinsi Jawa Barat merancangnya sebagai pusat peradaban Islam. Di dalam kompleks, terdapat museum yang menyimpan sejarah penyebaran Islam di Nusantara, ruang pendidikan, hingga fasilitas publik yang bisa diakses masyarakat. Tidak heran jika masjid ini sering menjadi tujuan wisata religi sekaligus edukasi, baik oleh warga lokal maupun wisatawan luar kota.
Bagi sebagian pengunjung, pengalaman berkunjung ke Masjid Al Jabbar menghadirkan kesan yang tak terlupakan. Siti Nurhaliza, seorang wisatawan asal Garut, mengaku sengaja datang bersama keluarganya untuk melihat langsung keindahan masjid yang sering ia lihat di media sosial. "Rasanya beda banget ketika datang langsung. Masjidnya megah sekali, suasananya tenang, dan anak-anak juga senang bisa sambil belajar sejarah Islam di museumnya," ujarnya sambil tersenyum.
Kesan serupa diungkapkan oleh Rudi, pengunjung dari Jakarta yang datang di akhir pekan. Ia menilai Masjid Al Jabbar bukan hanya sebagai destinasi ibadah, tetapi juga destinasi wisata. "Kalau biasanya kami ke Bandung untuk kuliner atau belanja, sekarang ada tujuan baru yang lebih menyejukkan hati. Apalagi pemandangan danaunya indah sekali saat sore hari," tuturnya.
Bagi para pedagang kecil di sekitar area masjid, keberadaan Al Jabbar membawa berkah tersendiri. Ibu Yayah, penjual makanan ringan, mengatakan bahwa dagangannya kini lebih cepat laku dibandingkan sebelum masjid ramai dikunjungi. "Alhamdulillah, banyak jamaah dan wisatawan yang beli jajanan atau minuman di sini. Masjid ini bukan cuma jadi tempat ibadah, tapi juga menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar," katanya.
Pedagang lain, Asep, yang menjual suvenir islami, juga merasakan hal serupa. Menurutnya, kehadiran Masjid Al Jabbar membuka peluang usaha baru bagi warga. "Banyak orang cari oleh-oleh khas Bandung atau cenderamata Islami setelah berkunjung. Jadi, kami ikut terbantu untuk menambah penghasilan," jelasnya.
Bagi warga Bandung, Masjid Al Jabbar adalah wujud nyata dari sebuah impian: memiliki ikon keagamaan dan kebudayaan yang membanggakan. Bagi jamaah yang singgah, ia adalah rumah spiritual yang menenteramkan hati. Dan bagi wisatawan, Al Jabbar adalah bukti bahwa Bandung bukan hanya kota kreatif, tetapi juga kota religius yang terus tumbuh selaras dengan zaman.
Reporter : Cantika Maesto Octavia
Tidak ada komentar
Posting Komentar