Perjalanan ini tidak dimulai dari pantai, melainkan dari sebungkus nasi padang. Sabtu malam, 1 Agustus 2026, pukul 19.30, saya berangkat bersama seorang teman menuju kostannya di kawasan Bojongloa Kidul, Kota Bandung. Di tengah jalan kami singgah membeli nasi padang, yang kemudian kami santap bersama setibanya di kostan. Setelah bersih-bersih, kami tidur. Malam itu terasa sederhana, tetapi justru itulah awal yang pas untuk perjalanan panjang keesokan harinya.
Rombongan kami berempat: saya, seorang teman, kakak perempuan saya, dan pacarnya. Kami berbagi dua motor. Saya dibonceng teman saya, sedangkan kakak saya bersama pacarnya. Tujuan kami adalah Pantai Cemara Cidamar Cidaun, yang berlokasi di Jalan Cipanglay, Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pantai di pesisir selatan ini jaraknya cukup jauh dari Bandung, dan kami sadar bahwa hari esok akan dihabiskan sebagian besar di atas jok motor.
Minggu, 2 Agustus 2026, pukul 05.00 pagi, kami mulai bergerak dari Bojongloa Kidul. Jalanan masih lengang, dan angin pagi yang dingin langsung menerpa. Belum jauh berjalan, perut saya mulas karena angin pagi. Saya hanya bisa menahannya sambil berharap sarapan segera datang. Harapan itu terwujud ketika kami tiba di Alun-Alun Ciwidey, tempat kami menyantap nasi kuning hangat sambil meluruskan badan. Suapan pertama pagi itu terasa seperti obat.
Memasuki kawasan Rancabali, perjalanan berubah menjadi lebih menyenangkan. Di setiap tikungan, tampak para fotografer yang rutin berjaga setiap akhir pekan, siap mengabadikan para pengendara yang lewat. Kami pun tergoda. Hampir di tiap tikungan, kami berpose untuk diabadikan.
Perjalanan yang seharusnya hanya berpindah tempat berubah menjadi sesi foto berantai di jalan pegunungan dan hamparan kebun teh yang sejuk. Kami tertawa-tawa, lupa bahwa tujuan sebenarnya masih jauh di depan.
Namun kesejukan itu lama-lama berubah menjadi masalah. Menjelang akhir jalur Rancabali, udara dingin mulai menusuk. Pakaian yang saya kenakan ternyata kurang layak untuk daerah sedingin itu. Tangan saya sampai membiru keunguan karena kedinginan, hingga sulit rasanya menggenggam setir motor dengan nyaman. Kami akhirnya berhenti di sebuah warung untuk memesan minuman hangat dan menghangatkan tangan, dan tentu saja berfoto sebentar lagi. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa persiapan, sekecil apa pun, menentukan kenyamanan sebuah perjalanan.
Karena terlalu santai di jalan, kami baru tiba di Pantai Cemara Cidamar Cidaun sekitar pukul 10.00, setelah lima jam berkendara dari Bojongloa Kidul. Waktu itu lebih lambat dari rencana, tetapi tidak ada yang menyesal. Kami memarkir motor, berjalan sebentar menuju loket tiket, lalu menyewa tikar. Setelah menemukan sudut yang nyaman, kami berganti pakaian dan mengabadikan suasana lewat foto dan video. Pantainya cukup bersih, dengan pasir yang halus dan lembut di telapak kaki. Di sekitar area pantai berdiri cukup banyak pohon yang daunnya bergemerisik tertiup angin, berpadu dengan aroma khas laut yang langsung terasa begitu kami melangkah mendekat.
Setelah puas berdokumentasi, kami turun bermain di tepi laut. Airnya jernih, dan ombaknya tergolong besar, bergulung lalu pecah dengan suara gemuruh yang memenuhi telinga. Angin bertiup cukup kencang hingga terasa mengelebuk, tetapi hawa panas pantai tetap menempel di kulit, perpaduan yang unik dan sulit dijelaskan. Kami bermain air, bermain pasir, dan bercanda dengan anak-anak kecil yang sedang membangun istana pasir. Tawa mereka menambah semarak siang itu dan membuat kami ikut merasa seperti anak-anak lagi.
Tidak lama kemudian, kami menemukan permainan baru: berburu kepiting-kepiting kecil di pasir basah. Kami menunduk, mengamati gerakan mereka yang gesit, lalu mencoba menangkapnya dengan tangan yang masih basah oleh air laut. Tangan saya geli ketika makhluk-makhluk mungil itu merayap di telapak tangan. Hal-hal kecil seperti ini yang jarang kami temukan di kota, dan justru yang paling mudah diingat.
Di sela bermain, kami mengisi perut. Saya dan teman saya memilih pop mie, sementara kakak saya dan pacarnya menyantap ayam penyet. Menyeruput kuah panas di tepi pantai yang berangin ternyata punya sensasi tersendiri. Makanan yang sederhana terasa istimewa karena kami menyantapnya sambil memandangi ombak yang tak pernah berhenti datang.
Di tengah keramaian itu, ada satu momen yang paling membekas bagi saya. Ketika berdiri menghadap ombak, saya merasa tenang. Di antara udara yang panas dan suara ombak yang menggemuruh, tiba-tiba terpikir bahwa mendengarkan deru laut jauh lebih menyenangkan daripada mendengarkan suara manusia. Suara ombak tidak menuntut jawaban, tidak menghakimi, dan tidak meminta saya berkata apa-apa. Saya berdiri kecil di hadapan hamparan laut, dan untuk sesaat dunia terasa sunyi meski ombak tak berhenti bersuara.
Selama di sana kami tidak sempat mengobrol panjang dengan siapa pun. Kami hanya bertemu penjaga loket, para pedagang, dan warga setempat. Namun kehadiran mereka cukup memberi rasa bahwa pantai ini hidup, bahwa di balik keindahan yang kami nikmati ada orang-orang yang setiap hari menjaga dan merawatnya.
Sekitar pukul 15.00, setelah mandi dan berganti pakaian, kami memulai perjalanan pulang. Di kawasan Cidaun, jalan menanjak dan berkelok membentuk huruf S. Motor saya sempat tidak kuat menanjak. Ada rasa tegang yang menumpuk selama beberapa saat, sampai akhirnya motor berhasil melewati tanjakan itu. Begitu berhasil, saya menangis karena campuran lelah, tegang, dan lega.
Kami berhenti cukup lama di sebuah Alfamart, menunggu saya selesai menangis dan tenang kembali. Tidak ada yang mengeluh atau tergesa-gesa. Momen itu menunjukkan bahwa dalam perjalanan bersama, kesabaran teman seperjalanan sama pentingnya dengan tujuannya.
Setelah empat jam di jalan, sekitar pukul 19.00 kami tiba di rumah pacar kakak saya di kawasan Cimindi. Malam itu kami menutup hari dengan semangkuk cuanki yang rasanya luar biasa nikmat, terasa lebih nikmat karena datang setelah hari yang panjang dan melelahkan. Setelah itu kami tidur, dan badan yang pegal seakan mendapat hadiah terbaiknya.
Keesokan paginya, Senin, 3 Agustus 2026, kami sarapan terlebih dahulu. Pukul 10.00 kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah di daerah Nagreg, yang saya capai sekitar pukul 12.00 siang, dua jam kemudian. Perjalanan panjang itu pun resmi berakhir, meninggalkan badan yang lelah tetapi kepala yang penuh cerita.
Perjalanan ke Pantai Cemara Cidamar Cidaun mengajarkan saya bahwa sebuah tujuan tidak berdiri sendiri. Ia dibentuk oleh nasi padang di malam sebelumnya, tangan yang membiru di Rancabali, tawa anak-anak di tepi pantai, dan air mata di tanjakan Cidaun. Pantainya indah, tetapi yang membuat perjalanan ini autentik adalah semua yang terjadi di antaranya.
Reporter : Dewi Puji Astuti
Tidak ada komentar
Posting Komentar