Jumat sore, perjalanan menuju Gunung Ciremai akhirnya dimulai. Setelah semua perlengkapan dirasa cukup, kami langsung berangkat menuju lokasi pendakian. Pendakian kali ini dilakukan dengan sistem tektok, jadi tidak membawa tenda dan tidak berencana untuk menginap di gunung. Walaupun begitu, perlengkapan seperti jaket, air minum, makanan, dan senter tetap harus dibawa. Dari awal perjalanan sebenarnya sudah terasa capek, tetapi rasa penasaran untuk melihat pemandangan dari atas membuat kami tetap semangat.
Perjalanan menuju lokasi cukup memakan waktu. Hari mulai gelap ketika kami semakin mendekati kawasan Gunung Ciremai. Setelah sampai, kami tidak langsung berjalan karena masih harus mempersiapkan barang dan mengecek kembali perlengkapan yang dibawa. Udara di sekitar lokasi juga terasa lebih dingin dibandingkan saat masih di perjalanan. Setelah semuanya siap, kami akhirnya mulai berjalan. Saat itu suasana sudah malam dan penerangan hanya mengandalkan senter atau headlamp yang dibawa masing-masing.
Di awal pendakian, langkah masih terasa ringan karena tenaga masih banyak. Kami berjalan sambil sesekali mengobrol dan bercanda untuk menghilangkan rasa tegang. Namun, semakin lama jalur yang dilewati mulai terasa lebih berat. Tanjakan yang terus menerus membuat napas mulai tidak teratur dan kaki mulai terasa pegal. Beberapa kali kami berhenti untuk minum dan mengatur napas. Setelah cukup beristirahat, perjalanan dilanjutkan lagi karena masih banyak jalur yang harus dilewati.
Malam semakin larut dan rasa lelah mulai terasa. Beberapa kali muncul keinginan untuk berhenti lebih lama, apalagi ketika melihat tanjakan yang masih harus dilewati. Namun, kalau terlalu lama berhenti, badan malah terasa semakin dingin dan berat untuk kembali berjalan. Akhirnya kami memilih untuk berjalan secara perlahan, yang penting tetap bergerak. Dalam kondisi seperti itu, kami hanya fokus pada langkah yang ada di depan tanpa terlalu memikirkan seberapa jauh lagi perjalanan yang harus ditempuh.
Setelah berjalan cukup lama, suasana mulai terasa lebih sepi. Suara yang paling sering terdengar hanya langkah kaki dan suara napas sendiri. Sesekali ada pendaki lain yang melewati kami atau sebaliknya. Rasa kantuk juga mulai muncul karena waktu sudah semakin malam. Tetapi keinginan untuk melihat matahari terbit membuat kami terus melanjutkan perjalanan. Rasanya sayang kalau sudah sejauh ini tetapi harus berhenti sebelum sampai di tempat yang dituju.
Menjelang pagi, perubahan suasana mulai terasa. Langit yang sebelumnya gelap perlahan mulai sedikit terang. Kami kemudian mencari tempat yang cukup nyaman untuk berhenti dan menikmati suasana pagi. Saat cahaya mulai muncul, pemandangan di sekitar gunung perlahan terlihat. Dari tempat kami berada, terlihat hamparan awan yang cukup luas di bawah. Saat itu kami baru sadar kalau perjalanan sepanjang malam yang melelahkan ternyata memberikan pemandangan seperti ini.
Lautan awan terlihat seperti hamparan putih yang sangat luas. Beberapa bagian gunung masih terlihat di antara awan, sementara cahaya matahari mulai mengenai permukaannya. Kami langsung mengeluarkan handphone untuk mengambil beberapa foto. Walaupun hasil fotonya belum tentu sebagus apa yang terlihat langsung, tetap saja rasanya ingin mengabadikan momen tersebut. Setelah berjam-jam berjalan dalam keadaan gelap, melihat pemandangan seperti itu membuat rasa lelah sedikit terlupakan.
Kami tidak terlalu lama berada di atas karena perjalanan masih harus dilanjutkan ke bawah. Pendakian yang dilakukan dengan sistem tektok membuat kami tidak bisa santai terlalu lama. Setelah cukup menikmati pemandangan dan mengambil foto, kami mulai bersiap untuk turun. Saat perjalanan turun, kondisi jalur sudah bisa terlihat dengan jelas karena hari sudah pagi. Ternyata jalur yang dilewati saat malam cukup panjang dan beberapa bagiannya terlihat lebih menantang ketika dilihat dari siang hari.
Perjalanan turun juga cukup menguras tenaga. Kaki yang sudah lelah sejak malam harus kembali digunakan untuk berjalan melewati jalur yang panjang. Beberapa kali kami berhenti untuk minum dan beristirahat. Bedanya, perjalanan turun terasa sedikit lebih santai karena tujuan utama sudah tercapai. Kami juga sesekali membicarakan pemandangan yang tadi dilihat dari atas. Rasa capek masih ada, tetapi ada kepuasan tersendiri karena akhirnya bisa melihat lautan awan secara langsung.
Setelah berjalan beberapa jam, akhirnya kami sampai kembali di titik awal pendakian. Rasanya lega ketika perjalanan akhirnya selesai. Barang yang dibawa langsung diturunkan dan kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Badan terasa capek, kaki pegal, dan rasa kantuk juga sudah tidak bisa ditahan. Namun, semua itu terasa cukup sepadan dengan pengalaman yang didapat selama perjalanan.
Perjalanan tektok ke Gunung Ciremai ini menjadi salah satu pengalaman yang cukup berkesan. Berangkat pada Jumat sore dan berjalan sepanjang malam memang bukan hal yang mudah. Ada rasa capek, dingin, mengantuk, bahkan beberapa kali ingin menyerah karena jalurnya terasa berat. Tetapi setelah sampai dan melihat lautan awan di pagi hari, semua rasa lelah itu seperti terbayar. Dari perjalanan ini saya jadi paham bahwa mendaki bukan hanya soal sampai di puncak, tetapi juga tentang menikmati proses dan pengalaman selama perjalanan.
Reporter: Ariq Fakhri Manggala/KPI 5B

Tidak ada komentar
Posting Komentar