Sosok Ceria di Balik Semangat Literasi Jawa Barat

Bagikan :
X

Vokaloka, Bandung - Di antara ramainya aktivitas literasi di Dispusipda Jawa Barat, ada satu sosok yang hampir selalu berhasil mencuri perhatian: Kiki Riana. Perempuan berkacamata dengan senyum ramah ini selalu hadir di berbagai kegiatan, mulai dari program edukasi sampai pendampingan pengunjung. Aura hangatnya bikin suasana perpustakaan terasa lebih dekat dan bersahabat, terutama bagi pengunjung yang baru pertama kali datang.

Lahir di Banjarmasin pada 7 Maret 1967, perjalanan Kiki menuju dunia perpustakaan sebenarnya cukup unik. Beliau adalah lulusan bidang Hukum Pidana di Sekolah Tinggi Hukum Bandung (STHB) dan menyelesaikan studinya pada tahun 1990. Meski tidak berasal dari disiplin ilmu perpustakaan, langkahnya menuju dunia literasi justru menjadi perjalanan panjang penuh dedikasi yang jarang dimiliki orang lain.

Kiki mulai bergabung dengan Dispusipda Jawa Barat pada 1993. Sejak itu, beliau menjadi saksi bagaimana perpustakaan terus berkembang baik dari sisi pelayanan, program literasi, maupun fasilitas. Perubahan demi perubahan itu tidak hanya beliau amati, tapi juga beliau dampingi, sehingga banyak orang mengenal Kiki bukan hanya sebagai pustakawan, melainkan sebagai bagian dari identitas Dispusipda itu sendiri.

Salah satu peran yang membuat namanya begitu melekat adalah keterlibatannya sebagai koordinator dan narahubung Wisata Literasi Dispusipda. Program ini mengajak masyarakat, khususnya anak-anak dan pelajar, untuk mengenal literasi dan dunia perpustakaan lewat pengalaman langsung. Dalam setiap kegiatan, Bu Kiki selalu tampil ceria, komunikatif, dan dengan gaya penyampaian yang mudah dimengerti siapa saja.

Bagi banyak pengunjung, Kiki adalah sosok yang membuat perpustakaan terasa hidup. Beliau selalu memastikan setiap kegiatan berjalan lancar, mulai dari persiapan sampai penyambutan peserta. Bahkan ketika kondisi sedang ramai dan penuh peserta, gestur baiknya tidak pernah luntur tetap tersenyum, tetap sigap, dan tetap menghadirkan suasana yang menyenangkan.

Energi positif yang beliau bawa inilah yang membuat banyak orang merasa dekat. Tidak sedikit pengunjung, terutama anak-anak, yang kemudian mengenal perpustakaan bukan hanya sebagai tempat buku, tapi sebagai ruang yang hangat, aman, dan seru berkat cara Kiki membangun interaksi. Dedikasinya perlahan membentuk budaya literasi yang lebih ramah di Jawa Barat.

Lebih dari tiga dekade bekerja, Kiki bukan hanya menjalankan tugas sebagai pustakawan, tapi juga menjadi inspirasi bahwa bekerja dengan hati bisa membawa dampak besar. Ketulusannya terlihat dalam hal-hal sederhana: menyapa, menjelaskan dengan sabar, atau sekadar memastikan semua pengunjung merasa diterima. Dari situlah banyak orang memahami bahwa literasi tumbuh dari interaksi manusia, bukan hanya dari tumpukan buku.

Kini, setelah puluhan tahun mengabdi, jejak Kiki tersimpan di banyak memori pengunjung, program, dan ruang-ruang perpustakaan. Dedikasinya menunjukkan bahwa literasi tidak lahir dari teori semata, tetapi dari orang-orang yang mau menyalakan semangat itu setiap hari. Dan Kiki adalah salah satu di antaranya sosok ceria yang menyalakan cahaya literasi Jawa Barat dengan cara yang paling tulus.

Reporter: Fereel Muhamad Irsyad A,  KPI/5A

Tidak ada komentar

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka