Vokaloka.com - Setiap kali banjir besar melanda negeri ini, pola respons para pemangku kebijakan kita hampir selalu bisa ditebak. Kalau tidak menyalahkan "curah hujan yang ekstrem", ya menyalahkan "takdir Tuhan". Seolah-olah Tuhan punya hobi menenggelamkan hamba-Nya, dan pemerintah hanyalah penonton tak berdaya yang cuma bisa bagi-bagi nasi bungkus saat air sudah setinggi atap.
Bencana banjir yang baru saja meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir-akhir ini terlihat sangat mencekam. Pejabat berbondong-bondong bilang ini "cobaan". Padahal, kalau kita mau jujur sedikit saja, banjir ini bukan sekadar urusan air jatuh dari langit. Ini adalah kolaborasi apik antara anomali alam yang mengerikan dan keserakahan manusia yang tak tahu diri.
Mari kita bedah pelan-pelan sambil menyeruput kopi, biar tidak darah tinggi.
Tamparan dari Selat Malaka: Siklon yang Harusnya Mustahil
Satu hal yang bikin banjir Sumatera kali ini beda dari biasanya adalah biang keroknya: Siklon Tropis Senyar.
Bagi yang awam meteorologi, kemunculan siklon ini di Selat Malaka itu ibarat melihat salju turun di Jakarta. Ajaib, langka, dan mengerikan. Kenapa? Karena secara teori, Indonesia itu ada di garis khatulistiwa, zona yang harusnya aman sentosa dari badai siklon.
Supaya siklon bisa terbentuk, dia butuh mesin penggerak yang namanya Gaya Coriolis. Ini gaya yang muncul akibat rotasi bumi. Bayangkan gaya Coriolis ini seperti setir mobil. Di lintang tinggi (jauh dari khatulistiwa), setirnya pakem, jadi angin bisa dibelokkan sampai muter kencang membentuk badai. Tapi, makin dekat ke khatulistiwa, gaya ini makin lemah, alias setirnya blong mendekati nol. Makanya, angin di ekuator itu harusnya cuma lewat lurus-lurus saja, tidak bisa nge-drift belok-belok jadi siklon mematikan.
Tapi, alam punya caranya sendiri untuk menampar logika kita. Meski "setirnya" blong, Siklon Senyar tetap jadi. Kok bisa?
Jawabannya: Laut kita sedang "demam tinggi".
Data BMKG menunjukkan ada fenomena anomali yang disebut Indian Ocean Dipole (IOD) negatif. Singkatnya, suhu muka laut di barat Sumatera memanas gila-gilaan, tembus anomali 1 sampai 3 derajat Celcius di atas normal, mencapai angka 30°C lebih. Laut yang mendidih ini menyuplai uap air bahan bakar badai dalam jumlah yang tidak masuk akal.
Jadi, walaupun mesin penggeraknya (Coriolis) lemah, karena bahan bakarnya (uap panas) melimpah ruah, ditambah dorongan angin dingin dari Asia, jadilah Siklon Senyar. Dia bukan cuma badai biasa, dia "terjebak" dan berputar-putar di tempat yang sama, menumpahkan hujan sebulan dalam sehari (380 mm!) di Aceh Tamiang dan Langsa.
Hujan adalah Pemicu, Kerusakan Lingkungan adalah Senjatanya
Memang benar hujannya sangat ekstrem. Siklonnya memang anomali. Tapi apakah itu satu-satunya alasan kenapa air bisa naik setinggi 3 meter dalam 90 menit, persis seperti "tsunami sungai" yang diceritakan para korban?.
Tentu tidak, hujan itu ibarat air yang dituang ke spons. Kalau sponsnya utuh (hutan lebat), airnya diserap. Tapi kalau sponsnya sudah diganti jadi beton atau tanah gundul yang padat, airnya ya lari ke mana-mana.
Data satelit tidak bisa bohong. Di tahun 2025 ini saja, deforestasi di Aceh, Sumut, dan Sumbar melonjak tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Hutan yang dulu jadi benteng penahan air kini sudah botak, berganti jadi perkebunan sawit dan lubang tambang.
Ketika hujan dari Siklon Senyar tumpah, tanah di bawahnya sudah kehilangan kemampuan menyerap air. Sungai-sungai di Sumatera sudah dangkal karena sedimentasi lumpur tambang. Akibatnya? Air hujan itu tidak meresap ke tanah, tapi langsung meluncur deras ke pemukiman warga, membawa serta gelondongan kayu hasil tebangan.
Kambing Hitam Bernama "Tambang Ilegal"
Lucunya, ketika bencana sudah kejadian, narasi yang dibangun pemerintah seringkali meleset. Menteri ESDM kita, Pak Bahlil, sibuk menyisir "tambang ilegal" dan bilang kalau tambang besar seperti Martabe itu letaknya di sungai kecil, jadi bukan biang kerok utama.
Ini logika yang menggelitik. Memangnya air sungai punya sekat-sekat? Air dari sungai kecil itu mengalirnya ke sungai besar juga. Lagipula, kerusakan hutan itu sifatnya akumulatif, mau yang nebang itu penambang liar atau perusahaan legal berizin resmi, efeknya ke tanah sama saja: rusak. Bedanya, yang satu dicap sebagai kriminal, yang satu dilindungi undang-undang (dan mungkin bekingan).
Kerugian ekonomi akibat banjir ini ditaksir mencapai Rp 68 triliun. Angka yang jauh lebih besar daripada remah-remah pendapatan negara dari sektor tambang di daerah itu. Jadi sebenarnya, kita ini sedang "nombok" demi memuaskan nafsu keruk-mengeruk bumi.
Berhenti Menyalahkan Langit
Siklon Senyar memang fenomena alam yang langka. Tapi dampak mematikannya adalah hasil karya manusia. Siklon itu mungkin sudah mati dan punah di atmosfer , tapi "siklon" keserakahan di daratan masih terus berputar.
Selama kita masih mengizinkan hutan dibabat demi sawit dan gunung dikeruk demi emas, jangan kaget kalau "anomali" seperti ini bakal jadi "normal baru". Siklon Senyar adalah alarm keras. Alam sudah memberi peringatan: kalau kita terus merusak "rumah" tempat kita bernaung, jangan marah kalau atapnya bocor dan menenggelamkan kita semua.
Dan tolong, Bapak Ibu pejabat, berhenti bilang ini semata-mata takdir. Takdir itu urusan Tuhan, tapi izin tambang dan HGU sawit di hulu sungai itu tanda tangan kalian.
Penulis: Desy Windayani Budi Artik
Bencana banjir yang baru saja meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir-akhir ini terlihat sangat mencekam. Pejabat berbondong-bondong bilang ini "cobaan". Padahal, kalau kita mau jujur sedikit saja, banjir ini bukan sekadar urusan air jatuh dari langit. Ini adalah kolaborasi apik antara anomali alam yang mengerikan dan keserakahan manusia yang tak tahu diri.
Mari kita bedah pelan-pelan sambil menyeruput kopi, biar tidak darah tinggi.
Tamparan dari Selat Malaka: Siklon yang Harusnya Mustahil
Satu hal yang bikin banjir Sumatera kali ini beda dari biasanya adalah biang keroknya: Siklon Tropis Senyar.
Bagi yang awam meteorologi, kemunculan siklon ini di Selat Malaka itu ibarat melihat salju turun di Jakarta. Ajaib, langka, dan mengerikan. Kenapa? Karena secara teori, Indonesia itu ada di garis khatulistiwa, zona yang harusnya aman sentosa dari badai siklon.
Supaya siklon bisa terbentuk, dia butuh mesin penggerak yang namanya Gaya Coriolis. Ini gaya yang muncul akibat rotasi bumi. Bayangkan gaya Coriolis ini seperti setir mobil. Di lintang tinggi (jauh dari khatulistiwa), setirnya pakem, jadi angin bisa dibelokkan sampai muter kencang membentuk badai. Tapi, makin dekat ke khatulistiwa, gaya ini makin lemah, alias setirnya blong mendekati nol. Makanya, angin di ekuator itu harusnya cuma lewat lurus-lurus saja, tidak bisa nge-drift belok-belok jadi siklon mematikan.
Tapi, alam punya caranya sendiri untuk menampar logika kita. Meski "setirnya" blong, Siklon Senyar tetap jadi. Kok bisa?
Jawabannya: Laut kita sedang "demam tinggi".
Data BMKG menunjukkan ada fenomena anomali yang disebut Indian Ocean Dipole (IOD) negatif. Singkatnya, suhu muka laut di barat Sumatera memanas gila-gilaan, tembus anomali 1 sampai 3 derajat Celcius di atas normal, mencapai angka 30°C lebih. Laut yang mendidih ini menyuplai uap air bahan bakar badai dalam jumlah yang tidak masuk akal.
Jadi, walaupun mesin penggeraknya (Coriolis) lemah, karena bahan bakarnya (uap panas) melimpah ruah, ditambah dorongan angin dingin dari Asia, jadilah Siklon Senyar. Dia bukan cuma badai biasa, dia "terjebak" dan berputar-putar di tempat yang sama, menumpahkan hujan sebulan dalam sehari (380 mm!) di Aceh Tamiang dan Langsa.
Hujan adalah Pemicu, Kerusakan Lingkungan adalah Senjatanya
Memang benar hujannya sangat ekstrem. Siklonnya memang anomali. Tapi apakah itu satu-satunya alasan kenapa air bisa naik setinggi 3 meter dalam 90 menit, persis seperti "tsunami sungai" yang diceritakan para korban?.
Tentu tidak, hujan itu ibarat air yang dituang ke spons. Kalau sponsnya utuh (hutan lebat), airnya diserap. Tapi kalau sponsnya sudah diganti jadi beton atau tanah gundul yang padat, airnya ya lari ke mana-mana.
Data satelit tidak bisa bohong. Di tahun 2025 ini saja, deforestasi di Aceh, Sumut, dan Sumbar melonjak tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Hutan yang dulu jadi benteng penahan air kini sudah botak, berganti jadi perkebunan sawit dan lubang tambang.
Ketika hujan dari Siklon Senyar tumpah, tanah di bawahnya sudah kehilangan kemampuan menyerap air. Sungai-sungai di Sumatera sudah dangkal karena sedimentasi lumpur tambang. Akibatnya? Air hujan itu tidak meresap ke tanah, tapi langsung meluncur deras ke pemukiman warga, membawa serta gelondongan kayu hasil tebangan.
Kambing Hitam Bernama "Tambang Ilegal"
Lucunya, ketika bencana sudah kejadian, narasi yang dibangun pemerintah seringkali meleset. Menteri ESDM kita, Pak Bahlil, sibuk menyisir "tambang ilegal" dan bilang kalau tambang besar seperti Martabe itu letaknya di sungai kecil, jadi bukan biang kerok utama.
Ini logika yang menggelitik. Memangnya air sungai punya sekat-sekat? Air dari sungai kecil itu mengalirnya ke sungai besar juga. Lagipula, kerusakan hutan itu sifatnya akumulatif, mau yang nebang itu penambang liar atau perusahaan legal berizin resmi, efeknya ke tanah sama saja: rusak. Bedanya, yang satu dicap sebagai kriminal, yang satu dilindungi undang-undang (dan mungkin bekingan).
Kerugian ekonomi akibat banjir ini ditaksir mencapai Rp 68 triliun. Angka yang jauh lebih besar daripada remah-remah pendapatan negara dari sektor tambang di daerah itu. Jadi sebenarnya, kita ini sedang "nombok" demi memuaskan nafsu keruk-mengeruk bumi.
Berhenti Menyalahkan Langit
Siklon Senyar memang fenomena alam yang langka. Tapi dampak mematikannya adalah hasil karya manusia. Siklon itu mungkin sudah mati dan punah di atmosfer , tapi "siklon" keserakahan di daratan masih terus berputar.
Selama kita masih mengizinkan hutan dibabat demi sawit dan gunung dikeruk demi emas, jangan kaget kalau "anomali" seperti ini bakal jadi "normal baru". Siklon Senyar adalah alarm keras. Alam sudah memberi peringatan: kalau kita terus merusak "rumah" tempat kita bernaung, jangan marah kalau atapnya bocor dan menenggelamkan kita semua.
Dan tolong, Bapak Ibu pejabat, berhenti bilang ini semata-mata takdir. Takdir itu urusan Tuhan, tapi izin tambang dan HGU sawit di hulu sungai itu tanda tangan kalian.
Penulis: Desy Windayani Budi Artik
1 komentar
Tulisan berbobot nih! Suka banget gimana cara ngebedah istilah-istilah meteorologi jadi bahasa manusia sehari-hari. Edukatif tapi gak bikin pusing. Ditunggu bahasan fenomena alam lainnya ya!
Posting Komentar