Sore Habis Hujan, Semangkuk Misoa di Bandung

Bagikan :
X


Sore itu Bandung baru selesai hujan. Udara dingin masih nempel, jaket belum pengin dilepas. Saya masuk ke The Misoa Story cabang Bandung, cari tempat duduk yang nggak terlalu ramai. Niatnya cuma satu, makan dengan tenang.

Saya pesan misoa original dengan telur setengah matang, dimsum, dan es teh manis. Misoa datang lebih dulu, masih ngebul. Dimsum menyusul beberapa menit kemudian. Saya biarkan semuanya ada di meja dulu. Mangkuk misoa, piring dimsum, dan segelas es teh manis yang dinginnya langsung kelihatan. Baru setelah lengkap, saya mulai makan.

Sendokan pertama misoa langsung kena telur. Kuningnya pecah, pelan, nyatu ke kuah. Rasanya jadi lebih gurih, tapi tetap ringan. Misoanya lembut, gampang putus, cocok dimakan pelan-pelan. Habis beberapa sendok, saya ambil dimsum. Masih hangat, kulitnya lembut, isinya padat. Setelah itu balik lagi ke misoa. Saya makan bergantian, tanpa urutan khusus, ngikutin mood aja.

Sesekali saya minum es teh manis. Dingin, manisnya pas, jadi jeda di antara makanan hangat. Anehnya, justru itu yang bikin semuanya seimbang. Nggak bikin enek, nggak bikin kaget. Semuanya jalan bareng.

Di sekitar saya, orang datang dan pergi. Ada yang makan cepat, ada yang sibuk ngobrol. Saya sendiri duduk agak lama. Nggak ada yang dikejar. Makanannya sederhana, tapi bikin nyaman. Bukan yang langsung bikin terkesan, tapi pelan-pelan bikin betah.

Selesai makan, saya duduk sebentar. Perut kenyang, badan hangat, pikiran lebih tenang. The Misoa Story sore itu bukan cuma soal misoa atau dimsum. Tapi soal waktu yang diambil pelan-pelan, di kota yang biasanya serba cepat.

 

Penulis: Muhammad Azril H, KPI/5A

Tidak ada komentar

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka