Sore itu, aroma bawang tumis menyeruak dari sebuah kamar kos di kawasan Buah Batu, Bandung. Kompor kecil menyala di sudut ruangan, sementara seorang mahasiswa tampak sibuk mengaduk mi instan yang dicampur potongan sosis dan telur. Ia adalah Fereel, mahasiswa semester lima Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dengan celana pendek dan kaus lusuh, ia tampak santai menyiapkan makan malam di tengah sempitnya kamar berukuran 3x3 meter itu.
"Kalau tanggal segini, masak sendiri jadi penyelamat," ucapnya sambil tertawa kecil. Di meja belajarnya, hanya tersisa satu bungkus mi instan, sebutir telur, dan sedikit sosis yang sudah dipotong kecil. Bagi Fereel, memasak bukan cuma soal mengisi perut, tapi strategi bertahan hidup di akhir bulan. "Sekarang kalau beli makan di luar bisa habis 20 ribu sekali makan. Kalau masak, ya 10 ribu udah kenyang," ujarnya.
Fenomena anak kos seperti Fereel bukan hal baru, tetapi kini semakin terasa relevan di tengah naiknya harga bahan makanan dan ongkos hidup di kota besar. Berdasarkan survei Katadata Insight Center (2023), sekitar 74% mahasiswa di Indonesia menerapkan gaya hidup hemat, dan salah satu bentuk paling umum adalah memasak sendiri di kos. "Nggak cuma hemat sih, tapi juga bikin ngerasa mandiri. Kayak belajar hidup beneran aja," kata Fereel sambil menyiapkan piring.
Peralatan masak Fereel sederhana: kompor portable, wajan kecil, dan satu rice cooker yang multifungsi. Semua disusun rapi di pojok kamar dekat jendela. Meski sempit, ia sudah hafal setiap sudutnya. "Kadang kalau mau masak harus geser meja belajar dulu. Tapi udah kebiasaan, malah jadi seru," ujarnya sambil menuang mi ke piring plastik.
Masak di kos bagi Fereel juga punya makna lain: bentuk refleksi kecil dari perjuangan hidup anak rantau. "Dulu waktu baru ngekos, sering ngeluh karena capek kuliah, capek tugas. Tapi lama-lama masak itu jadi hiburan juga," katanya. Kadang, di tengah malam ia menyalakan kompor hanya untuk membuat teh hangat sambil memutar lagu dari ponsel. "Rasanya tenang aja, kayak di rumah," tambahnya pelan.
Dalam kesehariannya, Fereel sering bereksperimen dengan bahan seadanya. Dari nasi goreng sosis, tumis kangkung, sampai tahu crispy bumbu pedas, all made in kos. Ia mengaku sering mencari ide dari TikTok atau YouTube, lalu menyesuaikannya dengan bahan yang ada. "Biasanya yang simpel aja. Tapi kalau lagi tanggal muda, baru deh coba masak yang ribet dikit," katanya sambil tersenyum.
Meski terlihat sederhana, aktivitas kecil seperti memasak ini justru mengajarkan banyak hal padanya. Tentang manajemen waktu, kesabaran, dan menghargai proses. "Kadang gagal, gosong, atau rasanya aneh banget. Tapi di situ justru belajar. Kayak hidup aja, harus sabar dan nyoba lagi," ucapnya.
Sore itu, setelah mi instannya matang, Fereel menata piring di atas meja belajar yang juga berfungsi sebagai meja makan. Ia duduk bersila di lantai, menatap hasil masakannya sejenak, lalu berkata pelan, "Nggak mewah, tapi hasil kerja sendiri. Itu yang bikin puas."
Di tengah sempitnya kamar kos, dengan aroma bawang dan bunyi hujan di luar, tampak jelas arti perjuangan seorang mahasiswa muda: sederhana tapi tulus. Masak di kos bukan sekadar urusan perut, melainkan bagian dari proses bertumbuh tentang belajar mandiri, bertahan, dan menemukan makna syukur dari hal-hal kecil dalam hidup sehari-hari.
Reporter: Azzam Kusuma M, KPI 5/B
1 komentar
Benerr, skill masak adalah basic skill yg harus dimiliki anak kost
Posting Komentar