Pagi itu langit Bandung terlihat cerah. Di teras depan kelas, beberapa mahasiswa tampak sibuk memotret teman-temannya. Namun, tak ada suara klik dari kamera ponsel yang terdengar justru bunyi khas dari kamera digital saku berwarna hitam yang terlihat lawas. Cahaya matahari yang tipis memunculkan hasil jepretan dengan tone hangat dan sedikit grain sebuah karakter yang kini kembali digemari anak muda.
Salah satu dari mereka, Lutfia Rahma, terlihat memegang kamera kecil Canon PowerShot yang tampak sudah usang di bagian tepinya. Ia tersenyum kecil saat melihat hasil jepretan. "Awalnya aku tertarik lagi sama digicam tuh gara-gara sering lihat di TikTok," katanya sambil tersenyum. Kamera yang ia gunakan bukan barang baru. Ia sudah memilikinya sejak duduk di bangku SMP, tapi sempat tersimpan lama karena dianggap kuno.
Lutfia memakai kamera itu untuk berbagai kegiatan sehari-hari mulai dari hangout bersama teman, acara kampus, hingga jalan malam. Baginya, setiap momen jadi lebih berkesan ketika diabadikan dengan digicam. Tren penggunaan kamera digital klasik kini memang kembali marak di kalangan Gen Z. Di media sosial, tagar seperti #digicam dan #retroaesthetic ramai menampilkan hasil foto dengan tone hangat, flash terang, dan efek blur yang justru dianggap estetik. Bagi banyak anak muda, keunikan hasil foto inilah yang membuat digicam berbeda dari kamera ponsel modern.
Menurut Lutfia, ada alasan sederhana mengapa generasinya kembali melirik kamera saku yang dulu ditinggalkan. "Gen Z itu suka banget hal-hal yang estetik dan vintage kayak kembali lagi ke masa 90-an," ujarnya. Selain karena hasil gambarnya, pengalaman menggunakan digicam juga memberi sensasi tersendiri. "Kalau pakai kamera HP kan semuanya cepat banget, hasilnya langsung kelihatan sempurna," katanya. "Tapi kalau digicam, justru karena nggak sempurna itu yang bikin memorable. Kadang warnanya aneh, kadang terlalu terang, tapi malah itu yang bikin lucu dan beda."
Bagi Lutfia, memotret dengan digicam membuatnya lebih menikmati momen. Ia menyebutnya sebagai bentuk "slow living" cara sederhana untuk memperlambat ritme hidup di tengah dunia digital yang serba cepat. "Rasanya tuh lebih menikmati aja," katanya.
Tren ini juga berdampak pada pasar barang bekas. Di sejumlah platform daring, kamera digital lawas kini diburu banyak orang. Harga Canon IXUS atau Sony CyberShot keluaran tahun 2000-an bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat dibanding lima tahun lalu. Beberapa toko kamera di Bandung bahkan mulai menata ulang etalase khusus untuk digicam bekas yang kini dianggap "ikon nostalgia".
Dari sisi sosial-budaya, kebangkitan digicam ini bukan hanya tentang fotografi, tetapi juga tentang identitas. Generasi yang lahir di tengah gempuran selfie culture dan konten digital serba cepat, kini berusaha mengembalikan makna dokumentasi ke akar yang lebih personal. Foto tidak lagi sekadar alat pamer, tetapi ruang ekspresi diri yang lebih jujur.
Menariknya, Lutfia tak melihat tren ini hanya sebagai gaya sesaat. Ia menganggap penggunaan digicam sudah menjadi bagian dari kesehariannya. "Buat aku pribadi, digicam udah jadi bagian dari gaya hidup. Aku bukan cuma pengen ikut tren, tapi pengen dokumentasiin hidup aku dengan cara yang lebih personal," ujarnya. "Aku suka vibe-nya yang unik dan vintage."
Lutfia menatap layar digicam-nya sekali lagi. Temannya baru saja berpose di depan pintu kelas, sambil tertawa canggung. Ia menekan tombol shoot dan hasilnya langsung muncul di layar kecil itu: tampak sederhana, tapi jujur. Di tengah dunia digital yang serba cepat dan serba sempurna, kehadiran kembali kamera digital klasik menjadi cara baru generasi muda untuk memaknai kenangan. Digicam bukan sekadar alat nostalgia, tetapi juga simbol dari keinginan untuk menikmati momen secara lebih lambat dan lebih jujur.
Reporter: Kahla Qolbiani Rasyad, KPI 5 B
2 komentar
Riill, harga digicam beberapa tahun belakang melonjak naik, tapi sangat wajar bahkan memang sudah seharusnya, karena hasil dari jepretan digicam bener bener membawa perasaan nostalgia
Posting Komentar