Dari Malari ke Iqro, Jejak Perjalanan Hairel Khaliq CH Jaga Literasi

Bagikan :
X

Bandung – Di sebuah kios kecil samping pagar Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, seorang pria berusia 67 tahun tampak sibuk merapikan buku di rak. Rambutnya mulai memutih, namun matanya masih berbinar ketika berbicara tentang membaca. Seseorang itu Hairel Khaliq CH, pemilik toko buku Iqro, tempat mahasiswa bisa membaca gratis tanpa harus membeli.
"Silakan, yang segel pun boleh dibuka. Supaya mahasiswa bisa baca, bisa pintar," katanya.
Bagi Hairel, kiosnya bukan sekadar tempat berjualan, tetapi ruang belajar kecil.
Kecintaannya pada bacaan tumbuh sejak remaja. Ia masih ingat jelas peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974, ketika mahasiswa Jakarta turun ke jalan menolak kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka. "Sejak Malari itu, saya makin rajin baca koran, ngikuti politik. Rame sekali waktu itu," ucapnya.
Dari situ, Hairel terbiasa membaca apa saja. Saat merantau ke Bandung, kakaknya yang menjadi agen majalah Islam membuatnya semakin dekat dengan dunia literasi. Majalah Panji Masyarakat, Tempo, hingga Qiblat, semua pernah ia edarkan.
"Itu majalah keren dulu, bukan abal-abal," ujarnya bangga.
Tahun 1983, Hairel mulai kuliah di IAIN Bandung jurusan Pendidikan Agama Islam. Sambil kuliah, ia menyewa kamar kos yang kebetulan menghadap jalan. Dari situlah lahir ide membuka kios buku kecil.
"Awalnya iseng saja, tapi terus berjalan sampai sekarang," ucapnya.
Lokasi kios sempat berpindah. Dahulu ia berjualan di depan Bank BRI dengan sewa Rp75 ribu setahun. Namun, harga sewa yang melonjak hingga jutaan rupiah membuatnya pindah ke kios sederhana yang sekarang ia tempati di samping pagar UIN Bandung. Meski sederhana, toko itu memiliki ciri khas yaitu membaca boleh gratis.
"Itu sesuai dengan perintah Allah, iqro, baca dulu," ungkapnya.
Perjalanan panjang itu tidak selalu mulus. Pandemi Covid-19 menjadi masa tersulit. Selama dua tahun kampus tutup, mahasiswa pulang ke kampung, dan penjualan buku nyaris berhenti. Hingga kini, kata Hairel, kebiasaan mahasiswa lebih banyak berpindah ke handphone.
"Mahasiswa UIN ada 20 ribu, tapi yang datang ke sini paling satu dua orang per hari," keluhnya.
Ia juga menyayangkan minimnya dosen yang mewajibkan mahasiswa untuk membaca buku cetak.
"Kalau baca di HP itu beda, gak masuk ke kepala. Baca buku ada berkahnya," tegasnya.
Toko-toko buku lain di sekitar kampus banyak, tetapi di zaman sekarang sudah mulai tutup, namun Hairel tetap bertahan. Baginya, Iqro bukan sekadar sumber penghasilan, tapi bentuk pengabdian kecil untuk menjaga tradisi membaca.
"Saya harap mahasiswa jangan lupa baca buku. Kalau dosen mau, tolong wajibkan mahasiswanya membaca buku, jangan hanya copy-paste dari internet," katanya.
Di usia senjanya, Hairel Khaliq masih setia menjaga kios kecil itu dan suka sekali hidup dengan tumpukan buku-buku, sama setianya dengan kecintaannya pada bacaan sejak masa Malari. Ia sadar, tantangan literasi semakin berat. Namun, ia percaya satu hal sederhana bisa tetap menyelamatkan dalam membaca.
"Yang penting baca dulu. Iqro. Dari situ hidup kita bisa lebih luas," ungkapnya.

Reporter: Mila Aulia/Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

5 komentar

Warren Buffet mengatakan...

Kisah perjalanan yang sangat inspiratif! Menarik sekali menelusuri jejak sejarah tokoh yang berkontribusi besar terhadap bangsa.

cia aystn mengatakan...

Keren banget ceritanya! Salut sama Pak Hairul Khaliq CH. Konsistennya itu loh, dari Malari sampai ke Iqro, fokusnya cuma satu, literasi wajib jalan terus!
​Di zaman serba scroll kayak sekarang, masih ada orang yang gigih 'menjaga buku'. Ini baru namanya inspirasi nyata, bukan cuma di teori. 👍

butterfly mengatakan...

Wow! di jaman yang serba canggih, Pak Hairul Khaliq tetap berpendirian untuk selalu membaca buku, keren banget sih salut.

postingan ini harus bnyak orang tauu sihh, karna sangat informatiff dan keren sekali mengatakan...

Keren

dhia disti mengatakan...

masyallah sangat menginspirasi, perbanyak tulisan seperti ini ya

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka