Di Malimping, sebuah kecamatan pesisir di selatan Banten, ada satu hidangan yang belakangan makin sering dibicarakan para pencinta kuliner: bakso ikan yang disajikan bersama rumput laut segar. Bukan sekadar bakso biasa, semangkuk hidangan ini membawa aroma laut yang kental, menghadirkan pengalaman makan yang berbeda sejak suapan pertama.
Bakso ikan di daerah pesisir ini dibuat dari ikan tangkapan local mulai dari tenggiri hingga ikan kerapu yang sehari-hari diturunkan nelayan setempat di Tempat Pelelangan Ikan. Teksturnya kenyal namun lembut, tanda bahwa adonan tidak banyak menggunakan bahan tambahan. "Kami ingin rasa asli ikan tetap terasa," kata seorang pedagang bakso yang sudah berjualan belasan tahun.
Yang membuat sajian ini mencuri perhatian adalah topping rumput laut Malimping. Rumput laut di kawasan ini dikenal segar dan tebal seratnya. Setelah dibersihkan, rumput laut dipotong halus lalu direndam sebentar agar renyahnya tetap terjaga. Saat dimasukkan ke dalam kuah panas, serat hijau itu tidak langsung layu; justru memberikan tekstur yang unik—sedikit crunchy, sedikit gurih, dan punya rasa laut yang ringan.
Kuahnya pun berbeda dari kuah bakso umumnya. Tidak terlalu keruh, tidak terlalu kuat bumbu. Rempahnya tipis, memberi ruang bagi rasa ikan dan rumput laut untuk bicara lebih lantang. Banyak pembeli bilang kuah ini terasa "bersih", seperti sedang mencicipi sup laut buatan rumah.
Di balik kesederhanaannya, bakso ikan rumput laut Malimping perlahan menjadi ikon kuliner lokal. Turis yang datang ke pantai Bagedur atau yang melintas dari arah Bayah kerap singgah untuk mencicipinya. Bagi warga setempat, semangkuk bakso ini bukan hanya makanan melainkan representasi dari kehidupan pesisir: jujur, segar, dan apa adanya.
Pada akhirnya, menikmati bakso ikan rumput laut Malimping bukan hanya soal mengenyangkan perut. Ada cerita tentang laut yang ditangkap nelayan pagi-pagi, tentang rumput laut yang dijemur di halaman rumah, tentang tangan-tangan yang menggulirkan bakso satu per satu. Semua itu hadir dalam mangkuk sederhana yang menghangatkan siapa pun yang mencobanya.
Penulis: Najwa Nurlijah
Tidak ada komentar
Posting Komentar