UIN Bandung Peringati Hari Amal Bhakti Kemenag ke-80, Tegaskan Kerukunan sebagai Energi Kebangsaan

Vokaloka, Bandung - UIN Sunan Gunung Djati Bandung memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama di Lapang Guest House Kampus 2, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Sabtu (3/1/2026).

Upacara ini dipimpin oleh Rektor dan dihadiri oleh Ketua dan Sekretaris Senat, para Wakil Rektor, para Kepala Biro, Direktur serta Wakil Direktur I, II, dan III Pascasarjana, para Dekan dan Wakil Dekan I, II, dan III, Kepala dan Sekretaris Satuan Pengawasan Internal (SPI), para Ketua dan Sekretaris Lembaga, para Kepala dan Sekretaris Pusat, Wakil Koordinator, Sekretaris, Kepala Bidang, dan Sekretaris Bidang pada Kopertais, para Ketua dan Sekretaris Jurusan/Program Studi jenjang S1, S2, dan S3, para Ketua Laboratorium Fakultas, para Kepala Bagian dan Ketua Tim Kerja, para Kepala Subbagian, serta para Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang meliputi PNS, PPPK, BLU, dan tenaga kontrak, serta Dharma Wanita Persatuan di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dalam sambutannya, Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag menyampaikan amanat Menteri Agama Prof. Nazarudin Umar. Menag menegaskan bahwa peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” sebagai arah gerak bersama, sekaligus penegasan bahwa kerukunan harus dipahami sebagai energi kebangsaan yang produktif.

“Tema ini menegaskan bahwa kerukunan bukan sekedar ketiadaan konflik, melainkan sebuah energi kebangsaan. Kerukunan adalah sinergi yang produktif, di mana perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial dilanjut menjadi kekuatan kolaborasi untuk menggerakkan kemajuan bangsa,” ujar Prof. Nazarudin Umar dalam amanat yang dibacakan Rektor.

Menag juga mengulas akar historis Kementerian Agama yang hadir sebagai kebutuhan nyata bangsa yang majemuk. Ia menekankan bahwa republik ini dibangun melalui sinergi seluruh komponen bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan, sehingga Kemenag berperan menjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan sekaligus membina kehidupan keagamaan yang damai serta mendorong terwujudnya masyarakat yang adil, rukun, dan sejahtera.

“Kementerian Agama didirikan sebagai penjaga dan nalar agama dalam bingkai kebangsaan. Kini peran tersebut semakin luas dan semakin krusial: meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan, merawat kerukunan umat beragama yang berlandaskan cinta kemanusiaan, memberdayakan ekonomi umat, serta memastikan agama hadir sebagai sumber solusi bagi persoalan bangsa,” kata Prof. Nazarudin Umar.

Sepanjang 2025, Kementerian Agama disebut telah membangun pondasi Kemenag berdampak melalui kerja nyata yang mulai dirasakan masyarakat. Menag menyinggung transformasi digital untuk mempercepat layanan keagamaan, penguatan ekonomi umat melalui pesantren dan filantropi keagamaan seperti zakat, wakaf, infak, sedekah, dan program sejenis, peningkatan kualitas madrasah serta perguruan tinggi keagamaan, hingga penguatan praktik kerukunan lewat program “Desa Sadar Kerukunan” agar kerukunan hadir nyata di tengah masyarakat.

Menghadapi tantangan kecerdasan buatan (AI) yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, Menag menekankan pentingnya kedaulatan literasi dan keilmuan agar institusi keagamaan tidak sekadar menjadi penonton.

 “Menghadapi tantangan besar bernama AI atau kecerdasan buatan, kita hidup di era yang berlangsung cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Di era ini kita tidak boleh sekedar menjadi penonton. Setiap ASN Kementerian Agama dituntut bertransformasi menjadi pribadi yang lincah dan sigas, adaptif, terbuka terhadap teknologi dan inovasi, serta responsif melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas,” tegasnya.

Menutup amanatnya, Prof. Nazarudin Umar mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama memperkuat pondasi pengabdian yang berdampak dan penguasaan teknologi yang beretika, seraya menyerukan, “Teruslah mengabdi, teruslah menjadi cahaya cerah bangsa.”

Pengurus Al-Washliyah Jawa Barat Hadiri Doa Bersama Lintas Agama Pemerintah Provinsi Jawa Barat


Vokaloka, Bandung- PENGURUS Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat menghadiri Doa Bersama Lintas Agama yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bale Gemah Ripah (Aula Barat) Gedung Sate, Jalan Diponegoro No. 22, Kota Bandung, Rabu (31/12/2025). Kegiatan ini digelar sebagai momentum pergantian tahun menuju 2026 dengan semangat memperkuat perdamaian, solidaritas, dan kerukunan umat beragama di Jawa Barat.

Kegiatan Doa Bersama Lintas Agama ini juga dirangkaikan dengan agenda Pemantauan Malam Tahun Baru 2026 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Acara dihadiri unsur FORKOPIMDA Provinsi Jawa Barat, pimpinan perangkat daerah Provinsi Jawa Barat, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, serta berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam tingkat provinsi, di antaranya MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Mathlaul Anwar, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Jam’iyatul Washliyah, Dewan Masjid Indonesia, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Persatuan Umat Islam, Badan Amil Zakat Nasional, dan Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar.

Dari unsur lintas agama hadir perwakilan Keuskupan, PGI, PGPI, PGLII, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), serta Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., menekankan bahwa Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki potensi bencana cukup tinggi sehingga kewaspadaan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting.

Ia menegaskan bahwa penutupan tahun 2025 perlu diisi dengan refleksi, syukur, dan ikhtiar bersama untuk menyongsong 2026 dengan sikap lebih waspada sekaligus optimistis.

“Jawa Barat adalah provinsi yang rawan bencana. Di 27 kabupaten/kota terus kami pantau berbagai potensi kerawanan. Semoga dengan penutup tahun 2025 ini kita diberkahi atas seluruh aktivitas yang sudah dilaksanakan, dan menyambut tahun baru 2026 dengan kesabaran, kewaspadaan, serta semangat memperkuat kebersamaan,” ujar Herman Suryatman.

Sekda Jabar juga menyampaikan refleksi singkat mengenai perkembangan Jawa Barat sepanjang 2025, setelah satu tahun periode kepemimpinan Gubernur Kang Dedi Mulyadi (KDM), dengan menyinggung sejumlah capaian pembangunan dan penguatan layanan publik.

Pada kesempatan yang sama, Ustaz Asep Sudarman menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya kolaborasi semua unsur masyarakat dalam menyelesaikan persoalan di Jawa Barat. Ia menilai, sinergi antara ulama, umara, kalangan dermawan, dan kelompok masyarakat kecil menjadi kunci terciptanya masyarakat yang lebih baik.

Dalam ceramahnya, ia mengutip sebuah hadits tentang peran empat kelompok dalam menguatkan peradaban.

“Hebatnya dunia karena empat hal: karena ilmunya para ulama, adilnya para umara, dermawannya orang-orang kaya, dan doanya orang-orang miskin,” tutur Ustaz Asep.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama lintas agama yang dipimpin tokoh agama dari enam agama resmi di Indonesia. Perwakilan dari kalangan Islam dipimpin oleh Ustaz Dr. H. Tata Sukayat, M.Ag., Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat.

Dari unsur Al-Washliyah, hadir Sekretaris Pengurus Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat, Dr. Dadan F. Ramdhan, M.Pd. Ia menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini yang dinilainya sebagai forum penting untuk menjaga kondusivitas sosial di Jawa Barat.

Menurutnya, kegiatan doa bersama lintas agama ini menunjukkan bahwa kerukunan dapat dibangun melalui ruang dialog spiritual yang inklusif.

“Kami mengapresiasi inisiatif Pemprov Jawa Barat yang mengundang berbagai unsur agama untuk berdoa bersama. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk merawat suasana kondusif, mencegah gesekan sosial, dan memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk,” ungkap Dr. Dadan F. Ramdhan.

Sementara itu, Dr. Uwes Fatoni, M.Ag., Ketua Bidang Dakwah PW Al-Jam'iatul Washliyah Jawa Barat, menyatakan harapannya agar kegiatan semacam ini tidak berhenti pada seremoni pergantian tahun semata, tetapi menjadi tradisi yang mengiringi agenda pembangunan daerah.

Ia menekankan bahwa kebersamaan lintas agama merupakan modal sosial yang besar bagi pembangunan Jawa Barat.

“Kami berharap kegiatan doa lintas agama ini semakin memperteguh kebersamaan rakyat Jawa Barat dalam membangun daerahnya di tahun 2026. Perbedaan agama dan keyakinan bukan penghalang, tetapi justru kekuatan jika dikelola dengan bijaksana,” ujar Dr. Uwes Fatoni.

Bakti KPI untuk Desa, Wujud Nyata Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) melaksanakan kegiatan Bakpau Desa KPI (Bakti KPI untuk Desa) sebagai bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat. Program ini menjadi ruang aktualisasi peran mahasiswa tidak hanya sebagai insan akademik, tetapi juga sebagai agen sosial yang hadir dan berkontribusi langsung dalam kehidupan desa.

Kegiatan Bakpau Desa KPI dirancang dengan pendekatan partisipatif, melibatkan masyarakat setempat dalam berbagai agenda edukatif dan sosial. Mulai dari kegiatan literasi keagamaan, pendampingan anak-anak, hingga diskusi ringan seputar komunikasi dan nilai-nilai sosial keislaman, seluruh rangkaian kegiatan disusun untuk menjawab kebutuhan masyarakat desa secara kontekstual.

Ketua pelaksana Bakpau Desa KPI menyampaikan bahwa program ini merupakan implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Melalui Bakpau Desa, mahasiswa KPI belajar memahami realitas sosial secara langsung, sekaligus menerapkan ilmu komunikasi dan dakwah yang diperoleh di bangku perkuliahan dalam kehidupan nyata.

Antusiasme masyarakat desa terlihat dari partisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan. Kehadiran mahasiswa KPI disambut hangat sebagai mitra belajar dan berdialog, bukan sekadar tamu sementara. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi yang humanis dan persuasif mampu membangun kedekatan emosional antara mahasiswa dan masyarakat.

"Kami sangat seneng dengan kedatangan adik-adik mahasiswa,semoga dengan kedatangan semuanya disini bisa dapat membawah ke bermanfaatan bagi masyarakat di desa ini" Ujar Irwan Salah Satu Prangkat Desa

Melalui Bakpau Desa KPI "Bakti KPI untuk Desa", diharapkan terjalin hubungan berkelanjutan antara kampus dan masyarakat desa. Program ini tidak hanya menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak positif, menumbuhkan semangat kolaborasi, serta memperkuat peran mahasiswa KPI sebagai komunikator dan dai yang peka terhadap realitas sosial.

Reporter : Rizki Hidayat / KPI 5B Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati



Rebutan Kursi di TransJakarta, Kenapa Viral?

 
 
"Dek, berdiri aja ya. Yang muda ngalah."

Suara itu muncul dari arah depan, cukup kenceng sampai orang-orang yang tadinya fokus HP langsung nengok.

Si anak muda yang duduk di kursi tengah—kursi biasa, bukan kursi warna khusus—ngangkat kepala.

"Maaf, Bu… ini kursi reguler."

"Reguler juga tetap etika, dong."

Ada yang nyeletuk, "Iya bener, harusnya ngerti."

Tiba-tiba bus jadi terasa sempit, bukan karena penuh, tapi karena atmosfernya.

Anak muda itu menarik napas.

"Saya juga lagi nggak enak badan, Bu. Cuma nggak kelihatan aja."

Hening sebentar.

Lalu muncul bisik-bisik, tatapan, dan… kamera. 

Seseorang mulai merekam. Dan seperti kita tahu, yang begini biasanya berakhir: viral.

Beberapa hari terakhir, media sosial memang ramai memperbincangkan video perselisihan penumpang di bus TransJakarta tentang isu yang sebenarnya klasik: perebutan kursi di transportasi umum.

Netizen terbelah jadi dua kubu:
yang menuntut anak muda "wajib" memberi kursi pada orang yang lebih tua, dan
yang membela penumpang muda karena kursi yang diduduki adalah kursi reguler (non-prioritas), serta mengingatkan bahwa tidak semua kondisi kesehatan terlihat (invisible illness / disabilitas tak terlihat).

Yang sering luput: banyak orang masih rancu soal kursi prioritas vs kursi reguler, dan akhirnya debat melebar ke moralitas padahal akar masalahnya lebih sederhana: aturan + komunikasi + empati.
 
Artikel ini akan jadi "peta" biar kamu paham:
- kursi prioritas itu apa dan siapa yang berhak
- kursi reguler itu gimana aturannya
- gimana bersikap kalau kamu yang butuh kursi / kamu yang lagi duduk

Kenapa Topik Kursi Bisa Jadi Ribut?

Karena kursi itu bukan cuma benda. Di ruang publik, kursi = simbol:
"hak"
"kepantasan"
"kekuatan sosial" (siapa yang berani ngomong, siapa yang disorot)
dan yang paling sering: asumsi

Masalahnya, asumsi orang di transportasi umum sering banget berbasis tampilan:
muda = kuat
tua = selalu butuh
yang kelihatan sehat = pasti sehat

Padahal realitanya nggak sesimpel itu.
Kursi Prioritas vs Kursi Reguler: Bedanya Apa?

1) Kursi Prioritas (Biasanya Warnanya Beda + Ada Tanda)
Kursi prioritas biasanya berada dekat pintu/area depan, warnanya mencolok dan ada penanda. Secara fungsi, ini kursi untuk penumpang yang membutuhkan akses lebih:
Lansia
Ibu hamil
Orang tua/pendamping yang membawa balita
Penyandang disabilitas
Kursi prioritas itu konsepnya akses yang adil. Jadi bukan "siapa paling tua" doang, tapi "siapa yang paling membutuhkan keselamatan dan kenyamanan".

2) Kursi Reguler (Non-Prioritas)
Kursi reguler adalah kursi untuk umum. Biasanya berlaku prinsip: yang dapat duluan, duduk. Tapi bukan berarti etika hilang.
Kursi reguler itu "hak umum", sedangkan kursi prioritas itu "hak berbasis kebutuhan".
Kalau mau dibuat gampang:
Prioritas = kebutuhan
Reguler = kesempatan
Plot Twist yang Sering Dilupakan: Invisible Illness / Invisible Disability
Salah satu pemicu konflik paling besar adalah "miskomunikasi tentang kondisi".

Ada orang yang kelihatan fit, tapi sebenarnya:
nyeri haid parah (dysmenorrhea)
habis operasi (pemulihan)
asma akut / gampang sesak
vertigo, anemia, migrain
cedera otot/sendi yang nggak terlihat kondisi tertentu yang bikin berdiri lama berbahaya
Karena itu, budaya "wajib jelasin sakitmu biar dipercaya" itu problematik. Kita bisa minta pengertian, tapi jangan maksa orang buka privasi.

Etika Realistis: Biar Situasi Adem, Bukan Drama
Kalau kamu duduk (di kursi reguler) dan ada yang minta
Respons paling aman:
Dengar dulu (jangan defensive)
Jawab singkat, jelas, tanpa debat
Contoh:
"Maaf Bu, ini kursi reguler. Tapi kalau Ibu butuh banget, saya bisa bantu cariin kursi lain atau panggil petugas."
"Maaf ya, saya juga sedang kurang sehat jadi perlu duduk. Tapi saya bisa minta bantuan petugas supaya Ibu dapat tempat."

Ini cara ngomong yang nggak mempermalukan siapa pun.

Kalau kamu yang butuh kursi
Cara paling efektif:
minta sopan + spesifik, jangan menyerang
Contoh:
"Maaf kak, boleh saya duduk? Saya hamil / bawa anak / kondisi saya nggak kuat berdiri lama."

Kalau penumpang lain nggak respons atau situasi memanas:
panggil petugas. Debat jarang menang, yang ada capek dan makin panas.

Kalau kamu jadi saksi Jangan jadi bensin. Kalau mau bantu:
"Kak, mungkin bisa dibantu ya. Kalau nggak memungkinkan, kita panggil petugas aja biar aman."

Pelajaran dari Kasus Viral TransJakarta

Kasus viral ini ngasih 3 pelajaran:
- Aturan perlu dipahami, bukan cuma perasaan.
- Banyak orang debat padahal nggak tahu mana kursi prioritas, mana kursi reguler.
- Empati tanpa memaksa orang membuka privasi.

Kamu bisa minta kursi. Tapi kamu nggak berhak menginterogasi kondisi orang.
Cara ngomong itu menentukan hasil.

Kalimat yang sama bisa jadi damai atau jadi viral tergantung nadanya.

Jadi kalau sekiranya kamu tidak dalam kondisi sakit, atau sangat lelah, sedang duduk di transportasi umum seperti Transjakarta berikan jatah kursimub ke orang yang lebih membutuhkan. Simpel tanpa drama.




Banjir Cibago Mayang, 65 KK Terdampak Warga Mengungsi di Aula Desa

Subang — Banjir menerjang Kampung Cibago, Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, pada Kamis, 4 Desember 2025 siang. Peristiwa tersebut dipicu oleh tingginya curah hujan disertai angin kencang yang melanda wilayah setempat.
Hujan deras menyebabkan longsor di sekitar aliran Sungai Cikandai. Material longsoran sempat menahan aliran sungai hingga akhirnya jebol dan meluap, sehingga air masuk ke permukiman warga sekitar pukul 14.00 WIB.
Kepala Desa Mayang, Usman Suhendi, mengatakan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, banjir mengakibatkan ratusan warga terdampak.
"Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 212 jiwa dari 65 kepala keluarga terdampak banjir," ujar Usman saat diwawancarai Info Cisalak.
Selain itu, banjir juga menyebabkan kerusakan pada rumah warga. Tercatat sebanyak enam rumah mengalami rusak berat, 26 rumah rusak sedang, dan 35 rumah rusak ringan. Sejumlah areal persawahan serta kebun milik warga turut terdampak.
Untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan, Pemerintah Desa Mayang bersama pihak terkait telah melakukan evakuasi warga, khususnya di wilayah paling terdampak, yakni RT 13 RW 04 Kampung Cibago. Warga dievakuasi ke Aula Mayang Maslahat, Desa Mayang.

"Kami sudah melakukan evakuasi warga ke aula desa untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk potensi banjir susulan, mengingat curah hujan diperkirakan masih tinggi," jelas Usman.

Usman menambahkan, saat ini warga terdampak masih membutuhkan sejumlah bantuan mendesak, seperti alat kebersihan untuk membersihkan material banjir, tenda darurat, peralatan medis, logistik makanan, serta perlengkapan makan dan minum.

Di akhir keterangannya, ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penanganan bencana tersebut.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi dan menyalurkan bantuan bagi warga kami yang terdampak musibah ini," pungkasnya.

Reporter : Info Cisalak 
Editor : Jajang Shofar Khoerudin 


Ketika Subang Berpesta, Subang Fest sebagai Ruang Ekspresi dan Kebanggaan

Senja belum sepenuhnya turun ketika Alun-Alun Subang di kawasan Tugu Pancasila mulai dipenuhi langkah-langkah warga. Dari anak kecil yang digandeng orang tuanya, remaja dengan ponsel di tangan, hingga para orang tua yang ingin sekadar menikmati suasana, semuanya bergerak menuju satu titik yang sama: Subang Fest. Di ruang terbuka itulah, Subang seakan sedang berpesta merayakan kebersamaan, kreativitas, dan identitasnya sendiri.

Lampu-lampu panggung menyala bergantian, memantul pada wajah-wajah penuh antusias. Dentuman musik terdengar bersahutan dengan sorak penonton, sementara aroma jajanan tradisional dan kuliner kekinian berbaur di udara. Subang Fest bukan sekadar festival hiburan, melainkan ruang pertemuan berbagai ekspresi masyarakat.

"Acara seperti ini bikin Subang terasa hidup. Kita bisa menikmati hiburan sekaligus kumpul bareng keluarga," Ujar Rizkun
 
Di sepanjang area alun-alun, deretan stan UMKM menjadi denyut ekonomi kecil yang hidup. Para pelaku usaha lokal dengan ramah menawarkan produk mereka dari makanan khas Subang hingga kerajinan tangan. Bagi mereka, Subang Fest adalah panggung kesempatan.

Tugu Pancasila yang berdiri kokoh di tengah alun-alun seakan menjadi saksi bisu perayaan ini. Di bawah simbol persatuan itu, berbagai latar belakang masyarakat menyatu tanpa sekat. Tak ada perbedaan usia, profesi, atau status sosial. Semua larut dalam suasana yang sama tertawa, bertepuk tangan, dan saling berbagi ruang.

Bagi para seniman lokal, Subang Fest adalah ruang ekspresi yang jarang mereka dapatkan. Panggung terbuka memberi mereka kesempatan untuk menunjukkan karya, menguji keberanian, dan merasakan apresiasi langsung dari masyarakat.

Ketika malam semakin larut, keramaian tak juga surut. Cahaya lampu, suara musik, dan riuh tawa membentuk satu irama yang hangat. Subang Fest menjelma menjadi cermin wajah kota: sederhana, ramah, namun penuh semangat.

Di Alun-Alun Subang, tepat di sekitar Tugu Pancasila, pesta itu mungkin akan usai ketika lampu panggung dipadamkan. Namun rasa kebersamaan dan kebanggaan yang lahir dari Subang Fest akan tinggal lebih lama mengendap dalam ingatan, menjadi cerita, dan terus hidup sebagai identitas sebuah kota yang tahu cara merayakan dirinya sendiri.

Reporter : Jajang Shofar Khoerudin

Posyandu RW 10 Fokus Cegah Stunting Lewat Program Tri Bina




Cigending – Posyandu RW 10 terus menunjukkan perannya dalam menjaga kesehatan masyarakat dengan menggelar kegiatan rutin setiap bulan. Program utama yang dijalankan adalah pencegahan stunting dan gizi buruk melalui penimbangan serta pembinaan keluarga, balita, hingga lansia, Senin (06/10/2025).

Kegiatan posyandu di RW 10 dilaksanakan setiap bulan sekali, tepatnya pada hari Senin di minggu pertama. Warga sekitar pun antusias mengikuti berbagai layanan yang diberikan, mulai dari penimbangan, klasifikasi kesehatan, hingga program Tri Bina yang terdiri dari Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga, dan Bina Keluarga Lansia.

Meski demikian, masih terdapat kendala dalam pelaksanaannya. "Kendalanya hanya satu, yaitu setiap warga pasti ada saja yang tidak datang, tidak full 100% hadir. Tapi selalu kita ingatkan lewat grup warga," ujar salah satu pengurus posyandu.

Fokus utama dari program posyandu ini adalah pencegahan stunting, gizi buruk, serta menjaga stabilitas berat badan anak agar tetap meningkat setiap bulan. "Tujuannya menjaga kadar itu. Makanya ada penimbangan, supaya berat badan anak-anak stabil dan meningkat tiap bulan, jangan sampai ada penurunan," tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, posyandu RW 10 juga menjalin kerjasama dengan pihak puskesmas. Segala kegiatan puskesmas selalu melibatkan peran posyandu sebagai fasilitator tempat.
Harapan besar pun disampaikan agar masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga dengan balita. "Mudah-mudahan masyarakat mau sadar diri betapa pentingnya menjaga kehamilan, pola makan, sampai pendidikan anak. Karena kalau bukan dari posyandu, dari mana lagi," pungkasnya.

Reporter: Evi Safitri & Salma Zakia Sholeha
Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka