Hampir 14 Tahun Riset, Mesin Pembakar Sampah Tampil di Jabar Kabisa 2026

Bagikan :
X


Vokaloka, Bandung – Muhammad Dudi Fauzi tampak antusias saat menjelaskan mesin pembakar sampah buatan perusahaannya. Biaya operasional yang terlalu tinggi, kata dia, menjadi penyebab utama banyak program penanganan sampah sulit berjalan. “Itu lebih banyak karena masalah biaya operasional yang terlalu tinggi,” ujarnya.

Dudi, Direktur Utama PT New Energy Integrasi, memperkenalkan mesin hasil riset hampir 14 tahun itu di pameran produk berstandar Jabar Kabisa 2026 di Vokaloka, Jumat (9/10/2026). Rekan kerjanya ikut merekam penjelasan tersebut.

Perjalanan mesin itu, tutur Dudi, berawal dari industri rumahan yang mulai meneliti masalah sampah. Riset berjalan sejak 2012, atau hampir 14 tahun hingga kini.

Selama itu, bahan bakar mesinnya berganti-ganti, mulai dari solar, gas, hingga oli bekas. Kini, klaim Dudi, timnya berhasil membuat mesin berbahan bakar air. Air itu diubah menjadi gas nitrogen dan oksigen.

Dari perubahan tersebut, ia menyebut biaya operasional mesinnya menjadi sangat rendah. Kondisi sampah saat ini, ujarnya, darurat di hampir seluruh Indonesia, khususnya Jawa Barat. Ia berharap alatnya dapat membantu penanganan sampah.

Dudi mengatakan mesin itu sudah terpasang di Sport Jabar Arcamanik, Saparua, Universitas Langlangbuana, dan pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang. Risetnya, ia menyebut, dikerjakan bersama Telkom University dan Universitas Teknologi Bandung. Pemasangan di kampus sejalan dengan kebijakan yang menyerahkan penanganan sampah kepada perguruan tinggi.

Ia mengikuti Jabar Kabisa 2026 atas rekomendasi Badan Standardisasi Nasional (BSN). Tema pameran produk berstandar, katanya, sejalan dengan perizinan yang telah ia penuhi, yaitu NIB, SNI, dan uji emisi, serta persyaratan Kementerian Lingkungan Hidup. “Semua perizinan saya rasa sudah cukup lengkap,” ujarnya.

Soal penyelenggaraan, Dudi menilai acara seperti ini sudah cukup membantu pelaku usaha. Namun ia berharap kemasannya lebih beragam. UMKM yang tampil, katanya, tidak hanya bergerak di bidang makanan, tetapi juga industri kreatif dan teknologi.

UMKM teknologi, kata Dudi, layak diundang pada acara berikutnya. Ia menilai Bandung punya banyak orang pintar dan kreatif yang mampu melahirkan produk dan temuan. “Orang Bandung hebat-hebatnya,” ujarnya.

Sebelum wawancara berakhir, Dudi menyerahkan kartu namanya kepada penulis. Dengan antusiasme yang sama seperti saat menjelaskan mesinnya, ia kembali menyampaikan harapan agar UMKM teknologi mendapat ruang tampil yang lebih luas.

Reporter : Selvi Selviana/KPI 5B

Tidak ada komentar

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka