Kepada Redaksi Kompas,
Saya tertarik menanggapi artikel opini berjudul "Filantropi dan Tanggung Jawab Sosial" yang membahas fenomena kedermawanan tokoh ultrakaya dan relevansinya terhadap ketimpangan sosial serta krisis lingkungan global. Artikel tersebut dengan tepat menyoroti bahwa donasi besar, meskipun bermanfaat, tidak cukup untuk mengimbangi dampak struktural yang ditimbulkan oleh gaya hidup dan akumulasi kekayaan ekstrem.
Memang benar bahwa tindakan filantropi publik seperti yang dilakukan oleh MacKenzie Scott, Billie Eilish, atau tokoh terkenal lainnya patut diapresiasi. Namun sebagaimana disebutkan dalam artikel, fokus tidak boleh berhenti pada romantisasi kedermawanan semata. Ketimpangan sosial yang semakin melebar, terutama antara 1 persen populasi terkaya dan masyarakat biasa, menunjukkan bahwa akar permasalahan berada pada sistem ekonomi dan pola konsumsi yang tidak berkelanjutan.
Saya sepakat bahwa filantropi seharusnya tidak menggantikan kewajiban struktural seperti pajak progresif dan regulasi lingkungan yang ketat. Selama kelompok ultrakaya menghasilkan jejak karbon ribuan kali lebih besar daripada masyarakat umum, kontribusi mereka melalui donasi tidak dapat dianggap sebagai solusi final. Bahkan, tanpa perubahan perilaku dan kebijakan, filantropi dapat menjadi paradoks: terlihat membantu publik, tetapi tidak menyentuh akar persoalan yang mereka turut ciptakan.
Dengan demikian, saya mendukung pandangan bahwa keadilan ekologis dan sosial membutuhkan lebih daripada kemurahan hati individual. Negara harus memperkuat regulasi, dan para pemilik kekayaan besar harus membayar kewajiban fiskal secara proporsional serta menurunkan konsumsi yang tidak berkelanjutan. Barulah filantropi dapat menjadi pelengkap yang sehat, bukan tameng moral bagi ketimpangan.
Hormat saya,
Dhia Disti Salsabila
2 komentar
positif, lanjutkan
Mantap
Posting Komentar