Mendaki Jadi Tren Anak Muda Bandung

Bagikan :
X

Bandung - Di Bandung, gaya hidup anak muda terus berubah mengikuti arus zaman. Jika dulu akhir pekan identik dengan nongkrong di kafe atau keliling kota pakai motor, kini banyak mahasiswa dan pekerja muda yang memilih satu aktivitas berbeda seperti mendaki gunung. Bagi mereka, mendaki bukan lagi sekadar hobi, tetapi cara baru untuk merawat kesehatan mental, menemukan komunitas, dan merasakan jeda dari rutinitas digital yang semakin melelahkan.
Gina Sonia, salah satu pendaki muda dari komunitas Bandung, menyebutkan bahwa tren ini muncul karena alam dianggap memberi ruang yang tidak ditemukan di kota. Di kalangan pendaki Bandung, mendaki sering jadi pelarian setelah penat kuliah atau bekerja. Healing adalah alasan paling umum, diikuti dorongan adrenalin saat harus melewati batu besar, jalur licin, atau cuaca tak terduga. Namun ada faktor lain yang memperkuat tren ini yaitu komunitas. Banyak anak muda Bandung merasa perjalanan terasa lebih ringan karena ditemani partner muncak yang solid. Pendakian jadi ruang untuk saling mengenal karakter masing-masing.
"Ketemu orang-orang seru, suasananya beda. Pulang dari situ langsung mikir, 'habis ini gunung mana lagi ya?" katanya.
Selain itu, akses menuju gunung-gunung di sekitar Bandung seperti Puntang, Manglayang, dan Burangrang yang relatif dekat, sehingga membuat aktivitas ini semakin diminati. Komunitas pendakian yang makin banyak bermunculan juga membuat anak muda merasa lebih aman dan terarah ketika mulai mencoba.
Bagi banyak pendaki muda, gaya hidup outdoor ini tidak hanya soal menaklukkan puncak, tetapi tentang memaknai perjalanan. Gina menambahkan bahwa pendakian mengajarkan disiplin, kerja sama, dan kesadaran diri. Tren ini juga membawa perubahan gaya hidup. Banyak pendaki muda mengaku jadi lebih kuat secara fisik, lebih tenang secara mental, dan lebih peduli pada hubungan sosial. Tapi perubahan terbesar justru terkait lingkungan. Setelah terbiasa melihat jalur yang kotor, pendaki Bandung makin sensitif terhadap isu sampah.
"Alam udah ngasih banyak. Masa dibalas dengan buang sampah sembarangan?" katanya.
Tren mendaki ini akhirnya bukan hanya soal naik-turun gunung, melainkan cara hidup yang lebih sadar, lebih peduli, dan lebih terkoneksi dengan alam maupun sesama. Di tengah rutinitas kota yang padat, anak muda Bandung menemukan ruang baru untuk bernapas dan rupanya, mereka menemukannya di atas ketinggian.

Reporter: Mila Aulia/Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

5 komentar

cia aystn mengatakan...

Mendaki di Bandung emang keren! Healing sambil dapat teman baru dan sehat! Gas ke Burangrang!

butterfly mengatakan...

Emang se seru itu sih mendaki, apalagi di Bandung! Selain dapat pemandangan alam yang MasyaAllah, kita juga bisa dapat teman baru, bikin kita jadi kenal dan dekat dengan banyak orang.

postingan ini harus bnyak orang tauu sihh, karna sangat informatiff dan keren sekali mengatakan...

waw jadi pengen nyobain mendaki

dhia disti mengatakan...

bener bangett karena ada kepuasaan sendiri setalah mendakii

hana mengatakan...

Akhir akhir ini ikut naik gunung juga sama temen, ternyata emang seru. Keren tulisannya, jangan kangen muncak deh!!!

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka