Di tengah maraknya dunia e-sport yang identik dengan kompetisi sengit dan dominasi pemain laki-laki, sosok Mila Aulia, mahasiswi asal Bandung, justru menemukan tempat nyaman dan komunitas yang suportif di balik layar gim Mobile Legends.
Sejak duduk di bangku SMP, ia sudah akrab dengan konsol dan stik PS, menjelajahi dunia gim dari Basara hingga Mortal Kombat yang awalnya sekadar hiburan di warnet. Lama-kelamaan, gaming berubah menjadi bagian tak terpisahkan dari kesehariannya.
"Kalau dihitung-hitung, seperempat hidup aku tuh di game," ujar Mila sambil tertawa.
Kini, Mila aktif di Sonic Bandung, komunitas Mobile Legends pendukung tim profesional Onic E-sports. Di sana, ia menemukan keluarga baru yang sama-sama mencintai dunia e-sport. Komunitas ini sering mengadakan mini tournament seperti 1 vs 1 hingga 5 vs 5 di mana Mila belajar arti kerja sama dan komunikasi tim. Meski belum sempat mengikuti turnamen besar, Mila tetap menjadikan setiap pertandingan sebagai tempat belajar. Ia menyadari pentingnya kerja sama tim dan pengendalian emosi.
"Nggak cukup jago sendiri, tapi harus bisa kerja sama dan saling backup teman," tegasnya. Pengalaman bermain tim membuatnya paham bahwa kemenangan bukan hanya soal siapa paling hebat, melainkan seberapa solid kelompok bisa bekerja bersama.
Mila pun menjadi bukti bahwa dunia e-sport kini semakin inklusif. Banyak perempuan yang turut aktif di komunitasnya, menepis anggapan lama bahwa gaming hanya untuk laki-laki.
"Main game tuh ngajarin aku kalau hidup juga butuh strategi," ujarnya. Dari e-sport, ia tidak hanya belajar tentang permainan, tetapi juga disiplin waktu, strategi hidup, dan keseimbangan antara kuliah, istirahat, dan gaming.
Meski masih berstatus pemain komunitas, impiannya jelas yaitu bergabung dengan tim Onic E-sports perempuan dan terus meningkatkan peran serta kemampuannya.
"Masih banyak yang harus aku kejar dari segi rank dan role," katanya dengan semangat.
Bagi Mila, e-sport bukan sekadar hiburan melainkan sebagai ruang bebas berekspresi, pembelajaran, dan bukti bahwa perempuan mampu bersinar di dunia digital yang kompetitif.
Reporter: Aulia Evawani Larissa, Komunikasi Penyiaran Islam/5B, UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Sejak duduk di bangku SMP, ia sudah akrab dengan konsol dan stik PS, menjelajahi dunia gim dari Basara hingga Mortal Kombat yang awalnya sekadar hiburan di warnet. Lama-kelamaan, gaming berubah menjadi bagian tak terpisahkan dari kesehariannya.
"Kalau dihitung-hitung, seperempat hidup aku tuh di game," ujar Mila sambil tertawa.
Kini, Mila aktif di Sonic Bandung, komunitas Mobile Legends pendukung tim profesional Onic E-sports. Di sana, ia menemukan keluarga baru yang sama-sama mencintai dunia e-sport. Komunitas ini sering mengadakan mini tournament seperti 1 vs 1 hingga 5 vs 5 di mana Mila belajar arti kerja sama dan komunikasi tim. Meski belum sempat mengikuti turnamen besar, Mila tetap menjadikan setiap pertandingan sebagai tempat belajar. Ia menyadari pentingnya kerja sama tim dan pengendalian emosi.
"Nggak cukup jago sendiri, tapi harus bisa kerja sama dan saling backup teman," tegasnya. Pengalaman bermain tim membuatnya paham bahwa kemenangan bukan hanya soal siapa paling hebat, melainkan seberapa solid kelompok bisa bekerja bersama.
Mila pun menjadi bukti bahwa dunia e-sport kini semakin inklusif. Banyak perempuan yang turut aktif di komunitasnya, menepis anggapan lama bahwa gaming hanya untuk laki-laki.
"Main game tuh ngajarin aku kalau hidup juga butuh strategi," ujarnya. Dari e-sport, ia tidak hanya belajar tentang permainan, tetapi juga disiplin waktu, strategi hidup, dan keseimbangan antara kuliah, istirahat, dan gaming.
Meski masih berstatus pemain komunitas, impiannya jelas yaitu bergabung dengan tim Onic E-sports perempuan dan terus meningkatkan peran serta kemampuannya.
"Masih banyak yang harus aku kejar dari segi rank dan role," katanya dengan semangat.
Bagi Mila, e-sport bukan sekadar hiburan melainkan sebagai ruang bebas berekspresi, pembelajaran, dan bukti bahwa perempuan mampu bersinar di dunia digital yang kompetitif.
Reporter: Aulia Evawani Larissa, Komunikasi Penyiaran Islam/5B, UIN Sunan Gunung Djati Bandung
3 komentar
emang unuk banget yaa
Gamers perempuan sekarang juga gak kalah jago sama laki laki, keren
siapa sii yang ga kenal onic?GOOO ONICCC
Posting Komentar