Daya Tarik Saraga Coffee yang Bikin Pelanggan Balik Lagi

Bagikan :
X

Di tengah ramainya area Cibeunying Kaler, Bandung, ada satu tempat yang dari jauh sudah terasa adem: Saraga Coffee. Cafe dengan konsep outdoor itu sering muncul di beranda TikTok, terutama karena suasananya yang teduh diantara pepohonan. Tapi di balik setiap gelas kopi yang tersaji, ada cerita dari baristanya, Naufal Azizan Kemal.

Naufal baru lima bulan bekerja di sana, namun sudah cukup hafal ritme dan karakter tempat itu. Sambil sesekali merapikan meja bar, ia memperkenalkan diri, "Nama saya Naufal, barista di Saraga Coffee." Ia masih kuliah di Unpas, dan pekerjaan ini menjadi ruang baru baginya untuk belajar sambil tetap kuliah.

Menurut Naufal, konsep Saraga Coffee sebenarnya sederhana: tempat untuk nyantai. Karena mayoritas area cafe berada di ruang terbuka, suasananya memang cocok untuk pelanggan yang ingin sekadar duduk, membaca buku, atau menyelesaikan tugas kuliah. "Paling enak itu pagi sampai siang," katanya. "Banyak yang datang buat ngadem."

Cafe ini buka dari jam delapan pagi hingga tengah malam. Namun dari pengamatan Naufal, waktu paling hidup justru di pagi dan siang hari. Cahaya matahari yang lembut dan angin yang sejuk membuat Saraga terasa seperti tempat pelarian singkat dari hiruk pikuk kota.

Soal minuman, Saraga Coffee punya tiga signature menu. Ada Nuraga, es kopi susu gula aren yang jadi primadona. Lalu Kopi Raga, racikan khas yang hanya ada di Saraga. Terakhir Saraga Coffee, versi panas dari Nuraga. "Paling banyak sih yang pesen Nuraga," ungkap Naufal.

Untuk menjaga rasa, mereka mengandalkan SOP. Semua takaran sudah ditetapkan, dari jenis beans sampai gramasi. "Insyaallah konsisten rasanya," kata Naufal.

Meski begitu, bekerja di cafe outdoor bukan tanpa tantangan. "Ujan sih, kak. Itu yang paling susah," katanya sambil tertawa kecil. Begitu hujan turun, area cafe langsung sepi. Sebagian tempat memang punya atap, tapi tidak cukup untuk menampung semua pelanggan.

Walau begitu, ada satu hal yang menurut Naufal membuat orang betah datang lagi dan lagi: suasana. Banyak pengunjung bilang kalau Saraga Coffee terasa seperti tempat untuk istirahat, bukan sekedar ngopi. "Kayak ambience hutan-hutan gitu," ujar Naufal.

Sebagai barista yang baru memulai dunia kopi, Naufal punya harapan sederhana untuk tempat kerjanya. Ia ingin Saraga Coffee terus berkembang, terutama dari sisi fasilitas. "Mungkin bisa nambah atap, upgrade meja, sama menu-menu baru biar lebih variatif," harapnya.

Di ujung wawancara, ia menutup dengan senyum. "Semoga Saraga makin rame dan makin nyaman buat semua orang."

Saraga Coffee mungkin terlihat seperti cafe outdoor biasa dari kejauhan, tapi bagi mereka yang pernah mampir, tempat ini adalah ruang singgah. Teduh, sederhana, dan menyimpan banyak cerita, salah satunya dari seorang barista bernama Naufal.

 

Reporter: Muhammad Azril H, KPI/5A


Tidak ada komentar

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka