Cerminan diri dipanggung Dunia
Menjadi diri sendiri di dalam sebuah rasa yang akan selalu ada di dalam hidup kita terkadang akan berbeda. Kita harus menampilkan tawa, tangis, dan marah di depan puluhan cerminan wajah orang di luar sana.
Perjalanan hidup penuh manis dan pahit. Kita akan berbeda ketika ditanyakan tentang kehidupan dunia, meskipun banyak arah dan muka yang berbeda. Di kala manusia bertanya akan pertanyaan hidup ini, dan di kala gelapnya dunia, banyak sekali kehampaan. Hidup dan pertanyaan itu seakan tak akan terjawab: apakah kita sudah memberikan makna yang pernah ada?
Barangkali, kita menghalangi setiap tetes air doa seseorang yang menadahkan tangan di sepertiga malam. Akan tetapi, semua itu tak ada maknanya. Entah itu hentak pulpen maupun ketikan tugas yang tak bermakna, yang tak perlu dipertanyakan lagi di tengah kejanggalan persaingan hidup ini.
Sakit, tapi tak ada obat. Sembuh, tak berarti bisa hidup. Dunia ini terasa hampa jika kita tidak bisa memberikan arti pada hidup. Lingkaran pertarungan hidup seakan tak akan selesai bila kita tidak bisa memutuskan. Sehingga, jika jatuh pun, darah seakan tak terasa.
Diamku dalam sebuah ruang yang gelap penuh kisah. Cerminan kehidupan dan tawa yang diberikan bukanlah menampakkan kebahagiaan yang diberikan anak muda tersebut. Tegur sapa seorang sahabat dan teman pun memiliki arti yang berbeda di sekian detiknya.
Persaingan, apakah dapat dibenarkan menjatuhkan seseorang? Semestinya, hal ini akan terjadi untuk mencapai sebuah hasrat setiap orang, melalui jilatan dan penipuan.
Tidak ada komentar
Posting Komentar