Budaya “Sibuk” yang Diam-Diam Dipelihara di Lingkungan Kampus


Kepada Redaksi,

Di lingkungan kampus, kesibukan sering kali dijadikan ukuran produktivitas. Mahasiswa yang jadwalnya padat, berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain, kerap dipandang lebih unggul dibanding mereka yang bergerak dengan ritme lebih tenang. Tanpa disadari, budaya "sibuk" ini perlahan menjadi norma yang jarang dipertanyakan.

Tidak sedikit mahasiswa yang merasa bersalah ketika beristirahat, seolah waktu luang adalah tanda kemalasan. Padahal, kesibukan tidak selalu berbanding lurus dengan efektivitas atau kualitas hasil. Banyak kegiatan dilakukan bukan karena urgensi, melainkan karena tuntutan citra dan tekanan sosial.

Budaya ini berdampak pada cara mahasiswa memaknai proses belajar dan berorganisasi. Fokus bergeser dari substansi ke jumlah aktivitas. Akibatnya, kelelahan fisik dan mental kerap dianggap wajar, bahkan dibanggakan. Kalimat seperti "capek tapi produktif" menjadi pembenaran, tanpa ruang refleksi apakah semua kesibukan itu benar-benar bermakna.

Kampus sebagai ruang intelektual seharusnya memberi teladan bahwa berpikir jernih, bekerja terarah, dan memberi waktu untuk jeda sama pentingnya dengan aktif berkegiatan. Kesadaran ini perlu dibangun bersama, agar mahasiswa tidak terjebak dalam kompetisi kesibukan yang melelahkan.

Produktif bukan berarti selalu bergerak. Terkadang, berhenti sejenak justru membuat kita lebih memahami ke mana seharusnya melangkah.

Hormat saya,
Esa Albi Sabila Husna
KPI 5B

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo