Banjir Datang Setiap Tahun, Mengapa Kita Selalu Kaget?

Bagikan :
X

Setiap musim hujan tiba, berita tentang banjir kembali memenuhi layar gawai. Jalanan tergenang, rumah terendam, aktivitas warga lumpuh. Anehnya, peristiwa yang hampir selalu terjadi setiap tahun ini masih saja dianggap sebagai kejadian tak terduga. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, banjir bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba, melainkan akumulasi dari persoalan lingkungan yang telah lama diabaikan.

Salah satu penyebab utama banjir adalah rusaknya kawasan hutan dan daerah resapan air. Hutan memiliki peran penting dalam menahan dan menyerap air hujan. Ketika penebangan hutan terus terjadi, baik untuk kepentingan pembangunan maupun eksploitasi sumber daya alam, kemampuan tanah untuk menyerap air pun berkurang drastis. Air hujan yang seharusnya tertahan justru langsung mengalir ke permukaan, memenuhi sungai dan saluran air dalam waktu singkat.

Realitas ini bisa dilihat dari perubahan kondisi wilayah yang dulunya jarang terdampak banjir. Setelah kawasan hijau beralih fungsi menjadi permukiman atau kawasan industri, genangan air mulai sering terjadi. Sungai yang sebelumnya mampu menampung debit air kini tidak lagi sanggup, karena limpasan air datang bersamaan dari berbagai arah.

Selain kerusakan hutan, persoalan sampah menjadi faktor yang tak kalah serius. Saluran drainase dan sungai yang dipenuhi sampah plastik, limbah rumah tangga, hingga material sisa bangunan membuat aliran air tersumbat. Saat hujan deras turun, air tidak memiliki ruang untuk mengalir dengan lancar dan akhirnya meluap ke pemukiman warga. Ironisnya, pemandangan sungai penuh sampah sering kali dianggap biasa, padahal dampaknya sangat nyata.

Banjir juga mencerminkan budaya reaktif dalam menyikapi bencana. Penanganan baru dilakukan setelah air meluap, sementara upaya pencegahan jarang mendapat perhatian serius. Normalisasi sungai, pengelolaan sampah, dan perlindungan hutan sering kali hanya menjadi wacana yang muncul sesaat setelah banjir terjadi, lalu menghilang seiring surutnya air.

Jika banjir datang setiap tahun, seharusnya yang dipertanyakan bukan lagi cuaca, melainkan perilaku manusia. Apakah pembangunan telah mempertimbangkan daya dukung lingkungan? Apakah pengelolaan sampah dilakukan dengan sungguh-sungguh? Dan sejauh mana komitmen kita menjaga kawasan hijau?

Banjir tidak datang secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari keputusan-keputusan yang diambil, atau diabaikan, selama bertahun-tahun. Selama hutan terus ditebang dan sampah terus dibuang sembarangan, banjir akan tetap menjadi "kejutan tahunan" yang sebenarnya bisa diprediksi.

Mungkin yang perlu diubah bukan alam, melainkan cara kita memandang dan memperlakukannya. Karena selama kita terus kaget pada banjir yang datang setiap tahun, itu berarti kita belum benar-benar belajar dari masalah yang sama.

Reporter : Dhia Disti Salsabila, KPI/5B

2 komentar

Mingg mengatakan...

kita harus sama-sama menjaga, baik terhadap sesama, terhadap alam dan semuanya

Lalalili mengatakan...

Lekas membaik bumiku

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka