AI di Ruang Redaksi: Meningkatkan Produktivitas atau Menggeser Peran Jurnalis?

Gelombang penggunaan artificial intelligence (AI) di Indonesia semakin terasa dalam dua tahun terakhir, termasuk di dunia media. Epaper dan ruang redaksi kini memanfaatkan AI untuk membuat transkrip, merangkum data, hingga memberikan ide liputan. Menurut survei APJII 2025, 27,34 persen pengguna internet Indonesia telah memakai AI naik dari 24,73 persen tahun sebelumnya. Penggunanya didominasi generasi Z sebesar 43,7 persen, diikuti milenial 22,3 persen. Data ini menunjukkan bahwa AI sudah menjadi bagian dari keseharian, terutama bagi mahasiswa dan jurnalis muda.
Namun bagi saya, AI tetaplah sebagai alat bantu, bukan pengganti manusia. Teknologi ini bisa mempercepat kerja, memberi inspirasi, dan membantu riset awal, tetapi tidak seharusnya mengendalikan seluruh proses jurnalistik. Sebagai mahasiswa yang juga sering memakai AI, saya merasakan manfaatnya sangat besar, tetapi tetap dalam batas wajar. Saya tidak ingin kemampuan berpikir saya tumpul hanya karena terlalu bergantung pada AI.
Dalam konteks jurnalisme, AI memang membuka peluang. Banyak jurnalis pemula terbantu dengan fitur transkrip otomatis atau rangkuman cepat. Hal ini membuat proses kerja menjadi lebih efisien, sehingga jurnalis bisa fokus pada hal yang lebih penting lainnya seperti observasi lapangan, analisis, dan menggali sisi kemanusiaan yang tidak bisa dikerjakan AI. Temuan Kompas juga menegaskan bahwa 74 persen Gen Z memakai AI untuk kreativitas dan pembuatan konten, sementara 80 persen milenial dan Gen X menggunakan AI untuk produktivitas. Artinya, teknologi ini memang sedang menjadi "mitra kerja" bagi banyak orang.
Meski begitu, ada kekhawatiran yang harus diakui. Survei Sharing Vision 2025 mengungkap bahwa 71 persen masyarakat Indonesia cemas terhadap potensi ketergantungan berlebihan pada AI. Saya merasakan hal yang sama. Banyak teman sebaya memakai AI untuk tugas-tugas tanpa mengecek kebenaran informasinya. Padahal, tanpa proses verifikasi, kita bisa saja menerima informasi keliru dan menyebarkannya lagi. Di titik ini, kemampuan berpikir kritis dan etika jurnalisme terancam menurun.
Ketergantungan yang berlebihan pada AI juga membuat kita malas belajar, tidak produktif, dan kehilangan kemampuan dasar seperti riset manual, wawancara, atau menilai fakta. Jika ini dibiarkan, justru manusialah yang bisa tergeser oleh teknologi, namun bukan karena AI hebat, tetapi karena kita sendiri yang berhenti untuk berusaha.
Karena itu, solusi utamanya adalah kesadaran dan kedisiplinan. Menurut saya perlu adanya kesadaran yang lebih dalam memperhatikan sumber, jeda kognitif, dan intervensi sadar yang dapat menurunkan ketergantungan berlebihan pada AI. Prinsip ini sangat relevan bagi jurnalis, karena apa pun yang dihasilkan AI harus tetap melewati proses penyaringan manusia. Dalam jurnalisme, verifikasi adalah harga mati.
Pada akhirnya, AI tidak akan menggeser jurnalis yang memang mau terus belajar, kritis, dan memegang etika. Hal yang berbahaya bukan teknologinya, tetapi ketika kita kehilangan rasa percaya diri pada kemampuan sendiri dan menyerahkan semua proses berpikir kepada teknologi. Kemudian jika AI kita jadikan alat bantu, bukan tongkat ketergantungan, maka jurnalisme justru bisa berkembang lebih kuat di masa depan. Jurnalis tetap memegang kendali karena kebenaran, empati, dan intuisi tidak bisa diprogram oleh algoritma.

Reporter: Mila Aulia/Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

4 komentar

cia aystn mengatakan...

AI ngebantu banget buat produktivitas, tapi peran jurnalis ga tergantikan! Skill berpikir kritis tetap nomor satu!

butterfly mengatakan...

Gunakan AI sebagai mitra kerja, bukan pengganti manusia. Verifikasi adalah harga mati dalam jurnalisme

postingan ini harus bnyak orang tauu sihh, karna sangat informatiff dan keren sekali mengatakan...

wawww sangat membuka fikiran lebih jauh tentang ai

dhia disti mengatakan...

bener bener penggunaan ai ini menjadi hal yang meresahkan yaa

© all rights reserved
made with by templateszoo