Maggot, Solusi Krisis Sampah Organik dan Alternatif Pakan Ternak di Tingkat Kelurahan Bandung Timur

Vokaloka. Bandung – Kebijakan darurat sampah yang diberlakukan di Kota Bandung sejak 2023 mendorong sejumlah kelurahan mengembangkan budidaya maggot atau larva BSF (Black Soldier Fly) sebagai solusi pengolahan sampah organik. Program ini tak hanya menekan volume sampah, tetapi juga menghasilkan manfaat tambahan berupa pupuk dan pakan ternak. 

Di Kelurahan Cipadung Wetan, Kecamatan Panyileukan, program maggot mulai berjalan hampir dua tahun terakhir. Setiap hari, petugas mengumpulkan sekitar 150 kilogram sampah organik dari enam RW untuk kemudian diolah di rumah maggot.

Staff Ekonomi Pembangunan dan Lingkungan Hidup, Rubiana Yusuf mengatakan sistem pengolahan dilakukan dengan pemilahan manual sebelum dimanfaatkan kembali.

"Sistemnya sampah organik diambil petugas, dipilah ulang, lalu sebagian dijadikan pupuk dan sebagian lagi untuk pakan maggot, hasil maggotnya dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele, sementara pupuk dipakai di kebun sekitar," katanya, Senin (21/9/2025).

Rubi menjelaskan, untuk mempercepat produksi, kelurahan cipadung wetan sudah menggunakan mesin PTC (Positive Temperature Coefficient) pada tahap awal pemrosesan telur maggot. 

"Kalau untuk pupuk, proses fermentasinya bisa memakan waktu satu sampai dua bulan sebelum bisa dipakai, saat ini pupuk hanya digunakan di sekitar kelurahan, misalnya untuk talas atau rencana tanam jagung, belum ada yang dijual karena memang belum ada minat pasar," ujarnya.

Di sisi lain, Kelurahan Pasir Biru, Hasil dari budidaya maggot tak hanya dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik, tetapi juga diolah menjadi produk turunan bernilai jual. Salah satunya adalah "maggot sangrai" yang dikemas dan dijual sebagai pakan ikan.

Pengurus Rumah Maggot, Adi Ahmad menjelaskan pengolahan menjadi maggot kering atau sangrai membuka peluang pasar baru.

"Dan lumayan sih kalo maggot kering kan mahal, harga jualnya juga lumayan. Perkilonya perkiraan dari harga 30 ribu sampai 35 ribu" katanya, Kamis (24/9/2025).

Adi menambahkan, pengelolaan maggot di Pasir Biru tidak hanya berhenti pada penjualan semata, melainkan juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan warga. Menurutnya, sistem ini berjalan cukup fleksibel karena hasil panen bisa dimanfaatkan sesuai kondisi yang ada.

"Kalau sampah membludak, kita serahkan sisanya ke pengolahan kompos, untuk maggot, pengolahannya disesuaikan dengan kebutuhan, biasanya dipakai buat pakan ayam petelur, nah hasil telurnya nanti diperuntukkan bagi ibu hamil dan anak stunting, sementara sisa pengolahannya juga bisa dijadikan kompos," ujarnya. 

Hal serupa ditunjukkan oleh Kelurahan Cipadung Kidul yang juga memanfaatkan sampah organik menjadi pakan maggot sekaligus bahan kompos. Dari total sekitar 4,1 ton sampah rumah tangga per hari, sebagian dipilah dan diolah di rumah maggot yang berdiri sejak 2023 di RW 3. 

Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan dan Lingkungan Hidup, Maulana mengatakan rumah maggot beroperasi rutin setiap Senin hingga Sabtu. 

"Setiap Senin sampai Sabtu rumah maggot buka dari jam delapan pagi sampai jam dua siang, sampah organik dari warga dikumpulkan di RW lalu kami olah jadi makanan maggot, hasil akhirnya bisa untuk pakan ikan dan campuran kompos," ujarnya, Kamis (25/9/2025). 

Namun, Maulana juga mengakui masih ada tantangan, terutama soal keterbatasan lahan dan bau yang ditimbulkan jika sampah menumpuk terlalu banyak di sekitar rumah maggot. Kondisi ini membuat pengangkutan sampah ke rumah maggot harus dibatasi secara bertahap.

Oleh karena itu, Maulana mengimbau agar masyarakat lebih disiplin dalam memilah sampah sejak dari rumah.

"Karena TPA Sarimukti sudah melebihi kuota, satu-satunya jalan adalah menyelesaikan permasalahan sampah di lingkungan masing-masing, paling kecil di tingkat rumah tangga, silahkan dipilah sampahnya, organik bisa ke rumah maggot atau dijadikan kompos, anorganik ke bank sampah atau pengepul, sementara residu ditangani pengurus, kalau warga mau memisahkan, insya Allah masalah sampah di kelurahan bisa selesai," tegasnya.

Reporter: Kahla Qolbiani Rasyad, Mila Aulia, Zahwa Rizkiana Maulida (KPI 5/B)

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo