Sejuknya Perbukitan di Dago Pakar, Sudut Bandung yang Bikin Betah


Uploaded Image

Di antara hijaunya pepohonan dan bangunan yang mengikuti kontur perbukitan, kawasan Resor Dago Pakar menawarkan pengalaman menginap dengan suasana yang jauh lebih menenangkan dari hiruk-pikuk perkotaan.

CIBURIAL, KABUPATEN BANDUNG — Perjalanan menuju kawasan Dago Pakar menghadirkan pemandangan yang berbeda dari suasana perkotaan yang padat. Bangunan-bangunan berdiri mengikuti kontur perbukitan, sementara pepohonan dan hamparan hijau menjadi bagian dari lanskap yang menyambut pengunjung. Di kawasan Resor Dago Pakar, Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, pengalaman menginap terasa bukan hanya tentang tempat beristirahat, tetapi juga tentang menikmati suasana yang berbeda.

Kesan takjub itulah yang dirasakan Rizkya, salah satu pengunjung vila di kawasan tersebut. Ia mengaku tidak menyangka Bandung memiliki kawasan dengan pemandangan seindah itu.

“Bener-bener takjub dan mikir, oh ternyata di Bandung juga ada daerah yang seindah ini ya,” ungkap Rizkya.

Kesan tersebut bukan tanpa alasan. Kecamatan Cimenyan memang memiliki karakter geografis berupa dataran tinggi dan perbukitan. Data Kecamatan Cimenyan Dalam Angka yang diterbitkan Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung mencatat bahwa wilayah ini berada di kawasan perbukitan Bandung Utara. Karakter alam tersebut turut menjadikan Cimenyan memiliki daya tarik untuk kegiatan rekreasi dan wisata alam. 

Sejuk yang Terasa Berbeda

Bagi Rizkya, daya tarik Dago Pakar tidak berhenti pada pemandangannya. Udara yang terasa sejuk, bahkan ketika siang hari, menjadi pengalaman yang paling membedakan kawasan tersebut dari lingkungan perkotaan yang biasa ia temui.

“Menurut aku suasana di sana adem banget. Ditambah banyak pohon-pohon dan kondisi vilanya agak di atas, jadi mendukung suasana yang adem dan sejuk. Meskipun siang hari, nggak terasa panasnya. Makin malam, makin terasa sejuk suasana Dago,” tuturnya.

Meski kondisi setiap lokasi berbeda, keberadaan perbukitan dan pepohonan menjadi bagian penting dari karakter lingkungan Dago Pakar. Bagi pengunjung yang terbiasa dengan panas, debu jalanan, serta suara kendaraan, suasana seperti ini dapat menghadirkan pengalaman beristirahat yang terasa lebih menenangkan.

Menurutnya, kawasan perkotaan yang biasa ia kunjungi cenderung lebih panas pada siang hari, disertai debu dari jalan raya dan kebisingan kendaraan. Sebaliknya, suasana Dago Pakar memberinya kesempatan untuk menikmati lingkungan yang lebih sejuk.

Ramai Vila, Tetap Punya Ruang Sendiri

Hal menarik lainnya justru ditemukan di antara banyaknya vila yang berdiri di kawasan tersebut. Meski sejumlah penginapan berada berdekatan, Rizkya merasa setiap vila tetap memiliki ruangnya masing-masing.

“Hal yang menurutku menarik, meskipun di sana ramai vila, tapi benar-benar masing-masing nggak ada yang ikut campur antarvilanya. Benar-benar vila inspirasi Gen Z,” ujarnya.

Bagi generasi muda yang ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman, privasi dan keleluasaan menjadi bagian penting dari pengalaman menginap. Vila dapat menjadi ruang untuk berkumpul, berbincang, dan menikmati waktu bersama tanpa harus terus mengikuti agenda wisata di luar penginapan.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kenyamanan sebuah perjalanan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya destinasi yang dikunjungi. Lingkungan yang mendukung, suasana yang berbeda, dan ruang untuk menikmati kebersamaan juga dapat menjadi alasan seseorang mengingat sebuah tempat.

Bagi pencinta suasana alam yang ingin menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga, Dago Pakar layak dipertimbangkan sebagai tujuan staycation. Pemilihan vila tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan, fasilitas, anggaran, dan akses menuju lokasi agar pengalaman menginap terasa nyaman.

Pada akhirnya, pesona Dago Pakar tidak hanya terletak pada bangunan-bangunan vila atau pemandangan perbukitannya. Ada pengalaman sederhana yang membuat kawasan ini berkesan: merasakan udara yang lebih sejuk, melihat lanskap hijau di antara bangunan, dan menikmati jeda dari rutinitas sehari-hari.

Terkadang, perjalanan yang paling membekas bukanlah perjalanan dengan agenda paling padat, melainkan perjalanan yang memberi ruang untuk berhenti sejenak dan menikmati suasana. Di Dago Pakar, pengalaman itulah yang membuat waktu menginap terasa lebih berarti.

Penulis : Melin Nur Salamah

Walikota Bandung Serap Aspirasi Warga Cipadung, Soroti Persoalan Sampah hingga Infrastruktur

BANDUNG, 14 Oktober 2026 — Walikota Bandung Muhammad Farhan mengunjungi Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Rabu (14/10/2026), dalam kegiatan Siskamling Siaga Bencana. Kunjungan tersebut menjadi ajang dialog langsung antara pemerintah dan masyarakat untuk membahas berbagai persoalan kewilayahan, mulai dari banjir, penerangan jalan, dan pengelolaan sampah hingga bantuan sosial dan infrastruktur lingkungan.

Dalam pertemuan bersama perwakilan warga dari sejumlah RW, berbagai aspirasi disampaikan sebagai bahan pertimbangan dalam penanganan persoalan di tingkat kelurahan. Sejumlah isu yang mengemuka berkaitan dengan keselamatan lingkungan, keterbatasan fasilitas umum, serta kebutuhan peningkatan pelayanan publik.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah banjir di RW 02 yang kerap terjadi ketika curah hujan yang tinggi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kapasitas gorong-gorong yang tidak mampu menampung debit air serta letak wilayah yang relatif lebih rendah. Warga juga mengeluhkan saluran air di Jalan Cipadung yang kerap meluap.

Selain itu, warga dari sejumlah RW mengusulkan penambahan penerangan jalan umum, terutama di kawasan yang masih gelap dan sejumlah titik yang dinilai rawan kecelakaan. Perwakilan RW 10, mengajukan penerangan jalan di 16 titik serta menyampaikan kekhawatiran terhadap tingginya risiko kecelakaan di sebuah tikungan.

Menanggapi persoalan di Bundaran Cibiru, Farhan menyatakan bahwa penanganannya perlu didahului kajian lalu lintas.

“Untuk di bundaran, saya izin dulu melakukan analisis dampak lalu lintas,” ujar Farhan.

Pengelolaan Sampah pun tak luput dari Perhatian. Persoalan persampahan menjadi salah satu isu utama dalam pertemuan tersebut. Perwakilan RW 09 menyampaikan bahwa peningkatan volume sampah belum diimbangi dengan ketersediaan sarana pengangkutan yang memadai. Sementara itu, warga RW 13 dan RW 15 mengeluhkan pembuangan sampah sembarangan serta penumpukan sampah diwilayahnya.

Sebagai salah satu upaya penanganan, Farhan mengusulkan pengolahan sampah organik melalui pembuatan lubang kompos di tingkat RT. Program tersebut direncanakan melibatkan satu RT di setiap RW sebagai lokasi pengolahan sampah organik secara bertahap.

“Setiap RW harus dibikin itu di satu RT,” tegasnya.

Selain persoalan lingkungan, keterbatasan ruang terbuka dan fasilitas umum turut disampaikan oleh warga RW 06. Padatnya permukiman dan banyaknya rumah kos di sekitar kawasan penyangga UIN Sunan Gunung Djati Bandung dinilai membatasi ruang bagi aktivitas masyarakat dalam penghijauan dihalamannya. Warga juga menyampaikan sejumlah persoalan keamanan dan ketertiban di lingkungan tersebut.

Di bidang pelayanan administrasi, warga RW 08 mempertanyakan penerapan Identitas Kependudukan Digital (IKD), khususnya bagi masyarakat yang belum memiliki telepon pintar. Perwakilan dinas terkait menjelaskan bahwa warga yang belum memiliki perangkat tersebut tidak perlu dipaksakan menggunakan IKD, sedangkan masyarakat yang memiliki perangkat didorong untuk memanfaatkan layanan digital sesuai ketentuan.

Persoalan ketepatan data kesejahteraan atau desil juga menjadi perhatian warga RW 12 dan RW 15. Mereka mempertanyakan ketidaksesuaian antara kondisi ekonomi sebagian warga dengan kategori kesejahteraan yang tercatat. Aspirasi tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi dalam proses pendataan dan verifikasi penerima bantuan sosial.

Warga RW 14 turut meminta peninjauan terhadap wilayah rawan longsor serta pembaruan dukungan bagi program penanganan stunting. 

Sejumlah persoalan infrastruktur lainnya juga disampaikan dalam forum tersebut, antara lain kerusakan jalan lingkungan dan gorong-gorong ambles.

Warga juga menyampaikan kebutuhan dukungan anggaran untuk kegiatan kemasyarakatan, operasional pengurus kewilayahan, serta penguatan peran lembaga di tingkat RW dan kecamatan.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Farhan menjelaskan bahwa pelaksanaan program pembangunan perlu mempertimbangkan kewenangan, mekanisme penganggaran, serta koordinasi dengan berbagai pihak.

“Meskipun Prakarsa penanggung jawabnya Wali Kota, masalah anggaran tidak sepenuhnya dipegang oleh Wali Kota. Namun, insyaallah kita akan saling memperjuangkan,” ungkapnya.

Melalui kegiatan Siskamling Siaga Bencana ini, pemerintah memperoleh masukan langsung mengenai kondisi dan kebutuhan masyarakat Kelurahan Cipadung. Berbagai persoalan yang disampaikan warga diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas perangkat daerah sesuai skala prioritas dan kewenangan masing-masing.

Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ruang komunikasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mendorong penanganan persoalan lingkungan, peningkatan pelayanan publik, serta pembangunan wilayah yang lebih responsif terhadap kebutuhan warga.

Penulis : Melin Nur Salamah
Uploaded Image Uploaded Image Uploaded Image

Menjemput Rezeki di Halaman Masjid, Kehadiran Penjual Kopi Keliling Jadi Solusi Praktis Warga Sekitar KUA Ujungberung

 

Vokaloka, Bandung – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas masyarakat di kawasan Ujungberung, keberadaan penjual kopi keliling kerap menjadi tempat singgah yang dinantikan. Berbekal keranjang dagangan berisi aneka minuman saset, termos air panas, serta peralatan sederhana, penjual kopi ini setia melayani warga, jemaah, hingga pengendara yang tengah beristirahat.

Berbeda dengan warung permanen, penjual kopi keliling menawarkan fleksibilitas dengan hadir langsung di titik-titik strategis, salah satunya di pelataran area tempat ibadah dan fasilitas umum. Kehadirannya tidak hanya menyajikan secangkir minuman hangat atau dingin dengan harga terjangkau, tetapi juga memberikan ruang jeda bagi warga di sela padatnya rutinitas harian.

Salah seorang pedagang kopi keliling, Agus (38), menuturkan bahwa usaha yang dijalankannya membutuhkan konsistensi dan kesabaran. "Setiap hari saya berkeliling dan mangkal di tempat-tempat yang ramai orang beristirahat. Berdagang seperti ini modal utamanya adalah keramahan dan kesiapan melayani pembeli kapan saja mereka butuh seduhan kopi hangat," ujarnya.

Agus menambahkan, tempat-tempat seperti halaman masjid atau pelataran gedung menjadi lokasi favorit karena suasana yang tenang. "Banyak jemaah atau warga yang selesai beraktivitas memilih duduk santai di sini. Dari sekadar menyeduh kopi, sering kali tercipta obrolan hangat antar pembeli," katanya.

Salah seorang pembeli, Hendra (29), mengaku sangat terbantu dengan keberadaan pedagang kopi keliling di lokasi tersebut. "Sangat praktis, apalagi kalau lagi capek setelah jalan atau berkendara. Sambil nunggu atau istirahat sejenak, bisa langsung pesan kopi tanpa harus jauh-jauh mencari kedai," ungkapnya.

Kehadiran pedagang kopi keliling ini menjadi bukti nyata bagaimana usaha mikro tetap bertahan dan memberi manfaat nyata di tengah masyarakat. Bukan sekadar mencari nafkah, interaksi sederhana di pinggir jalan ini turut menghidupkan kehangatan serta kebersamaan warga di kawasan Ujungberung.

Reporter: Adika Razky Muharam/5B

Saung Angklung Udjo, Menjaga Irama Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

 

Vokaloka, Bandung - Di tengah perkembangan zaman yang semakin dekat dengan teknologi dan budaya populer, kesenian tradisional tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan dikenal oleh masyarakat. Salah satu tempat yang mempertahankan keberadaan kesenian tersebut adalah Saung Angklung Udjo di Bandung, Jawa Barat. Melalui alunan alat musik bambu, pertunjukan seni, dan kegiatan edukasi budaya, tempat ini menghadirkan pengalaman yang mempertemukan warisan tradisional dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Terletak di Jalan Padasuka No. 118, Kota Bandung, Saung Angklung Udjo dikenal sebagai pusat pelestarian seni dan budaya Sunda, khususnya angklung. Tempat ini tidak hanya menjadi lokasi pertunjukan musik tradisional, tetapi juga ruang untuk mengenalkan berbagai kesenian kepada pengunjung. Suasana pertunjukan yang memadukan musik, gerak, dan keterlibatan penonton membuat pengenalan budaya terasa lebih dekat dan mudah dinikmati oleh berbagai kalangan.

Perjalanan Saung Angklung Udjo bermula pada 1966, ketika Udjo Ngalagena bersama istrinya, Uum Sumiati, mendirikan tempat tersebut dengan tujuan melestarikan angklung dan budaya Sunda. Kecintaan terhadap kesenian tradisional menjadi dasar bagi keduanya untuk membangun ruang belajar dan berkesenian yang dapat melibatkan anak-anak serta masyarakat sekitar. Seiring waktu, tempat ini berkembang menjadi pusat kegiatan seni yang tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga memperkenalkannya kepada pengunjung dari berbagai daerah dan negara.

Angklung menjadi bagian utama dari kegiatan yang ditampilkan di Saung Angklung Udjo. Alat musik berbahan bambu ini menghasilkan bunyi ketika digoyangkan, dengan setiap angklung mewakili nada tertentu. Permainan angklung membutuhkan kerja sama antarpemain agar nada-nada yang berbeda dapat berpadu menjadi sebuah lagu yang utuh. Dari proses tersebut, angklung tidak hanya menghadirkan pengalaman musikal, tetapi juga memperlihatkan pentingnya koordinasi, kebersamaan, dan saling mendengarkan dalam menghasilkan harmoni.

Salah satu hal yang menarik dari Saung Angklung Udjo adalah konsep pertunjukannya yang tidak hanya menampilkan musik, tetapi juga menggabungkan berbagai bentuk kesenian Sunda. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan wayang golek, tari topeng, helaran, hingga arumba yang memadukan alat musik bambu. Beragam pertunjukan tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan budaya Sunda tidak terbatas pada satu jenis kesenian. Setiap penampilan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan tradisi kepada masyarakat melalui pengalaman yang menarik dan mudah dipahami.

Selain menyaksikan pertunjukan, pengunjung juga berkesempatan mengikuti kegiatan angklung interaktif. Dalam kegiatan ini, pengunjung diajak memainkan angklung dengan arahan instruktur sehingga dapat merasakan secara langsung bagaimana alat musik tersebut menghasilkan harmoni. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa musik tradisional tidak harus dipelajari melalui penjelasan yang rumit. Melalui keterlibatan langsung, pengunjung dapat memahami pentingnya kerja sama dan koordinasi untuk menghasilkan sebuah lagu, meskipun setiap orang memainkan nada yang berbeda.

Upaya pelestarian angklung semakin mendapat perhatian ketika UNESCO menetapkan angklung Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 16 November 2010. Pengakuan tersebut memperkuat kedudukan angklung sebagai bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu dijaga keberlangsungannya. Bagi Saung Angklung Udjo, pelestarian bukan sekadar mempertahankan bentuk alat musik, melainkan juga menjaga pengetahuan, keterampilan, dan nilai kebersamaan yang menyertainya. Dengan memperkenalkan angklung kepada pengunjung dari berbagai latar belakang, tradisi ini memiliki kesempatan untuk terus dikenal oleh generasi berikutnya.

Di tengah perubahan selera masyarakat dan berkembangnya hiburan digital, pelestarian kesenian tradisional membutuhkan cara penyampaian yang dapat menjangkau khalayak lebih luas. Saung Angklung Udjo menunjukkan salah satu pendekatan melalui perpaduan pertunjukan, pendidikan, dan pengalaman langsung. Kesenian yang diwariskan dari generasi sebelumnya tetap diperkenalkan, sementara bentuk penyajiannya memberikan ruang bagi pengunjung untuk terlibat secara aktif. Meski demikian, keberlanjutan tradisi tetap membutuhkan keterlibatan para seniman, dukungan masyarakat, serta kemauan generasi muda untuk mengenal dan mempelajarinya.

Saung Angklung Udjo pada akhirnya menjadi gambaran bahwa kesenian tradisional dapat terus hidup ketika diwariskan melalui ruang belajar dan pengalaman bersama. Dari bunyi bambu yang sederhana hingga pertunjukan yang melibatkan banyak orang, angklung membawa pesan tentang kebersamaan, kerja sama, dan penghargaan terhadap budaya. Keberadaan tempat ini mengingatkan bahwa perkembangan zaman tidak harus membuat tradisi ditinggalkan. Selama kesenian terus diperkenalkan, dipelajari, dan dikembangkan tanpa kehilangan nilai dasarnya, irama tradisi akan tetap bergema di tengah perubahan zaman.

 Reporter : Siti Fauziah Cahyono / KPI 5B

Babakan Siliwangi, Ruang Hijau yang Bertahan di Tengah Riuh Kota

 

Vokaloka, Bandung - Berada di kawasan Jalan Tamansari, Kecamatan Coblong, Babakan Siliwangi dikenal sebagai salah satu hutan kota di Bandung yang dapat diakses masyarakat. Letaknya yang tidak jauh dari kawasan pendidikan dan pusat aktivitas kota menjadikan tempat ini sebagai alternatif bagi mereka yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus bepergian jauh. Kehadiran hutan kota tersebut memperlihatkan bahwa ruang hijau tidak selalu harus berada di pinggiran kota, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kawasan perkotaan.

Salah satu daya tarik Babakan Siliwangi adalah Forest Walk, jalur pejalan kaki yang memungkinkan pengunjung menikmati kawasan hutan dari dekat. Fasilitas ini diresmikan pada 2018 dengan jalur kayu yang membentang sekitar dua kilometer dan berada pada ketinggian kurang lebih dua hingga tiga meter. Jalur tersebut dirancang agar pengunjung dapat berjalan menyusuri pepohonan tanpa harus memasuki bagian hutan yang lebih rapat. Kehadirannya memberikan cara berbeda untuk menikmati alam sekaligus memperkenalkan ruang hijau kepada masyarakat dengan lebih mudah.

Sepanjang jalur Forest Walk, pepohonan menjadi bagian utama dari pemandangan yang dapat dinikmati pengunjung. Berbeda dengan taman kota yang umumnya didominasi area terbuka, Babakan Siliwangi menawarkan pengalaman berjalan di antara vegetasi yang tumbuh di kawasan hutan. Pengunjung dapat menyusuri jalur yang tersedia, berhenti sejenak untuk menikmati lingkungan sekitar, atau mengabadikan suasana melalui foto. Kesederhanaan aktivitas tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin menikmati alam tanpa harus melakukan perjalanan jauh atau aktivitas fisik yang berat.

Babakan Siliwangi juga memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, kawasan ini dikenal dengan nama Lebak Gede dan menjadi bagian dari sabuk hijau Kota Bandung. Seiring perkembangan kota, kawasan tersebut mengalami berbagai perubahan fungsi dan pernah menghadapi rencana pengembangan untuk kepentingan komersial. Perdebatan mengenai pemanfaatannya menunjukkan bahwa keberadaan ruang hijau di perkotaan tidak selalu terlepas dari kepentingan pembangunan. Hingga kini, sejarah tersebut menjadi bagian penting dalam memahami mengapa kelestarian Babakan Siliwangi perlu terus diperhatikan.

Pada 2011, Babakan Siliwangi memperoleh perhatian internasional melalui deklarasi sebagai Hutan Kota Dunia dalam rangkaian kegiatan lingkungan yang melibatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Peristiwa tersebut memperkuat perhatian terhadap pentingnya mempertahankan kawasan hijau di tengah pertumbuhan perkotaan. Bagi Bandung, Babakan Siliwangi bukan hanya ruang rekreasi, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara lingkungan alam dan kebutuhan masyarakat. Keberadaannya menunjukkan bahwa pembangunan kota perlu berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap ruang terbuka hijau.

Dalam kehidupan sehari-hari, fungsi Babakan Siliwangi tidak terbatas pada kegiatan berjalan kaki atau berolahraga. Kawasan ini juga dapat menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat yang ingin menghabiskan waktu bersama teman, keluarga, maupun orang terdekat. Sebagian pengunjung memanfaatkannya untuk bersantai, berbincang, atau sekadar menikmati suasana yang berbeda dari rutinitas perkotaan. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa ruang hijau memiliki fungsi sosial, yakni menyediakan tempat bagi masyarakat untuk berinteraksi di luar lingkungan rumah, sekolah, maupun tempat kerja.

Meski menawarkan suasana alami, keberadaan Babakan Siliwangi tetap membutuhkan perhatian dalam hal pemeliharaan dan pengelolaan. Jalur pejalan kaki, kebersihan kawasan, serta kelestarian pepohonan menjadi bagian yang perlu dijaga agar pengunjung dapat menikmati ruang hijau dengan nyaman. Selain itu, meningkatnya perhatian masyarakat terhadap tempat ini perlu diimbangi dengan kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan atau merusak fasilitas yang tersedia. Menjaga hutan kota bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga membutuhkan partisipasi pengunjung sebagai bagian dari masyarakat yang memanfaatkannya.

Keberadaan Babakan Siliwangi memberikan gambaran bahwa ruang hijau memiliki peran lebih luas daripada sekadar memperindah wajah kota. Kawasan ini menjadi tempat masyarakat berinteraksi dengan lingkungan alam, menyediakan ruang untuk rekreasi ringan, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan. Di tengah kebutuhan pembangunan dan bertambahnya aktivitas masyarakat, keberadaan hutan kota seperti Babakan Siliwangi menjadi semakin berarti. Ruang hijau tersebut memperlihatkan bahwa kota yang berkembang tetap membutuhkan tempat bagi pepohonan, udara terbuka, dan kehidupan yang berjalan lebih dekat dengan alam.

Babakan Siliwangi pada akhirnya menjadi bagian dari wajah Bandung yang menawarkan pengalaman berbeda di tengah kesibukan kota. Melalui pepohonan, jalur Forest Walk, serta sejarah panjang dalam mempertahankan ruang hijau, kawasan ini menghadirkan cerita tentang hubungan manusia dengan lingkungan tempat tinggalnya. Keberadaannya mengingatkan bahwa kemajuan kota tidak hanya diukur dari pembangunan gedung dan fasilitas modern, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga ruang alam yang dimilikinya. Selama kelestariannya terus dirawat dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab, Babakan Siliwangi akan tetap menjadi ruang hijau yang berarti bagi kehidupan Kota Bandung.

Reporter : Siti Fauziah Cahyono / KPI 5B

Gedung Merdeka, Saksi Sejarah yang Tetap Hidup di Jantung Kota Bandung

 

Vokaloka, Bandung - Di tengah ramainya aktivitas Kota Bandung, sebuah bangunan bersejarah berdiri dengan arsitektur yang mencerminkan perjalanan panjang masa lalu. Gedung Merdeka yang terletak di Jalan Asia Afrika bukan sekadar bangunan tua yang menjadi bagian dari wajah kota, tetapi juga menyimpan kisah penting dalam sejarah Indonesia dan dunia. Di balik dinding dan ruangannya, tersimpan cerita tentang pertemuan bangsa-bangsa yang pernah berjuang menghadapi kolonialisme serta membangun harapan akan kehidupan dunia yang lebih damai.

Keberadaan Gedung Merdeka menjadi salah satu daya tarik kawasan Jalan Asia Afrika yang dikenal sebagai bagian penting dari sejarah Kota Bandung. Bangunan ini memiliki tampilan arsitektur yang khas dengan bentuk yang megah dan nuansa klasik. Letaknya yang berada di kawasan pusat kota membuatnya mudah dikenali oleh masyarakat maupun wisatawan. Bagi pengunjung yang melintasi kawasan tersebut, Gedung Merdeka menawarkan kesempatan untuk melihat lebih dekat bangunan yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan diplomasi Indonesia di tingkat internasional.

Sebelum dikenal dengan nama Gedung Merdeka, bangunan ini memiliki sejarah yang bermula pada masa kolonial Belanda. Berdasarkan catatan resmi Museum Konferensi Asia Afrika, pada 1895 bangunan tersebut masih berupa gedung sederhana yang digunakan sebagai tempat pertemuan Societeit Concordia, sebuah perkumpulan yang beranggotakan masyarakat Eropa, terutama orang Belanda yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Pada 1921, bangunan itu mengalami perombakan besar dengan rancangan arsitek C.P. Wolff Schoemaker sehingga tampil sebagai gedung pertemuan modern pada masanya. Perubahan tersebut menjadi bagian awal dari perjalanan panjang bangunan yang kemudian memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, fungsi bangunan ini mengalami beberapa perubahan mengikuti situasi politik dan pemerintahan. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan utamanya dikenal dengan nama Dai Toa Kaikan dan digunakan sebagai pusat kebudayaan. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, gedung tersebut sempat digunakan sebagai markas pemuda Indonesia untuk menghadapi tentara Jepang. Perubahan fungsi itu memperlihatkan bahwa bangunan ini tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga pernah berada di tengah berbagai peristiwa penting dalam perjalanan bangsa.

Momen paling bersejarah dalam perjalanan gedung ini terjadi ketika Bandung dipilih sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika pada April 1955. Menjelang konferensi tersebut, bangunan ini dipugar dan namanya diubah dari Societeit Concordia menjadi Gedung Merdeka oleh Presiden Soekarno pada 7 April 1955. Nama baru itu kemudian melekat kuat dalam ingatan masyarakat karena berkaitan dengan pertemuan internasional yang mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika dalam upaya membangun solidaritas serta memperjuangkan kemerdekaan.

Konferensi Asia Afrika berlangsung pada 18–24 April 1955 dan dihadiri oleh perwakilan dari 29 negara Asia dan Afrika. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi negara-negara yang baru merdeka maupun yang masih menghadapi kolonialisme untuk menyuarakan kepentingan bersama. Salah satu hasil penting konferensi ini adalah Dasasila Bandung, yaitu sepuluh prinsip yang menjadi pedoman dalam membangun hubungan antarbangsa berdasarkan penghormatan terhadap kedaulatan, persamaan, dan perdamaian. Sejak peristiwa tersebut, Gedung Merdeka tidak hanya dikenal sebagai bangunan di Bandung, tetapi juga sebagai salah satu simbol penting solidaritas bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Nilai sejarah Gedung Merdeka tidak berhenti setelah konferensi berakhir. Bangunan ini kembali digunakan untuk berbagai kegiatan pemerintahan dan pertemuan penting pada masa berikutnya. Untuk menjaga ingatan mengenai Konferensi Asia Afrika, gagasan pendirian museum di tempat tersebut kemudian diwujudkan. Pada 24 April 1980, Museum Konferensi Asia Afrika diresmikan oleh Presiden Soeharto bertepatan dengan peringatan 25 tahun konferensi. Sejak saat itu, gedung ini menjadi tempat untuk mengenang sekaligus mempelajari kembali peristiwa yang memiliki pengaruh besar terhadap hubungan internasional.

Di dalam Museum Konferensi Asia Afrika, pengunjung dapat menemukan berbagai koleksi yang berkaitan dengan penyelenggaraan konferensi, mulai dari foto dokumentasi, benda bersejarah, hingga diorama yang menggambarkan suasana pembukaan konferensi pada 1955. Koleksi tersebut membantu pengunjung memahami latar belakang pertemuan, tokoh-tokoh yang terlibat, serta semangat kerja sama yang melandasinya. Dengan demikian, kunjungan ke museum tidak hanya menjadi kegiatan wisata, tetapi juga kesempatan untuk memperoleh pengetahuan mengenai sejarah diplomasi Indonesia dan perjuangan bangsa-bangsa Asia Afrika.

Di tengah perkembangan Kota Bandung sebagai tujuan wisata, keberadaan Gedung Merdeka menghadirkan pengalaman yang berbeda dari tempat rekreasi pada umumnya. Kawasan Jalan Asia Afrika juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berjalan kaki, menikmati suasana kota, dan mengunjungi berbagai bangunan bersejarah di sekitarnya. Perpaduan antara aktivitas perkotaan dan peninggalan sejarah membuat kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri. Namun, nilai Gedung Merdeka tidak semata-mata terletak pada bentuk bangunan atau popularitasnya sebagai tujuan wisata, melainkan juga pada cerita dan nilai perjuangan yang tersimpan di dalamnya.

Gedung Merdeka pada akhirnya menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya rangkaian peristiwa yang tersimpan dalam buku, tetapi juga warisan yang dapat dipelajari melalui tempat-tempat yang masih berdiri hingga kini. Bangunan ini menyimpan perjalanan dari sebuah tempat pertemuan pada masa kolonial hingga menjadi saksi konferensi internasional yang berpengaruh terhadap hubungan antarbangsa. Di tengah perubahan zaman, keberadaannya mengajak masyarakat untuk kembali mengenal semangat persatuan, kemerdekaan, dan perdamaian yang pernah digaungkan di Bandung. Selama nilai-nilai tersebut terus dipelajari dan diwariskan, Gedung Merdeka akan tetap memiliki arti penting bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

Reporter : Siti Fauziah Cahyono / KPI 5B

Bea Cukai Jawa Barat Musnahkan 33,89 Juta Batang Rokok Ilegal Senilai Rp50,58 Miliar

 

Vokaloka, Majalengka — Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jawa Barat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat memusnahkan 33,89 juta batang rokok ilegal senilai Rp50,58 miliar dengan potensi kerugian negara mencapai Rp25,43 miliar. Kegiatan pemusnahan tersebut berlangsung di Pendopo Kabupaten Majalengka, Rabu (21/10/2026), sebagai upaya memberantas peredaran barang kena cukai ilegal di wilayah Jawa Barat.

Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Barat menyampaikan bahwa jutaan batang rokok ilegal tersebut merupakan hasil penindakan yang dilakukan Bea Cukai secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) selama periode Januari hingga Agustus 2026.

Barang hasil penindakan tersebut berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Purwakarta, Cirebon, Tasikmalaya, Bogor, dan Bandung. Pemusnahan ini merupakan kegiatan kedua sepanjang 2026 setelah sebelumnya sekitar 50 juta batang rokok ilegal dimusnahkan di Garut.

Berdasarkan data DJBC Jawa Barat, hingga 30 September 2026 telah dilakukan sebanyak 3.243 penindakan dengan total barang hasil penindakan mencapai 88,2 juta batang rokok ilegal. Nilai keseluruhan barang tersebut diperkirakan mencapai Rp152,69 miliar.

Selain penindakan, Bea Cukai juga telah melakukan tiga penyidikan terkait pelanggaran di bidang kepabeanan dan cukai dengan delapan tersangka. Dari jumlah tersebut, satu perkara telah dinyatakan lengkap dan dilimpahkan ke kejaksaan.

Sementara itu, Bupati Majalengka Eman Suherman menegaskan bahwa pemusnahan rokok ilegal menjadi peringatan bagi masyarakat, khususnya para pedagang, agar tidak memperjualbelikan produk yang melanggar ketentuan cukai.

"Jangan sampai kita terus berupaya memperdagangkan barang-barang rokok ilegal. Karena yakin semakin berani memasarkan rokok ilegal akan semakin ketar-ketir harusnya karena bakal terus kita tertibkan," ujar Eman dalam sambutannya.

Eman menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Majalengka terus melakukan pengawasan terhadap peredaran rokok ilegal. Sepanjang 2026, pemerintah daerah telah mengamankan sebanyak 233.788 batang rokok ilegal atau setara dengan 11.689 bungkus.

Menurutnya, peredaran rokok ilegal dapat merugikan penerimaan negara yang seharusnya digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk pelayanan kesehatan dan pembangunan infrastruktur.

Di sisi lain, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, Asep Sukmana, yang hadir mewakili Gubernur Jawa Barat, mengapresiasi langkah Bea Cukai dan pemerintah daerah dalam memberantas peredaran rokok ilegal.

Asep menekankan bahwa pemberantasan rokok ilegal tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan edukasi dan sosialisasi secara berkelanjutan. Menurutnya, sebagian masyarakat masih membeli atau menjual rokok ilegal karena kurang memahami ketentuan yang berlaku.

Pemusnahan dilakukan secara simbolis melalui pembakaran rokok ilegal di Pendopo Kabupaten Majalengka. Sementara itu, pemusnahan secara keseluruhan dilaksanakan di PT Mukti Mandiri Lestari, kawasan Sadang, Bungursari, Kabupaten Purwakarta.

Melalui kegiatan tersebut, Bea Cukai bersama pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar tidak membeli, menjual, atau mengedarkan rokok ilegal. Masyarakat juga diminta berperan aktif melaporkan dugaan pelanggaran di bidang cukai guna mendukung pengawasan dan mencegah peredaran rokok ilegal di Jawa Barat.

Reporter: Fahri Aufa Rafiki — KPI 5B

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka