Gerai Diskominfo di MPP Tetap Layani Pengaduan Masyarakat di Tengah Peralihan ke Sistem Online
Vokaloka, Bandung — Gerai Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bandung tetap membuka layanan bagi masyarakat yang ingin menyampaikan pengaduan maupun memperoleh informasi publik. Namun, seiring berkembangnya layanan digital, masyarakat kini lebih banyak menyampaikan pengaduan melalui layanan online.
Dorong Pencegahan dan Penanganan Stunting, Kecamatan Cibiru Gelar Rembuk Stunting
Vokaloka, Bandung – Kecamatan Cibiru menggelar kegiatan Rembuk Stunting di Aula Kantor Kecamatan Cibiru, Kamis (15/10/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Kecamatan, Mohamad Afghan Ridho, S.H., M.H. yang mewakili Camat Cibiru, anggota DPRD Kota Bandung Dapil 3, Bapak Aswan Asep Wawan, S.E, Lurah di wilayah Kecamatan Cibiru, Kepala UPT Puskesmas, serta perwakilan posyandu dari seluruh wilayah Kecamatan Cibiru.
Kegiatan tersebut menjadi forum untuk membahas upaya pencegahan dan penanganan stunting melalui keterlibatan berbagai pihak, khususnya kader posyandu. Dalam kegiatan ini, para kader juga didorong untuk menyampaikan gagasan dan masukan terkait kebutuhan serta kondisi di wilayah masing-masing.
Dalam sambutannya, anggota DPRD Kota Bandung Dapil 3, Bapak Aswan, mendorong penguatan dukungan anggaran bagi PKK dan Posyandu. Ia menyampaikan bahwa dirinya akan memperjuangkan penganggaran bagi kedua lembaga tersebut pada 2027 sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan para kader di masyarakat.
“Insyaallah nanti saya berjuang untuk mengagendakan anggaran PKK dan Posyandu di 2027,” ujar Bapak Aswan.
Selain mendorong dukungan anggaran, Bapak Aswan berharap kegiatan Rembuk Stunting tidak hanya dilaksanakan di tingkat kecamatan, tetapi juga diagendakan hingga tingkat kelurahan. Menurutnya, kegiatan tersebut perlu menghasilkan laporan perkembangan stunting di setiap wilayah agar upaya penanganan dapat dipantau dan dievaluasi.
“Jadi ini saya harap kegiatan ini tidak hanya skala kecamatan saja, kalau bisa di kelurahan juga agendakan Rembuk Stunting ini. Jadi hasilnya jelas berapa sih di setiap RW-nya dan di setiap kelurahannya,” ungkapnya.
Dari sisi peserta, Elia Astuti, Ketua Posyandu Mawar A RW 15 Cipadung, menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi kader posyandu, terutama dalam menambah informasi mengenai langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka stunting. Menurutnya, kegiatan ini juga memberikan tambahan pemahaman mengenai solusi pencegahan stunting.
“Iya cukup membantu. Setidaknya saya mendapatkan tambahan pemahaman mengenai langkah-langkah dan solusi yang bisa dilakukan untuk mencegah serta menurunkan angka stunting,” ujar Elia.
Elia berharap berbagai upaya yang dilakukan melalui kegiatan tersebut dapat memberikan hasil yang lebih baik dan mendorong penurunan angka stunting. Ia juga menilai edukasi kepada masyarakat perlu terus dilakukan karena pemahaman orang tua balita mengenai stunting masih beragam.
“Harapannya lebih baik lagi ya untuk penghapusan stunting, maunya sih begitu. Tapi ya bagaimana kondisi juga. Jadi harapannya ya minimal ada penurunan angka stunting,” pungkasnya.
Reporter: Idah Nurhamidah
Balai Perlindungan Perkebunan Praktikkan Pembuatan Media SDA untuk Perbanyakan Jamur Beauveria bassiana
BANDUNG — Balai Perlindungan Perkebunan melaksanakan praktik pembuatan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) yang ditambahkan yeast extract di Laboratorium Metabolit Sekunder pada Jumat (9/10/2026). Media tersebut digunakan untuk mendukung perbanyakan jamur Beauveria bassiana yang dimanfaatkan dalam pengendalian hama secara biologis.
Petugas Laboratorium Metabolit Sekunder, Ida, menjelaskan bahwa media SDA dan Potato Dextrose Agar (PDA) memiliki perbedaan dalam penggunaannya. Media PDA umumnya digunakan untuk perbanyakan jamur Trichoderma, Metarhizium, dan Paecilomyces. Sementara itu, media SDA yang ditambahkan yeast extract digunakan untuk perbanyakan jamur Beauveria bassiana.
Menurut Ida, penambahan yeast extract bertujuan memperkaya kandungan nutrisi dalam media sehingga dapat mendukung proses sporulasi atau pembentukan spora jamur Beauveria bassiana. Komposisi bahan juga disesuaikan berdasarkan pengalaman penggunaan di laboratorium agar media yang dihasilkan memiliki kepadatan yang sesuai.
Dalam praktik tersebut, pembuatan media sebanyak 500 mililiter membutuhkan 36 gram SDA dan 1 gram yeast extract. Takaran ini merupakan setengah dari komposisi yang digunakan untuk satu liter media, yaitu 72 gram SDA dan 2 gram yeast extract.
Sebelum dicampurkan, kedua bahan ditimbang sesuai dengan takaran yang telah ditentukan. Proses penimbangan dilakukan secara bertahap untuk mendapatkan jumlah bahan yang sesuai dengan kebutuhan pembuatan media.
Setelah penimbangan selesai, akuades ditambahkan hingga volume larutan mencapai sekitar 500 mililiter. Campuran tersebut kemudian diaduk agar bahan-bahan tercampur sebelum memasuki tahap pemanasan.
Pemanasan larutan dilakukan menggunakan metode double boiling. Dalam metode ini, wadah berisi larutan media ditempatkan di dalam panci yang berisi air mendidih. Cara tersebut digunakan dalam proses pelarutan media sebelum tahapan berikutnya.
Ida menjelaskan bahwa pemanasan dilakukan selama kurang lebih 25 menit setelah air di dalam panci mendidih. Selama proses berlangsung, larutan sesekali diaduk untuk membantu melarutkan bahan yang masih menggumpal.
Penggunaan waktu sebagai acuan pemanasan dilakukan karena tingkat kekentalan larutan dapat dinilai berbeda-beda oleh setiap orang. Oleh karena itu, durasi sekitar 25 menit setelah air mendidih digunakan sebagai patokan dalam praktik pembuatan media tersebut.
Melalui praktik ini, Balai Perlindungan Perkebunan menyiapkan media SDA yang ditambahkan yeast extract untuk mendukung perbanyakan jamur Beauveria bassiana. Ketepatan komposisi bahan dan proses pemanasan menjadi bagian penting dalam persiapan media yang digunakan di laboratorium.
Reporter: Rizkya Putri/ KPI 5B
Pelayanan Publik Butuh Jaringan Pemerintah yang Tangguh
Vokaloka, Bandung - Internet kini menjadi urat nadi pelayanan publik. Ketika jaringan kantor pemerintah terputus, bukan hanya komputer pegawai yang mati, melainkan juga layanan kepada warga yang ikut tersendat. Persoalan itu kini dihadapi Diskominfo di Provinsi Jawa Barat, mulai dari putusnya kabel udara hingga Wi-Fi kantor yang tidak merata.
Berdasarkan wawancara pada 29 September 2026 dengan Erik Sandika, Pranata Komputer Diskominfo Jawa Barat, dan Rizky Setia Rahayu, Pengolah Data dan Informasi Bidang e-Government Diskominfo Provinsi Jawa Barat, penulis berpendapat bahwa jaringan pemerintah tidak cukup hanya menyala. Ia harus tangguh, didukung vendor yang sigap dan pengelola yang siap.
Pertama, ketahanan jaringan masih bergantung pada vendor. Menurut Erik, jaringan provinsi memakai sistem sewa dari sejumlah penyedia layanan internet (ISP). Perbaikan dilakukan teknisi vendor, yaitu Engineer Onsite, sedangkan Diskominfo mengawasi dan menganalisis. "Tergantung dari ISP-nya," ujarnya soal lama pemulihan gangguan besar.
Ketergantungan itu terasa saat kabel fiber optic udara terputus di beberapa wilayah. Di tengah penataan kabel ke bawah tanah oleh Pemerintah Kota Bandung, kawasan Gedung Sate dan sekretariat DPRD sempat terputus satu hingga dua jam, padahal pegawainya ribuan orang. Jalan Merdeka masih terdampak hingga kini.
Kedua, jaringan cadangan masih terbatas. Diskominfo memasang cadangan berupa modem seluler atau Starlink, tetapi perangkat Starlink tidak mencukupi untuk semua instansi. "Kalau di kantor tidak ada internet, pekerjaan sangat terhambat," kata Erik. Padahal, kantor dinas provinsi umumnya berada di Kota Bandung sehingga banyak yang terdampak.
Ketiga, kesiapan pengelola jaringan di perangkat daerah belum merata. Rizky menyebut keluhan terbanyak adalah jaringan lambat. "Di satu titik sinyalnya bagus, tapi di bidang lain sinyalnya kecil," ujarnya. Penyebabnya bukan dari Diskominfo tetapi satu access point dipaksa melayani dua lokasi, biasanya karena anggaran atau perangkat kurang mendukung.
Diskominfo Provinsi Jawa Barat sebenarnya telah bergerak lewat pelatihan jaringan setiap tahun bagi pengelola di perangkat daerah. Mereka didorong menganalisis sendiri kendala sebelum meminta bantuan. Perbaikan jaringan yang sudah ada biasanya selesai maksimal setengah hari, sedangkan kantor tanpa jaringan sama sekali membutuhkan satu hingga dua hari.
Langkah-langkah itu patut diapresiasi, tetapi belum cukup. Pelatihan tidak berarti jika perangkat tidak memadai, dan cadangan tidak berguna jika jumlahnya terbatas. Karena sistemnya sewa, lama pemulihan juga tetap ditentukan ISP, sementara Diskominfo berperan memantau.
Karena itu, pemerintah perlu memetakan instansi paling vital, seperti rumah sakit dan kantor pelayanan, agar mendapat cadangan lebih dulu. Anggaran perangkat jaringan di perangkat daerah pun layak diperhatikan. Penataan kabel, yang baru berjalan 2026 karena diduga terhambat perizinan, juga perlu disinkronkan dengan kesiapan jaringan pengganti.
Dengan demikian, jaringan pemerintahan yang baik tidak hanya diukur dari seberapa cepat gangguan diperbaiki, melainkan dari seberapa jarang gangguan sampai mengganggu masyarakat. Infrastruktur yang tangguh, cadangan yang memadai, dan pengelola yang siap adalah syarat agar internet benar-benar menopang pelayanan publik.
Reporter: Selvi Selviana/KPI 5B
Hampir 14 Tahun Riset, Mesin Pembakar Sampah Tampil di Jabar Kabisa 2026
Vokaloka, Bandung – Muhammad Dudi Fauzi tampak antusias saat menjelaskan mesin pembakar sampah buatan perusahaannya. Biaya operasional yang terlalu tinggi, kata dia, menjadi penyebab utama banyak program penanganan sampah sulit berjalan. “Itu lebih banyak karena masalah biaya operasional yang terlalu tinggi,” ujarnya.
Dudi, Direktur Utama PT New Energy Integrasi, memperkenalkan mesin hasil riset hampir 14 tahun itu di pameran produk berstandar Jabar Kabisa 2026 di Vokaloka, Jumat (9/10/2026). Rekan kerjanya ikut merekam penjelasan tersebut.
Perjalanan mesin itu, tutur Dudi, berawal dari industri rumahan yang mulai meneliti masalah sampah. Riset berjalan sejak 2012, atau hampir 14 tahun hingga kini.
Selama itu, bahan bakar mesinnya berganti-ganti, mulai dari solar, gas, hingga oli bekas. Kini, klaim Dudi, timnya berhasil membuat mesin berbahan bakar air. Air itu diubah menjadi gas nitrogen dan oksigen.
Dari perubahan tersebut, ia menyebut biaya operasional mesinnya menjadi sangat rendah. Kondisi sampah saat ini, ujarnya, darurat di hampir seluruh Indonesia, khususnya Jawa Barat. Ia berharap alatnya dapat membantu penanganan sampah.
Dudi mengatakan mesin itu sudah terpasang di Sport Jabar Arcamanik, Saparua, Universitas Langlangbuana, dan pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang. Risetnya, ia menyebut, dikerjakan bersama Telkom University dan Universitas Teknologi Bandung. Pemasangan di kampus sejalan dengan kebijakan yang menyerahkan penanganan sampah kepada perguruan tinggi.
Ia mengikuti Jabar Kabisa 2026 atas rekomendasi Badan Standardisasi Nasional (BSN). Tema pameran produk berstandar, katanya, sejalan dengan perizinan yang telah ia penuhi, yaitu NIB, SNI, dan uji emisi, serta persyaratan Kementerian Lingkungan Hidup. “Semua perizinan saya rasa sudah cukup lengkap,” ujarnya.
Soal penyelenggaraan, Dudi menilai acara seperti ini sudah cukup membantu pelaku usaha. Namun ia berharap kemasannya lebih beragam. UMKM yang tampil, katanya, tidak hanya bergerak di bidang makanan, tetapi juga industri kreatif dan teknologi.
UMKM teknologi, kata Dudi, layak diundang pada acara berikutnya. Ia menilai Bandung punya banyak orang pintar dan kreatif yang mampu melahirkan produk dan temuan. “Orang Bandung hebat-hebatnya,” ujarnya.
Sebelum wawancara berakhir, Dudi menyerahkan kartu namanya kepada penulis. Dengan antusiasme yang sama seperti saat menjelaskan mesinnya, ia kembali menyampaikan harapan agar UMKM teknologi mendapat ruang tampil yang lebih luas.
Reporter : Selvi Selviana/KPI 5B
Disperindag Jabar Gelar Jabar Kabisa 2026, Dorong UMKM Naik Kelas
Vokaloka, Bandung – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat menggelar Jabar Kabisa 2026 untuk mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas. Dalam talkshow Jumat (9/10/2026), terungkap bahwa usaha mikro dan kecil bebas biaya pendaftaran di ritel modern dan gratis mengurus registrasi BPOM.
Talkshow itu dipandu moderator Usep Diki dari Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Sumedang. Tiga narasumber hadir, yakni Ketua DPD Aprindo Jabar Yudi Hartanto, perwakilan BBPOM Bandung Meliza Widyasari, dan Komisioner BPKN RI Agus Satory.
Yudi Hartanto menjelaskan, aturan bebas biaya itu tercantum dalam Pasal 95 PP Nomor 3 Tahun 2026 yang mengubah aturan penyelenggaraan bidang perdagangan. “Untuk usaha mikro dan kecil, ritel modern toko swalayan wajib tidak mengenakan listing fee atau biaya pendaftaran,” katanya.
Menurut Yudi, jumlah UMKM terus bertambah. Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi pelaku UMKM akan melampaui 5,4 juta setelah Sensus Ekonomi 2026. Karena itu, UMKM harus menyiapkan diri jika ingin masuk ritel modern.
Meliza Widyasari menyampaikan, usaha mikro dan kecil tidak dipungut biaya untuk registrasi, termasuk izin sarana produksi, izin edar, dan pendaftaran produk untuk ekspor. “Semuanya tidak ada biaya,” ujarnya.
Meliza juga menepis anggapan bahwa mengurus izin BPOM sulit dan rumit. Menurut dia, perizinan bukan sekadar pemenuhan administrasi, tetapi bertujuan menjamin produk yang dibuat pelaku usaha aman dan konsumen terlindungi. Ia meminta pelaku usaha yang mendengar kabar bahwa BPOM mahal untuk mengonfirmasinya terlebih dahulu.
Dari sisi perlindungan konsumen, Agus Satory mengingatkan pelaku usaha agar bertanggung jawab jika ada konsumen yang dirugikan. “Melindungi konsumen itu bukanlah beban biaya bagi UMKM, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun loyalitas pelanggan dan menaikkan kelas bisnis,” ucapnya.
Pada sesi tanya jawab, Haris, produsen tepung, mi instan, dan biskuit tanpa terigu asal Bogor, menanyakan harga yang diterima produsen jika produknya dijual Rp10.000 di ritel. Ia juga bertanya soal lamanya tenggat pembayaran. Erna, produsen kopi, mengaku tiga kali mengajukan produk ke satu jaringan ritel, tetapi belum diterima.
Peserta lain menanyakan perizinan. Cinta dan Rian, produsen keripik basreng, bertanya soal sertifikat sarana produksi, fasilitasi BPOM gratis, dan jangka waktu izin. Naomi menanyakan syarat PIRT bagi dapur yang masih menyatu dengan rumah tangga. Para narasumber menjawabnya bergantian.
Dalam penutupan acara, Sekretaris Disperindag Jabar Robi Budiman menilai Jabar Kabisa 2026 berjalan sukses dan lancar selama dua hari, Kamis dan Jumat. Ia juga menyebut nilai transaksi yang tercatat selama acara sebagai capaian yang fantastis di tengah keterbatasan.
Reporter: Selvi Selviana/KPI 5B
Autoclave BPP Jabar: Cerita Ketelatenan Petugas Laboratorium
Bekerja di laboratorium mikrobiologi bukan sekadar tentang rumus dan tabung reaksi. Bagi para petugas di Balai Perlindungan Perkebunan (BPP) Jawa Barat, ini adalah tentang ketelatenan dan kesabaran tanpa kompromi.
Setiap harinya, jemari mereka menari di antara timbangan digital, nyala api, dan uap panas mesin sterilisasi. Salah sedikit saja, kerja keras berhari-hari bisa sirnah diserbu kontaminasi.
Ketelitian itu tampak jelas saat proses menimbang bahan media tumbuh jamur. Angka di layar timbangan digital diperhatikan dengan mata teliti.
"Satu gram dulu ya, Bu... Pelan-pelan. Oh, itu kelebihan," celetuk salah satu petugas saat memandu rekannya menakar yeast extract.
Kecepatan tangan diatur, embusan napas dijaga. Pengalaman bertahun-tahun membuat mereka paham bahwa perbedaan beberapa desimal gram saja bisa menentukan nasib pemadatan agar.
Ketelatenan berlanjut saat media cair mulai dituangkan ke dalam tabung-tabung reaksi steril. Hanya sekitar 5 hingga 7 mililiter per tabung, tidak boleh kurang ataupun lebih.
Bukan tanpa alasan takaran itu diatur begitu ketat. Ketinggian media agar harus dipastikan tidak menyentuh sumbat kapas di mulut tabung saat dimiringkan nanti.
"Takutnya nanti ketika dimiringkan menyentuh kapas, itu jadinya bisa menyebabkan kontaminasi," ungkapnya pelan sambil cekatan melipat kapas penyumbat.
Puncak dari ujian kesabaran ini ada di sudut ruangan: sebuah mesin tabung stainless steel berukuran besar bernama autoclave.
Di mesin sterilisasi bertekanan tinggi inilah seluruh media dibakar uap panas 121 derajat Celsius. Petugas harus setia menunggu proses yang memakan waktu hingga 1,5 jam.
Sinyal suara "tit... tit... tit..." dari mesin autoclave menjadi penanda lega. Namun, tugas belum usai. Media yang baru keluar harus segera dimiringkan satu per satu secara manual dengan tangan.
Bagi para petugas BPP Jabar, ketelitian rumit ini adalah makanan sehari-hari. Dari ketelatenan tangan mereka di ruang steril, ribuan jamur penjaga tanaman perkebunan siap dilahirkan.
Reportes: Shabrina Salsabila/KPI5B
Hangatnya Sate Maranggi di Bawah Rintik Hujan
Cianjur
- Siapa sangka, perjalanan pulang dari Bandung ke Cianjur justru menghadirkan
pengalaman kuliner yang berkesan. Setelah menjemput saya di Stasiun Cianjur,
ayah mengajak mampir ke Sate Maranggi Guna Sabar Aki Umar di Jalan Raya Pacet,
Ciherang, Kabupaten Cianjur. Hujan yang turun malam itu membuat kami memutuskan
untuk berteduh sekaligus menikmati sate maranggi yang ternyata begitu nikmat.
Tempat
makan ini terletak di pinggir jalan, berbentuk saung kayu dengan tempat duduk
lesehan. Suasananya sederhana dan terbuka, membuat pengunjung bisa menikmati
hidangan sambil melihat kendaraan yang berlalu-lalang, terlebih saat hujan
turun pada malam hari.
Salah
satu hal menarik di sini adalah pengunjung bisa menyaksikan langsung proses
pembakaran sate. Daging yang dipanggang di atas bara api mengeluarkan aroma
khas yang menggugah selera, membuat waktu menunggu pesanan terasa menyenangkan.
Saat
sate mulai dicicipi, tekstur dagingnya yang empuk menjadi salah satu daya
tariknya. Sate dibakar hingga matang dengan pas sehingga mudah dikunyah. Dengan
harga Rp3.000 per tusuk, pengunjung bisa menikmati sate maranggi tanpa perlu
mengeluarkan banyak biaya.
Tak
lengkap rasanya jika sate maranggi tidak ditemani ketan. Dengan harga yang
sama, yaitu Rp3.000 per porsi, ketan bertekstur lembut ini menjadi pilihan
pendamping yang mengenyangkan dan cocok disantap bersama sate.
Bagi
yang lebih suka makan dengan nasi, tempat ini juga menyediakan pilihan
tersebut. Bumbu oncom disajikan secara terpisah sehingga pengunjung bisa
menambahkan sesuai selera, baik sedikit maupun lebih banyak.
Pilihan
hidangan lainnya pun cukup beragam. Ada sop iga dan paket ayam kremes dengan
nasi yang bisa menjadi alternatif bagi pengunjung yang ingin menikmati menu
selain sate maranggi.
Untuk
minuman, tersedia berbagai pilihan, mulai dari air mineral, the manis, kopi,
Pop Ice, hingga minuman seduhan. Kerupuk juga tersedia sebagai pelengkap,
sehingga pengunjung dapat menyesuaikan santapan dengan selera masing-masing.
Pengalaman
menikmati sate maranggi di sini terasa semakin berkesan saat hujan turun,
terlebih setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan. Berteduh sambil
menyantap sate hangat menjadi cara sederhana untuk beristirahat sejenak sebelum
kembali melanjutkan perjalanan.
Bagi
pencinta kuliner yang melintas di kawasan Pacet, Sate Maranggi Guna Sabar Aki
Umar bisa menjadi pilihan untuk singgah. Perpaduan sate yang empuk, ketan yang
lembut, harga yang terjangkau, dan suasana saung di pinggir jalan menawarkan
pengalaman bersantap sederhana yang layak dicoba.
Reporter
: Dwi Yani Susanti/KPI 5B
Belajar Berwirausaha Lewat Photobooth, Siswa SMKN 3 Jajaki Pengalaman di Jabar Kabisa 2026
Vokaloka, Bandung - Di antara deretan tenant yang meramaikan Jabar Kabisa 2026, ada hal menarik dari sekelompok siswa SMKN 3 yang turut menjajakan produk mereka. Tak hanya menjual produk, para siswa ini juga menghadirkan layanan photobooth yang menjadi bagian dari usaha yang mereka kelola dalam kegiatan tersebut.
Wildan dan Syabir, siswa SMKN 3 yang terlibat dalam usaha photobooth itu, mengaku keikutsertaan mereka menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru. Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar berjualan, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar mengelola usaha secara langsung.
Wildan menjelaskan bahwa mereka mengikuti Jabar Kabisa bersama siswa lainnya dengan didampingi siswa kelas 12. Para siswa mendapat kesempatan untuk menjalankan usaha di salah satu tenant yang telah disediakan dalam kegiatan tersebut.
“Kalau buat kami sendiri yang bagian photobooth , kami termotivasi mencari pengalaman tentang bagaimana mengatur atau manajemen usaha. Kami juga bisa merasakan langsung di lapangan bagaimana menjalankan penjualan photobooth seperti ini,” ujar Wildan.
Dalam menjalankan usahanya, para siswa tidak hanya menunggu pengunjung datang. Mereka juga berupaya mengenalkan layanan photobooth melalui promosi langsung di sekitar lokasi kegiatan. Salah satunya dengan berkeliling sambil membawa kertas bergambar contoh photobooth untuk menarik perhatian calon pelanggan.
“Tadi kita udah nyobain promosi keliling-keliling. Kita bawa-bawa kertas, contoh bilang ' photobooth kaka', gitu,” ungkap Wildan.
Meski demikian, Wildan mengungkapkan bahwa jumlah pengunjung yang datang ke tenant mereka belum terlalu banyak. Menurutnya, layanan photobooth yang mereka tawarkan lebih menyasar kalangan anak muda, sedangkan pengunjung yang berada di sekitar tenant saat itu didominasi oleh orang dewasa.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi mereka dalam mengenalkan layanan photobooth kepada calon pelanggan. Meski begitu, para siswa tetap berupaya mempromosikan layanan mereka agar lebih banyak pengunjung mengetahui keberadaan tenant tersebut.
Wildan berharap usaha photobooth yang mereka jalankan dapat berkembang dan menarik lebih banyak pengunjung. Ia juga berharap mereka bisa menghadirkan inovasi baru agar usaha tersebut semakin diminati.
Pengalaman di Jabar Kabisa 2026 pun menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal proses berwirausaha secara langsung, mulai dari mempromosikan layanan hingga menghadapi calon pelanggan. Melalui kegiatan ini, mereka tidak hanya belajar menawarkan produk, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menjalankan usaha di tengah lingkungan yang sesungguhnya.
Reporter : Dwi Yani Susanti/KPI 5B
Dukung Jabar Kabisa, Diskominfo Jabar Fasilitasi Jaringan Starlink di Youth Center Arcamanik
BANDUNG,
Vokaloka - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat
memfasilitasi jaringan internet untuk kegiatan Jabar Kabisa di Youth Center
Arcamanik, Kota Bandung, Jumat (9/10/2026). Fasilitasi ini diberikan atas
permohonan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat.
Jaringan
tersebut disiapkan agar acara yang digelar secara hybrid berjalan lancar.
Selain peserta yang hadir langsung, sebagian peserta menyimak talk show melalui
Zoom Meeting, sementara acara juga disiarkan langsung di media sosial. Kegiatan
berskala besar seperti ini membutuhkan kapasitas jaringan yang besar.
Pantauan
di lokasi, peserta memadati area acara di bawah tenda, sementara kru
dokumentasi merekam jalannya talk show yang juga ditampilkan di layar LED.
Antena Starlink dipasang di atas pengeras suara di dekat area panggung.
Anggota
Divisi IT Support dan Jaringan Diskominfo Jabar, mengatakan jaringan yang kuat
diperlukan agar acara berjalan tanpa hambatan. Karena itu, Diskominfo
menggunakan Starlink.
“Starlink
ini opsi yang lebih mudah dan simpel. Kekurangannya, kita harus tahu titik
penempatan yang tepat agar sinyalnya tidak terhalang benda,” Ujarnya.
Menurutnya,
posisi perangkat sangat memengaruhi kualitas jaringan. Rintangan di sekitar
antena akan terdeteksi di aplikasi Starlink sebagai titik berwarna merah. Pada
pemeriksaan di lokasi, titik merah tampak dominan di sisi barat dan selatan,
sementara sistem masih dalam proses kalibrasi yang biasanya memakan waktu
sekitar satu jam.
Meski
demikian, hasil uji kecepatan (speed test) di lokasi menunjukkan jaringan
Starlink mencapai kecepatan unduh 183 Mbps dan unggah 50 Mbps dengan latensi 18
milidetik.
“Kecepatan
ini cukup untuk mendukung banyak perangkat yang terhubung bersamaan, mulai dari
Zoom, rapat virtual, hingga siaran langsung dan unggahan konten digital,”Ungkap
salah satu anggota IT Support dan Jaringan
Reporter: Mia Maulidina
KPI/5B
Akar Masalah Macet Bundaran Cibiru yang Tak Kunjung Usai
Baru saja pagi hari dimulai lalu lalu lintas di sekitar
Bundaran Cibiru sudah mulai padat. Kendaraan roda dua dan empat berdesakan satu
sama lain, sementara pengendara mereka berusaha mencari celah di antara
kendaraan yang padat. Bundaran Cibiru seperti menjadi titik pertemuan berbagai
aktivitas: mahasiswa yang menuju kampus, pekerja yang menuju tempat kerja,
pelajar yang menuju sekolah dan masyarakat yang menuju Bandung, Cileunyi dan lainnya.
Menurut berita detikjabar, pada bulan April 2026 jalan
Cileunyi-Cibiru sering mengalami kemacetan baik di pagi, sore maupun malam
hari. Dalam tanggapannya pakar transportasi ITB Sony Sulaksono menyebut bahwa
kemacetan yang ada di kawasan tersebut sudah lama berlangsung dan salah satu
masalah utamanya adalah pertemuan arus kendaraan dari dua jalan nasional yaitu
Jalan Soekarno-Hatta dan Surapati-AH Nasution.
Masalahnya bukan hanya semakin padatnya kendaraan. Tata
letak jalan di sekitar Cibiru juga menjadi faktor yang membuat aliran kendaraan
dengan mudah tersendat. Dalam pemantauan detikjabar pada bulan Maret 2026,
Bundaran Cibiru disebut sebagai simpul yang menghubungkan Jalan Soekarno-Hatta
dan Jalan AH Nasution menuju Cileunyi.
Setelah lewat kawasan tersebut kendaraan juga akan
mengalami penyempitan jalur. Ini akan menciptakan efek riak, dimana ketika satu
bagian jalan melambat lalu lintas kendaraan dengan cepat menjalar ke jalan
lain.
Masalah lain yang ditimbulkan adalah dari tingginya tingkat
aktivitas yang ada di sepanjang jalan Cibiru-Cileunyi. Jalan tersebut tidak
hanya dilalui kendaraan yang melakukan perjalanan jarak jauh tetapi juga
menjadi akses masyarakat untuk menuju permukiman, pusat perbelanjaan, sekolah
dan fasilitas lainnya.
Kemacetan tidak selalu disebabkan oleh masalah yang sama.
Insiden-Insiden kecil yang terjadi di satu bagian jalan pun dapat memberikan
dampak besar ketika volume kendaraan yang ada dalam situasi tersebut tinggi.
Misalnya saja pada bulan Februari 2026 terjadi insiden truk bermuatan pasir
yang terguling di kawasan Panyileukan setelah Bundaran Cibiru dan menyebabkan
penutupan jalur lambat Jalan Soekarno-Hatta.
Gita, mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengatakan
kemacetan di Bundaran
Cibiru memberi pengaruh besar pada aktivitas hariannya.
“Sangat besar dampaknya. Karena motor datang dari segala arah. Apalagi pada jam
kerja dan jam pulang kerja,” kata Gita. Menurutnya, waktu yang hilang karena
kemacetan sebenarnya bisa digunakan untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat.
Kondisi itu juga memengaruhi pilihan transportasi
mahasiswa. Gita memilih memakai sepeda motor pribadi daripada angkutan umum
karena mempertimbangkan waktu tempuh. Menurutnya, angkot dan bus membutuhkan
waktu lebih lama karena harus berhenti untuk mengambil penumpang. “Jadi aku
lebih memilih naik motor yang bisa cepat sampai dan juga lebih efisien waktu,”
katanya.
Data Dinas Perhubungan Kota Bandung menunjukkan bahwa
kemacetan dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya jumlah kendaraan. Dalam
dokumen kinerja Dinas Perhubungan, beberapa penyebab yang dicatat antara lain
kendaraan angkutan umum yang berhenti sembarangan. Parkir di badan jalan,
aktivitas penyeberang jalan, pengaturan persimpangan, akses keluar-masuk kawasan
pendidikan dan pertokoan, pedagang kaki lima, kondisi jalan, dan volume lalu
lintas yang tinggi juga menjadi penyebab.
Pakar transportasi ITB Sony Sulaksono menyebut wacana
underpass Cibiru sudah pernah dibahas sebelumnya. Menurutnya, bentuk kawasan Cibiru
lebih memungkinkan untuk pembangunan terowongan sebagai salah satu alternatif.
Namun, rencana tersebut masih menghadapi persoalan pendanaan dan kewenangan
karena ruas jalan yang bersangkutan berstatus jalan nasional.
Pada akhirnya, akar persoalan kemacetan Bundaran Cibiru
tidak berasal dari satu penyebab saja. Pertemuan arus kendaraan, tingginya
mobilitas masyarakat, aktivitas keluar-masuk kawasan, penyempitan lajur, dan
berbagai hambatan insidental saling berkaitan. Semua ini membuat antrean mudah terbentuk.
Bagi mahasiswa seperti Gita, dampaknya terasa pada waktu
perjalanan yang semakin lama. Sementara bagi pengguna jalan lainnya, kemacetan
menjadi bagian dari rutinitas yang harus dihadapi hampir setiap hari. Bundaran
Cibiru bukan hanya titik tempat kendaraan berhenti dan bergerak lagi. Tempat
ini juga menunjukkan bagaimana pertumbuhan mobilitas butuh pengelolaan jalan
yang bisa mengikuti kebutuhan masyarakat.
Reporter: Zahra Bunga Zakiyyah KPI 5B
Pasir Kunci, Tempat Santai Setelah Berolahraga
Hilmy Faishal Dzaky
Kampung Wisata Pasir Kunci
menjadi salah satu tempat yang bisa dikunjungi untuk mencari suasana berbeda di
Bandung. Berada di kawasan Ujungberung, tempat ini menawarkan suasana yang
lebih tenang dengan pemandangan dari wilayah yang berada di dataran lebih
tinggi. Pengunjung dapat menikmati area terbuka sambil beristirahat dari
aktivitas sehari-hari.
Suasana di Pasir Kunci
mulai terasa berbeda ketika pengunjung datang pada pagi atau sore hari. Kawasan
ini tidak hanya didatangi untuk berwisata, tetapi juga menjadi tempat
masyarakat melakukan aktivitas ringan. Ada pengunjung yang datang untuk
berjalan-jalan, berolahraga, maupun sekadar duduk menikmati suasana.
Jalur menuju kawasan Pasir
Kunci juga menjadi bagian dari perjalanan. Letaknya yang berada di kawasan
perbukitan membuat perjalanan menuju lokasi terasa berbeda dibandingkan
perjalanan menuju tempat wisata yang berada di pusat kota. Setelah sampai,
pengunjung bisa melihat suasana Bandung dari kawasan yang lebih tinggi.
Aktivitas olahraga menjadi
salah satu hal yang cukup mudah ditemui di sekitar kawasan tersebut. Beberapa
pengunjung datang dengan pakaian olahraga, sementara yang lainnya membawa
sepeda. Setelah beraktivitas, Pasir Kunci bisa menjadi tempat untuk berhenti
sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Hal tersebut juga dirasakan
oleh salah satu pengunjung bernama Adhya. Menurutnya, Pasir Kunci cocok untuk
melepas penat setelah melakukan aktivitas olahraga.
“Tempat ini seger buat
refreshing, apalagi biasanya yang ke sini tuh sambil jogging atau bawa sepeda.
Ya, tempat yang cocok lah buat istirahat habis olahraga,” ujar Fadlan.
Selain aktivitas olahraga,
suasana sekitar menjadi alasan lain bagi pengunjung untuk datang. Kawasan yang
lebih terbuka membuat pengunjung dapat menghabiskan waktu tanpa harus melakukan
banyak kegiatan. Duduk santai, mengobrol, atau menikmati pemandangan menjadi
aktivitas sederhana yang bisa dilakukan di tempat ini.
Pasir Kunci juga memberikan
pilihan bagi pengunjung yang ingin mencari tempat untuk beristirahat dari
suasana kota yang cukup padat. Perjalanan menuju lokasi membuat pengunjung
perlahan meninggalkan kawasan perkotaan dan masuk ke lingkungan yang lebih tenang.
Hal tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi orang yang ingin
mencari suasana berbeda tanpa harus pergi terlalu jauh dari Bandung.
Bagi pengunjung yang datang
bersama teman, kawasan ini juga bisa menjadi tempat untuk menghabiskan waktu
bersama. Tidak harus ada kegiatan khusus, karena suasana sekitar sudah cukup
untuk membuat waktu berkunjung terasa santai. Pengunjung bisa menikmati pemandangan
sambil berbincang atau beristirahat setelah melakukan aktivitas.
Keberadaan pengunjung yang
datang untuk olahraga juga membuat suasana Pasir Kunci tidak hanya berisi
kegiatan wisata. Tempat ini menjadi ruang yang digunakan untuk berbagai
aktivitas, mulai dari berolahraga sampai sekadar mencari udara segar. Hal
tersebut membuat Pasir Kunci memiliki suasana yang berbeda dari tempat wisata
yang hanya dikunjungi untuk melihat objek tertentu.
Pasir Kunci pada akhirnya
bukan hanya tentang pemandangan yang bisa dinikmati dari ketinggian. Kawasan
ini juga menjadi tempat bagi masyarakat untuk beristirahat, berolahraga, dan
menghabiskan waktu di luar rutinitas. Dengan suasana yang lebih tenang dan
aktivitas pengunjung yang beragam, Pasir Kunci bisa menjadi salah satu pilihan
untuk mencari tempat refreshing di Bandung.
Menikmati Sejuknya Perjalanan di Tahura Djuanda
Bandung
- Akhir pekan biasanya identik dengan jalan-jalan atau nongkrong bersama teman.
Salah satu tempat yang bisa dikunjungi untuk sekadar melepas penat adalah Taman
Hutan Raya Ir. H. Djuanda atau yang lebih dikenal dengan Tahura Djuanda. Dari
perjalanan sampai masuk ke kawasan Tahura, suasananya sudah terasa berbeda
dibandingkan suasana kota yang biasanya ramai dan panas.
Perjalanan
menuju Tahura cukup menyenangkan karena semakin mendekati kawasan hutan, udara
yang dirasakan semakin sejuk. Pepohonan besar yang ada di sepanjang kawasan
membuat suasana terasa lebih teduh. Bahkan ketika hari mulai siang, panas
matahari tidak terlalu terasa karena banyak bagian jalan yang tertutup
pepohonan. Tahura sendiri berada di kawasan utara Bandung dan memiliki luas
sekitar 528,39 hektare dengan ketinggian kawasan sekitar 770 sampai 1.350 meter
di atas permukaan laut.
Sesampainya
di area parkir, suasananya bisa berbeda tergantung hari kita datang. Saat akhir
pekan, tempat parkir biasanya terasa jauh lebih ramai dan kendaraan pengunjung
cukup banyak. Sementara kalau datang pada hari biasa, suasananya lebih aman dan
tidak terlalu penuh. Setelah memarkirkan motor, perjalanan dilanjutkan dengan
berjalan kaki untuk menikmati kawasan hutan dan beberapa tempat yang ada di
dalamnya.
Pengalaman
serupa juga dirasakan oleh salah seorang pengunjung, Syamsa Munawwar, yang
mengaku sudah beberapa kali berkunjung ke Tahura Djuanda. Menurutnya, suasana
yang sejuk menjadi salah satu alasan untuk kembali mengunjungi tempat ini.
Meski begitu, kondisi yang terlalu ramai terkadang mengurangi kenyamanan,
terutama ketika area parkir dipenuhi kendaraan pengunjung.
“Saya
sudah beberapa kali ke sini dan tidak pernah bosan karena suasananya memang
adem dan sejuk. Namun, kalau sedang ramai banget, rasanya agak kurang nyaman
karena tempatnya padat dan parkir juga penuh,” ujar Syamsa.
Hal
yang cukup menarik selama perjalanan adalah keberadaan monyet yang cukup mudah
ditemui. Bukan hanya berada jauh di dalam hutan, beberapa monyet juga terlihat
di sekitar jalur yang dilewati pengunjung. Awalnya melihat monyet di perjalanan
terasa menarik karena bisa melihat hewan secara langsung di lingkungan yang
masih cukup alami. Tetapi tetap perlu berhati-hati dan tidak mengganggu atau
memberikan makanan sembarangan kepada mereka.
Semakin
masuk ke kawasan Tahura, suasana kota terasa semakin jauh. Jalan yang dilewati
didominasi pepohonan dan udara terasa lebih dingin. Perjalanan seperti ini juga
membuat kita tidak terlalu terburu-buru karena memang tujuan utamanya bukan
hanya sampai ke satu tempat, tetapi menikmati perjalanan selama berada di
kawasan hutan. Sesekali kami juga berhenti untuk istirahat atau melihat suasana
sekitar.
Salah
satu tempat yang bisa ditemui di Tahura adalah Gua Belanda. Gua ini merupakan
salah satu peninggalan sejarah yang ada di kawasan Tahura. Berdasarkan
informasi dari pengelola Tahura, pembangunan terowongan air yang kemudian
dikenal sebagai Gua Belanda dimulai pada 1918. Saat ini tempat tersebut menjadi
salah satu tujuan wisata sejarah yang bisa dikunjungi wisatawan.
Selain
Gua Belanda, ada juga Gua Jepang yang menjadi salah satu tempat yang cukup
menarik untuk didatangi. Gua tersebut dibangun sekitar 1942 pada masa
pendudukan Jepang dan pada masa itu digunakan sebagai tempat pertahanan serta
berbagai keperluan militer. Sekarang, gua tersebut menjadi salah satu objek
wisata sejarah di Tahura. Suasananya tentu berbeda dengan tempat wisata biasa
karena pengunjung bisa melihat langsung lorong-lorong yang menjadi bagian dari
sejarah masa lalu.
Perjalanan
di Tahura juga bisa dilanjutkan menuju kawasan Curug Omas. Untuk sampai ke
sana, pengunjung perlu melewati jalur yang dikelilingi pepohonan. Curug Omas
sendiri merupakan salah satu air terjun yang berada di kawasan Tahura dan
memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Setelah cukup lama berjalan, melihat air
terjun dan mendengar suara air menjadi salah satu bagian yang cukup
menyenangkan dari perjalanan.
Selain
tempat-tempat tersebut, Tahura juga memiliki kawasan yang menjadi habitat dan
tempat penangkaran rusa. Pengelola mencatat adanya Rusa Timur dan Rusa Tutul
sebagai bagian dari kawasan wisata fauna di Tahura. Melihat rusa menjadi
pengalaman lain selama berada di kawasan ini karena perjalanan yang awalnya
hanya ingin menikmati suasana hutan ternyata bisa menemukan beberapa jenis
tempat dan satwa dalam satu kawasan.
Pada
akhirnya, perjalanan ke Tahura Djuanda bukan Cuma soal datang ke tempat wisata
lalu pulang. Perjalanan menggunakan motor bersama teman, udara yang sejuk,
pepohonan yang masih banyak, monyet yang sesekali terlihat di jalan, sampai
berbagai tempat yang bisa dikunjungi membuat perjalanan terasa lebih lengkap.
Mungkin hal sederhana seperti jalan bersama teman dan menikmati suasana alam
justru menjadi bagian yang paling diingat setelah perjalanan selesai.
Bukan Sekadar Ngopi, Dialog Space Tawarkan Suasana Berbeda dalam Satu Tempat
Bandung - Menikmati waktu di coffee shop kini tak hanya soal menyeruput
kopi. Bagi sebagian orang, suasana tempat juga menjadi pertimbangan sebelum
memilih lokasi untuk berkumpul bersama teman, mengerjakan tugas, atau
menyelesaikan pekerjaan. Di Bandung, Dialog Space menjadi salah satu tempat
yang menawarkan pengalaman nongkrong dengan suasana dan konsep interior yang
menarik.
Berlokasi di
Jalan Pelajar Pejuang 45 No. 20, Bandung, Dialog Space menghadirkan ruang yang
bisa menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati waktu di luar rumah.
Tempat ini memiliki interior bergaya industrial yang memberikan karakter
tersendiri pada suasananya.
Konsep
industrial menjadi salah satu hal yang menarik perhatian pengunjung. Gaya
interior ini menghadirkan kesan khas yang membuat suasana coffee shop memiliki
identitas tersendiri. Bagi pengunjung yang menyukai tempat dengan desain
berbeda, konsep tersebut menjadi daya tarik saat memilih tempat untuk
menghabiskan waktu.
Daya tarik
interior Dialog Space juga dirasakan oleh salah seorang pengunjung bernama
Fadlan Khairul. Menurutnya, konsep yang dihadirkan tempat ini membuat
pengalaman nongkrong terasa menarik, terutama bagi pengunjung yang
memperhatikan desain dan suasana sebuah coffee shop.
"Di sini
tempatnya keren banget karena interiornya menarik, kaya tema industri gitu,
terus di lantai duanya ada tempat yang enak buat yang mau WFC ataupun
nugas," ujar Fadlan.
Selain menawarkan
daya tarik dari segi interior, keberadaan area di lantai dua juga menjadi salah
satu hal yang disoroti pengunjung. Area tersebut dapat dimanfaatkan untuk
berbagai aktivitas, termasuk bekerja dari kafe atau work from cafe
(WFC) dan mengerjakan tugas.
Bagi mereka
yang ingin bekerja di luar rumah, memilih tempat dengan suasana yang sesuai
menjadi salah satu pertimbangan. Coffee shop kerap menjadi alternatif untuk
mencari suasana baru ketika mengerjakan pekerjaan atau tugas. Dalam hal ini,
area lantai dua Dialog Space menjadi pilihan yang disebut nyaman oleh Fadlan
untuk melakukan aktivitas tersebut.
Kehadiran
tempat yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan membuat fungsi coffee shop
tidak lagi terbatas sebagai lokasi untuk membeli minuman. Pengunjung juga dapat
menjadikannya tempat bertemu, berbincang, atau menghabiskan waktu sambil
menyelesaikan pekerjaan. Dialog Space menawarkan alternatif bagi mereka yang
ingin menikmati suasana kafe sekaligus menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dari pengalaman
Fadlan, interior menjadi salah satu unsur yang membuat Dialog Space menarik
untuk dikunjungi. Konsep industrial yang diusungnya memberikan daya tarik
tersendiri, sementara area lantai dua menjadi nilai tambah bagi pengunjung yang
membutuhkan tempat untuk bekerja atau belajar.
Memilih tempat
nongkrong pada akhirnya bukan hanya tentang menu yang tersedia, tetapi juga
pengalaman selama berada di dalamnya. Suasana dan penataan ruang dapat menjadi
bagian dari pertimbangan pengunjung ketika menentukan tempat untuk bersantai
maupun menyelesaikan pekerjaan.
Dengan konsep
interior industrial dan area yang dapat dimanfaatkan untuk WFC serta
mengerjakan tugas, Dialog Space di Jalan Pelajar Pejuang 45 No. 20, Bandung,
bisa menjadi salah satu alternatif tempat singgah bagi mereka yang ingin
menikmati suasana coffee shop di Kota Kembang.
Menggemakan Seni Tradisi Lewat Sentuhan Muda dan Antusiasme Siswa SMA Plus Intan Al Sali pada Ekstrakurikuler Angklung
Vokaloka, Bandung — Kebudayaan khas Jawa Barat semakin menggeliat di lingkungan sekolah saat kegiatan ekstrakurikuler angklung perdana digelar di SMA Plus Intan Al Sali Kota Bandung pada 13/10/2026. Kegiatan seni tradisional tersebut menjadi ruang ekspresi baru bagi para siswa dalam mengisi waktu luang sekaligus mempelajari alat musik bambu secara langsung.
Dua siswi kelas 11 yaitu Finka Fauziah dan Refa Suci Almira membagikan pengalaman menarik mereka saat bergabung dengan ekstrakurikuler seni tersebut. Finka mengungkapkan langsung bahwa minat yang kuat menjadi alasannya. "Minat aja pengin masuk ekskul angklung, pengin belajar," tutur Finka.
Senada dengan Finka, Refa mengaku terdorong untuk ikut demi mencari pengalaman baru. "Aku juga sama pengin belajar dan punya pengalaman baru gitu, soalnya sebelumnya enggak pernah main angklung," ujar Refa.
Finka dan Refa menjelaskan secara tidak langsung bahwa kegiatan angklung ini merupakan ekstrakurikuler baru di sekolah yang baru berjalan sekitar tiga bulan, sementara saat kelas 10 kegiatan seni yang ada baru terbatas pada gamelan.
Dalam memainkan angklung, para anggota mendapat peran berdasarkan tangga nada yang berbeda. Finka menyampaikan secara tidak langsung bahwa dirinya memegang nada yang dimainkan sesuai irama, baik tempo pelan maupun cepat.
Sementara itu, Refa bertugas memegang angklung dengan notasi khusus sistem Sunda daminatilada. "Kalau aku pegang notasinya tuh yang na, kalau misal di Doremi Fa Sol La Si Do berarti Mi," kata Refa.
Karena tergolong baru, Finka menuturkan secara tidak langsung bahwa latihan saat ini masih difokuskan pada penguasaan materi dasar dan pemahaman notasi angka sebelum membawakan lagu daerah.
Meskipun masih di tahap awal, Refa mengaku terkejut karena permainan angklung ternyata lebih gampang dipelajari. "Tapi ternyata pas udah coba main gampang, alhamdulillah sekali pertemuan juga langsung bisa," ungkap Refa.
Mengenai harapan ke depan, Finka menyampaikan kalimat langsung agar ekstrakurikuler ini semakin berkembang. "Harapannya bisa lebih seru lagi, terus bisa tambah lagi kegiatannya lebih aktif sama seru ajalah," ucap Finka.
Di sisi lain, Refa menyampaikan secara tidak langsung bahwa ia berharap tim angklung sekolahnya kelak bisa menjajal panggung kompetisi di luar sekolah untuk memperluas relasi dan pengalaman tampil.
Reporter: Jihan Dwi Gustiani
Melestarikan Budaya Sunda Melalui Ekstrakurikuler Gamelan dan Kecintaan Siswa di SMA Plus Intan Al Sali
VOKALOKA, Bandung—Suasana kebudayaan dan deretan alat musik tradisional menghiasi kegiatan ekstrakurikuler seni di SMA Plus Intan Al Sali Kota Bandung pada 13/10/2026. Kegiatan ekstrakurikuler gamelan tersebut menjadi ruang ekspresi dan wadah kreativitas bagi para siswa dalam mengasah minat musik serta melestarikan seni tradisional.
Salah seorang anggota aktif ekstrakurikuler gamelan, Hanif Khairul Ramdan dari kelas 11, membagikan pengalamannya mengenai alasan utama ia memutuskan untuk bergabung dalam kegiatan seni tradisional ini. Hanif mengungkapkan bahwa ketertarikannya terhadap dunia musik sudah tumbuh sejak ia masih kecil.
"Ketertarikan saya memang dari kecil ya suka musik, kalau dulu mah kan di sekolah SMP enggak ada, sekarang mumpung ada nih kesempatan," ujar Hanif saat menjelaskan alasannya bergabung dengan ekstrakurikuler gamelan. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut begitu ada wadah bermain musik di sekolahnya saat ini.
Hanif menyampaikan secara tidak langsung bahwa pada awal bergabung ia tidak langsung mahir memainkan alat musik tradisional tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu dan proses latihan yang konsisten, ia menjadi terbiasa dan semakin paham cara memainkannya.
Perjalanan Hanif di ekstrakurikuler ini sudah berlangsung cukup lama sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di SMA Plus Intan Al Sali. Hanif menuturkan bahwa ia telah menjadi bagian dari kelompok gamelan sekolah sejak berada di kelas 10 atau awal masa masuk sekolah.
Rasa betah dan bertahan lama di ekstrakurikuler tersebut diakui Hanif lahir dari rasa suka dan kegemaran mendalam terhadap musik. Selain itu, perasaan mampu serta percaya diri dalam memainkan alat musik membuat dirinya semakin menikmati setiap sesi latihan yang diselenggarakan.
Dari berbagai macam instrumen gamelan yang ada, Hanif mengaku paling menyukai instrumen kendang. "Paling suka mah kendang, ya bisanya di situ, belajar dari awalnya di situ," ungkap Hanif mengenai alat musik favoritnya di dalam kelompok gamelan tersebut.
Meskipun fokus dan paling mahir memainkan kendang, Hanif menjelaskan secara tidak langsung bahwa dirinya tetap mencoba memainkan alat-alat musik gamelan lainnya saat latihan. Namun, ketertarikan dan kenyamanannya tetap tertuju pada instrumen kendang yang menjadi keahlian utamanya.
Suasana latihan yang nyaman serta alunan musik yang merdu menjadi alasan utama yang membuat Hanif dan teman-temannya betah berlama-lama latihan. Dalam proses belajarnya, mereka terlebih dahulu dipandu mempelajari notasi angka yang dituliskan oleh pembina di papan tulis agar harmoni alunan musik tetap terjaga.
Bagi Hanif, mengikuti ekstrakurikuler gamelan tidak hanya sekadar mengisi waktu luang, tetapi juga memberikan manfaat nyata. Selain dapat belajar dari tidak tahu menjadi tahu, kegiatan ini menjadi sarana penting bagi generasi muda dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia.
Reporter: Jihan Dwi Gustiani
International Grand Imams Conference 2026 Resmi Digelar di Jakarta, Perkuat Peran Imam dalam Perdamaian Dunia
Vokaloka, Jakarta — International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 resmi terlaksana di Jakarta pada 25–27 September 2026. Konferensi internasional ini mempertemukan para imam besar, mufti, ulama, dan tokoh keagamaan dari berbagai negara untuk membahas penguatan peran imam dalam kehidupan masyarakat, diplomasi keagamaan, harmoni antarumat, serta perdamaian dunia.
Dorong UMKM Naik Kelas, DKP Gelar Bazar Ikan dan Pembinaan secara Gratis
Vokaloka, Bandung - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Barat menggelar bazar produk kelautan dan perikanan secara rutin setiap bulan pada Jumat pertama sebagai ruang pemasaran dan pembinaan gratis bagi UMKM di Jawa Barat (02/10/26). Kegiatan tersebut digelar untuk membantu pelaku usaha memperkenalkan produk sekaligus memperluas pasar.
“Bazar Promosi Produk Kelautan dan Perikanan Ini untuk digelar rutin tiap hari Jumat pertama di setiap bulan guna memasarkan produk perikanan di Jawa Barat dan membantu usaha-usaha kecil agar bisa naik kelas,” ujar Analis Pasar Hasil Perikanan Ahli Pertama, Nur Sabani Komarudin.
Dalam pelaksanaannya, DKP menyediakan sekitar 30 stan untuk pelaku usaha perikanan dan 20 stan bagi pelaku usaha lainnya. Keikutsertaan serta fasilitas stan tersebut diberikan tanpa dipungut biaya. “Pelaku usaha kecil yang mengikuti bazar tidak perlu membayar,” jelas Sabani.
Selain menyediakan tempat pemasaran, DKP memberikan pembinaan terkait penanganan bahan baku, pengolahan, pengemasan, pemasaran hingga pencatatan usaha. Pendampingan juga dilakukan untuk memastikan produk yang dipasarkan memenuhi standar kualitas. “Tugas Kami hanya memfasilitasi dan mengawasi, memberikan pembinaan serta melakukan pemeriksaan,” ujar Sabani.
Salah satu pelaku UMKM, Apri Dwi Harini, telah mengikuti bazar tersebut dalam waktu yang cukup lama melalui kelompok usaha kecil perikanan. Ia menjual berbagai produk olahan perikanan, seperti makanan frozen, otak-otak dan bakso ikan. “Saya sudah lama ikut dan biasanya mendapat undangan melalui kelompok usaha kecil perikanan,” ujar Apri.
Menurut Apri, otak-otak menjadi produk yang paling banyak diminati pelanggan. Meskipun jumlah pengunjung belakangan lebih sedikit dibanding sebelumnya, penjualan tetap berlangsung melalui pemesanan setelah bazar. “Banyak yang pesan untuk nanti dikirim, ada juga yang membeli untuk dijual lagi ke komunitas atau kelompok mereka,” ujarnya.
Keikutsertaan dalam bazar juga membantu produk Apri dikenal oleh konsumen dari sejumlah daerah, seperti Bekasi, Bandung dan Bogor. Ia mengatakan produknya juga kerap dibeli pelanggan untuk dijadikan oleh-oleh. “Alhamdulillah, ini sangat membantu saya, jadi seakan usaha saya ini jadi makin terkenal, dan ga hanya jualan, kami juga dibina dan diarahkan, dan itu semua tanpa dipungut biaya,” ujar Apri.
Sabani mengatakan bazar tidak hanya ditujukan untuk memperoleh keuntungan dari transaksi selama kegiatan berlangsung. Pelaku usaha didorong menggunakan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan produk dan membangun jaringan pelanggan. “Stan ini diberikan secara gratis, tetapi tujuannya bukan untuk mencari uang di sini, melainkan mencari pasar,” ujarnya.
Kegiatan tersebut mulai berkembang menjadi agenda rutin bulanan sejak tahun 2015 setelah pelaku usaha meminta adanya kegiatan berkelanjutan untuk memasarkan produk mereka. Dalam salah satu pelaksanaan, total penjualan seluruh pelaku usaha disebut pernah mencapai sekitar Rp200 juta. “Kami yang menyelenggarakan kegiatannya, pendapatannya milik mereka, bukan kembali pemerintah, kami tidak pernah mengambil keuntungan sepeserpun karena tugas kami disini hanya memfasilitasi dan membantu membina” tegas Sabani.
Meski memberikan manfaat bagi UMKM, pelaksanaan bazar masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan lahan parkir, kualitas produk yang belum konsisten dari sebagian pelaku usaha baru, keterbatasan anggaran dan persoalan sampah. Bagi Apri, jarak dari rumahnya ke tempat bazar juga menjadi tantangan karena ia harus berangkat pada malam hari. “Kalau hambatan mungkin terkait jarak ya, karena saya dari Bekasi, jadi harus dari malam perjalanan menuju kesini,” ujarnya.
Apri berharap bazar tetap digelar setiap bulan dan tidak dihentikan karena kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk dan mendapatkan pelanggan baru. “Harapannya sih kegiatan bazar ini tetap ada setiap bulan, jangan sampai dihentikan, karena sangat membantu bagi kita para pengusaha kecil untuk bisa naik kelas” ujar Apri.
Reporter: Muhammad Naufal Fathoni
DKP Jabar dan KKP Gandeng UMKM Perikanan Pasok Protein Ikan untuk Program MBG
Vokaloka, Bandung — Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan Direktorat Pemberdayaan Usaha Ditjen PDS PKP Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar kegiatan kampanye jaminan mutu dan keamanan hasil kelautan dan perikanan, pada Jumat (2/10/2026) di Aula DKP Jawa Barat, Bandung.
Kegiatan ini mempertemukan langsung para pelaku UMKM perikanan lokal dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari Badan Gizi Nasional (BGN). Langkah ini dilakukan guna memperkuat rantai pasok protein ikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus mendongkrak angka konsumsi ikan masyarakat Jawa Barat yang terbilang masih rendah.
Kepala DKP Provinsi Jawa Barat, Rini Cempaka, mengungkapkan bahwa pola konsumsi protein masyarakat Jawa Barat saat ini masih didominasi oleh telur dan daging ayam, sehingga tingkat konsumsi ikannya masih tertinggal jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian timur.
"Konsumsi ikan di Jawa Barat saat ini masih rendah. Kalau dibandingkan dengan Indonesia bagian timur, ini sangat jauh. Jawa Barat terkenal masyarakatnya senang makan telur, ayam, dan daging, sementara untuk ikan masih kurang," ujar Rini.
Melalui sinergi bersama SPPG, Pemprov Jabar menargetkan menu berbasis ikan segar dapat disajikan secara rutin kepada anak-anak sekolah setiap minggunya.
"Fungsi SPPG ini memastikan ikan hadir dan dimakan oleh anak-anak di piringnya setiap minggu," tambah Rini.
Untuk mengatasi keengganan anak-anak mengonsumsi ikan akibat takut tertelan duri, DKP Jabar mengimbau para pelaku UMKM dan dapur pengolah untuk memvariasikan bentuk olahan ikan, seperti penggunaan teknologi duri lunak (presto) hingga produk filet ikan nila dan patin yang kini mulai menjadi favorit di sejumlah dapur MBG.
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Usaha Ditjen PDS PKP KKP, Ali Rahmat Iman Santoso, menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk memfasilitasi UMKM perikanan agar mampu memenuhi kualifikasi standar rantai pasok nasional.
Selain penerapan rantai dingin (cold chain) yang ketat, UMKM pemasok diwajibkan mengantongi sertifikasi mutu seperti HACCP atau Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP).
"Nanti kita bisa berkolaborasi bersama-sama melihat keberhasilan UMKM. Kita dorong pembiayaan dan pendampingan agar pasokan ikan terjamin dan berkualitas," tegas Ali.
Melalui kegiatan ini, DKP Jabar dan KKP berharap pasokan bahan baku dari nelayan dan pembudidaya lokal dapat terserap secara optimal, sekaligus mendukung terbentuknya generasi muda yang sehat dan cerdas lewat pemenuhan gizi protein ikan."Mari kita cerdaskan bersama, karena Jawa Baratnya saja sudah cerdas, insyaallah se-Indonesia pun ikut cerdas," tutup Rini .
Reporter: Muhammad Naufal Fathoni
Pemdes Cibiru Hilir Bahas Tupoksi dan Anggaran Bersama Lembaga Desa
Vokaloka, Bandung - Pemerintah Desa Cibiru Hilir menggelar rapat koordinasi bersama lembaga desa pada Rabu (7/10/2026), di Gedung Serba Guna Desa Cibiru Hilir. Kegiatan ini bertujuan memperkuat koordinasi dan sinergi dalam mendukung pembangunan desa.
Kasi Pemerintahan Desa Cibiru Hilir, Wahyu, menjelaskan bahwa rapat tersebut menjadi sarana untuk menyamakan persepsi antara pemerintah desa dan lembaga desa.
“Intinya koordinasi itu menyatukan persepsi antara pemerintah desa dan lembaga-lembaga desa, baik itu di bidang kemasyarakatannya, pembangunannya, dan lain sebagainya yang terkait dengan desa,” ujar Wahyu.
Agenda rapat meliputi penyampaian permohonan maaf kepala desa atas kekurangan koordinasi, penguatan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) lembaga, serta pembahasan anggaran dalam Daftar Rincian Kegiatan (DRK). Wahyu menjelaskan bahwa pembahasan tupoksi bertujuan memperjelas tugas setiap lembaga desa.
“Kemudian, selanjutnya pemaparan kaitan tupoksi, penguatan lagi bahwasannya lembaga desa itu tupoksinya seperti apa,” jelas Wahyu.
Selain itu, pemerintah desa memaparkan alokasi anggaran kepada masing-masing lembaga agar pembagiannya diketahui secara jelas.
“Misalkan di lembaga A mendapat anggarannya segian, itu disampaikan ke lembaganya langsung, ke lembaga B mendapat sekian,” kata Wahyu.
Rapat tersebut melibatkan sejumlah lembaga, di antaranya PKK, LPMD, Puskesos, PSM, RDS, Pos KB, dan Karang Taruna. Setiap lembaga memiliki tugas berbeda dalam mendukung kegiatan desa. Wahyu menyebutkan bahwa peran lembaga disesuaikan dengan bidang masing-masing, mulai dari sosial hingga pembangunan.
“Puskesos di sosialnya, LPMD di pembangunannya, BUMDES di usahanya,” ungkap Wahyu.
Dalam pembahasan anggaran, perbedaan alokasi menjadi salah satu hal yang dibicarakan. Penentuan anggaran mempertimbangkan kewenangan desa dan skala prioritas, sehingga menurut Wahyu, kendala yang muncul tidak terlalu mendesak.
“Jadi kalau secara kendala lah, ya Alhamdulillah nggak begitu urgent,” tutur Wahyu.
Secara umum, mayoritas peserta menyetujui hasil pembahasan, meskipun beberapa hal masih perlu didiskusikan kembali. Melalui musyawarah dan koordinasi, pemerintah desa berharap seluruh lembaga dapat bersinergi dan berkolaborasi dalam membangun Desa Cibiru Hilir.
Reporter : Syifa Apiah Bilqis
Apel Pagi Bernuansa Sunda, Kantah Kota Bandung Perkuat Kedisiplinan dan Pelayanan
Kepala Kantah Kota Bandung Tekankan Ketertiban Administrasi dan Pelayanan Publik
Vokaloka, Bandung – Kepala Kantor Pertanahan (Kantah) Kota Bandung, Yayat Ahadiat Awaludin, S.SiT., M.H., menyampaikan sejumlah arahan dalam apel pagi pada Kamis (08-10-2026). Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya ketertiban administrasi, penjagaan dokumen pertanahan, serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Yayat mengingatkan pegawai agar segera menanggapi surat dan permintaan data yang berkaitan dengan tugas kantor, terutama yang berasal dari pemegang hak, kuasanya, maupun instansi pemerintah terkait. Ia menilai ketepatan dalam memberikan jawaban merupakan bagian dari tanggung jawab pelayanan.
“Saya berharap teman-teman, terutama para Kasi, Kasub, jika ada surat yang meminta jawaban, apalagi data, kalau misalnya yang bersangkutan adalah pemegang haknya atau kuasanya atau instansi pemerintah yang berkaitan dengan tugas dan fungsinya, APH, segera jawab.”
Selain itu, Yayat mengingatkan bahwa dokumen pertanahan harus dijaga karena menjadi amanah yang dipercayakan kepada kantor. Warkah dan buku tanah merupakan bagian penting dari data pertanahan sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara bertanggung jawab.
“Ingat, kita bukan sebagai saksi fakta, kita adalah saksi data, pengampu data amanat yang diberikan oleh masyarakat kepada kita, ya, oleh instansi pemerintah, oleh badan hukum. Warkah dan buku tanah itu adalah amanah yang diberikan.”
Dalam arahannya, Yayat juga menyinggung penerapan kebijakan baru, termasuk penggunaan sistem geotagging. Ia memahami bahwa pelaksanaan kebijakan baru dapat menghadapi kendala pada tahap awal. Karena itu, persoalan yang muncul perlu disikapi dengan baik agar proses penerapannya dapat berjalan lebih lancar.
“Tidak apa-apa, sebenarnya itu hal yang biasa, gitu ya, dalam mengimplementasikan kebijakan baru pasti akan selalu ada... apa, ada guncangan sedikit, gitu. Dan itu pasti akan dialami.”
Yayat turut menekankan pentingnya kerja sama antara Kantah Kota Bandung dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dalam menghadapi kendala pelayanan. Menurutnya, komunikasi dan diskusi menjadi langkah penting untuk mencari penyelesaian bersama, dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat.
“Kita sama-sama mitra, ya. Kami melayani, kami puas, Anda juga puas, gitu kan, masyarakat juga puas. Kalau misalnya ada kendala, kita diskusikan bersama-sama.”
Melalui arahan tersebut, Yayat mengingatkan agar pegawai tetap menjalankan tugas sesuai prosedur dan peraturan yang berlaku. Ia berharap koordinasi yang baik, pengelolaan dokumen yang bertanggung jawab, serta komunikasi dengan pihak terkait dapat mendukung pelayanan pertanahan yang lebih baik kepada masyarakat.
Reporter : Silvi Angraini Piliang
Program SKB Beri Harapan Baru bagi Anak Putus Sekolah





















