UPTD Industri Logam Jabar Gunakan Desain Digital Sebelum Produksi

Bagikan :
X

 

Vokaloka, Bandung — UPTD Industri Logam Jawa Barat melakukan proses perancangan desain sebelum produk masuk ke tahap permesinan, baik menggunakan CNC milling maupun CNC bubut, (02/10/2026). Proses tersebut dilakukan dengan mengukur benda, membuat gambar dua dimensi (2D), kemudian mengembangkan desain tiga dimensi (3D) sebelum dibuat menjadi program oleh programmer.

Petugas bagian desain UPTD Industri Logam Jawa Barat, Taufiqurrahman, mengatakan desain produk dapat berasal dari pelanggan maupun dibuat berdasarkan sampel produk. Jika pelanggan memberikan gambar 3D, desain dapat langsung dibuat menjadi program, sedangkan gambar 2D atau sampel perlu dikembangkan terlebih dahulu.

“Kalau dari pelanggan misalnya sudah ada tiga dimensinya 3D, sudah bisa langsung dibuat programnya. Ada juga yang baru gambar dua dimensinya 2D, kemudian saya buatkan tiga dimensinya 3D,” ujar Taufiqurrahman.

Dalam proses perancangan, ketepatan ukuran menjadi salah satu hal yang diperhatikan. Pengukuran sampel harus dilakukan secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sudah terkalibrasi untuk menghindari kesalahan. Hasil pengukuran kemudian dikonfirmasi kembali kepada pelanggan sebelum diproses lebih lanjut.

“Yang pertama itu ukurannya jelas, jadi ketika mengukur sampel produk itu harus benar-benar teliti, kemudian alat ukurnya juga harus yang sudah terkalibrasi sehingga tidak ada kesalahan dalam pengukuran,” kata Taufiqurrahman.

Material yang digunakan dalam produksi berasal dari pelanggan karena UPTD tidak menyediakan bahan baku. Pihak UPTD kemudian memberikan informasi mengenai ukuran bahan baku yang dibutuhkan berdasarkan desain yang akan dikerjakan.

“Kalau jenis material itu kita kembalikan lagi ke pelanggan, jadi kita di sini tidak menyediakan bahan baku mentah, tapi bahan baku mentah itu disediakan oleh customer,” ujar Taufiqurrahman.

Apabila desain dari pelanggan belum dapat langsung diterapkan pada mesin, pihak UPTD akan melakukan penyesuaian setelah melakukan konfirmasi kepada pelanggan. Proses desain dilakukan secara manual pada tahap sketsa, sedangkan pembuatan gambar 2D dan 3D sudah menggunakan perangkat lunak Computer Aided Design (CAD).

“Customer memberikan gambar, ternyata gambar itu masih perlu banyak penyesuaian untuk dilakukan permesinan. Kita konfirmasi lagi ke pelanggan,” kata Taufiqurrahman.

Kendala dalam proses desain biasanya muncul ketika gambar 2D dari pelanggan tidak mencantumkan ukuran secara lengkap. UPTD juga pernah menyesuaikan desain part untuk cetakan cokelat dengan menambahkan radius pada sudut atau memperbesar ukuran lubang agar dapat dikerjakan dengan mesin milling.

“Kalau harapannya ketika sarana-prasarana di UPTD ini lebih dilengkapi lagi seperti pengadaan mesin 3D scan, jadi ketika membuat desain itu kita tidak perlu mengukur manual,” ujar Taufiqurrahman. Menurutnya, penggunaan 3D scanner dapat membuat proses pengukuran lebih praktis dan menghasilkan desain yang lebih presisi.

Reporter: Sipa Latipatul Uluwiyah

Tidak ada komentar

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka