Menelusuri Jejak Rasulullah di Museum Al Jabbar

0
Bagikan :
X

Uploaded Image

BANDUNG — Suasana tenang menyambut setiap pengunjung yang melangkah ke dalam Museum Rasulullah di Masjid Raya Al Jabbar, Kamis, 22 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional. Di tengah pencahayaan temaram dan dinding yang dipenuhi informasi sejarah, perhatian tertuju pada miniatur lanskap pegunungan yang tersimpan di balik kaca. Sejumlah pengunjung tampak mengamati koleksi tersebut, sementara yang lain membaca keterangan sejarah yang terpajang di sepanjang ruangan.

Di antara para pengunjung, Maryam Dasimah menjadi salah satu orang yang tertarik menelusuri jejak sejarah Islam melalui museum tersebut. Ketertarikannya berawal dari media sosial. Ia mengetahui keberadaan museum di Masjid Raya Al Jabbar dari unggahan yang dilihatnya, hingga akhirnya muncul rasa penasaran untuk menyaksikannya secara langsung.

“ Tertarik lihat di sosial media, ternyata ada museumnya, jadi penasaran,” ungkap Maryam saat menceritakan alasannya berkunjung.

Rasa penasaran itu kemudian terjawab ketika ia memasuki ruang pamer museum. Maryam mengaku terkesima dengan pengalaman yang diperolehnya. Baginya, museum tersebut bukan sekadar tempat untuk melihat koleksi sejarah, melainkan juga ruang pembelajaran yang memberikan pengetahuan baru mengenai perjalanan Islam.

Dari berbagai koleksi yang tersedia, gambaran perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW menjadi bagian yang paling menarik perhatiannya. Peristiwa penting dalam sejarah Islam itu memberikan pengalaman tersendiri bagi Maryam, sekaligus menjadi salah satu bagian yang paling berkesan selama kunjungannya.

Informasi sejarah yang disajikan di museum juga membantunya mengenal perjalanan hidup Rasulullah SAW lebih jauh. Maryam mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru, termasuk gambaran arsitektur rumah di kawasan Timur Tengah pada zaman Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran sejarah tidak hanya berkaitan dengan peristiwa masa lalu, tetapi juga mencakup kehidupan dan kebudayaan masyarakat pada masa itu.

Pengalaman Maryam menggambarkan bagaimana museum dapat menjadi sarana belajar yang berbeda dari pembelajaran melalui buku atau media digital. Pengunjung tidak hanya memperoleh informasi melalui bacaan, tetapi juga dapat mengamati visualisasi sejarah yang disajikan dalam ruang pamer. Dengan demikian, sejarah Islam terasa lebih dekat dan menarik untuk dipelajari.

Menurut Maryam, keberadaan museum bertema sejarah Islam sangat penting, terutama bagi generasi muda. Ia menilai, museum dengan fokus sejarah Islam masih jarang ditemui sehingga keberadaannya dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk memperluas wawasan keislaman.

“ Sangat penting, karena jarang sekali museum yang bertemakan sejarah Islam,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi relevan dalam momentum Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober. Peringatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang peran santri dalam perjalanan bangsa, tetapi juga momentum untuk memperkuat semangat menuntut ilmu dan mengenal nilai-nilai keislaman. Kunjungan ke museum sejarah Islam dapat menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan ketertarikan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap sejarah dan keteladanan Rasulullah SAW.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi di media sosial, museum tetap memiliki peran penting sebagai ruang edukasi yang menghadirkan pengalaman belajar secara langsung. Ketertarikan Maryam yang bermula dari sebuah unggahan di media sosial menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah lebih dekat, sementara kunjungan langsung memberikan kesempatan untuk memahami informasi tersebut secara lebih mendalam.

Pada akhirnya, menelusuri jejak Rasulullah di Museum Al Jabbar bukan hanya tentang melihat koleksi atau membaca catatan sejarah. Lebih dari itu, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal perjalanan Islam, memahami kehidupan pada masa Rasulullah SAW, serta mengambil pelajaran dari sejarah yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Di ruang-ruang museum itu, masa lalu dihadirkan kembali sebagai sumber pengetahuan yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini.

Penulis : Melin Nur Salamah

Tidak ada komentar

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka