
Vokaloka, Bandung - Jumlah pengunjung kawasan Saparua, Kota Bandung, meningkat tajam setiap malam Minggu dalam beberapa bulan terakhir. Keramaian yang mulai terasa sejak pukul tujuh malam itu membuat para pedagang kaki lima, mulai dari penjual makanan hingga minuman yang kebanjiran pembeli, sementara pengunjung memadati area pelataran lapangan hingga pinggir jalan karena harga jajanan yang terjangkau dan suasananya yang santai (29/09/2026).
Aroma dimsum, seblak, dan sate bercampur dengan suara pengamen serta riuhnya orang-orang yang sedang melakukan transaksi. Kawasan yang dulu identik dengan olahraga pagi akhir pekan itu kini hidup sampai larut malam.
"Dulu malam Minggu biasa saja, jam sepuluh sudah mulai beres-beres. Sekarang jam sebelas masih ada yang beli," kata Rina
Menurut Rina, omzet di malam Minggu bisa dua kali lipat dibanding hari biasa. Karena itu, ia kini menyiapkan dimsum yang belum dikukus itu dengan banyak. "Dulu sering habis sebelum jam sembilan, sekarang saya kukus bertahap biar selalu ada yang hangat," ujarnya.
Hal serupa dirasakan Yusuf, pedagang kaki lima yang menjual minuman berasa seperti teh susu, matcha, dan cokelat. Ia mengatakan pembelinya datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda, pasangan, hingga keluarga yang membawa anak kecil. "Paling laku yang manis-manis, kadang es batu sampai harus beli dua kali," ujarnya sambil tertawa.
Bagi pengunjung, jajanan kaki lima menjadi daya tarik utama. Banyak anak muda yang datang bersama empat temannya, bersama pasangannya dan mengaku hampir tiap pekan mampir. "Di sini jajanannya murah, dimsum sama minuman berasa uang puluhan ribu sudah kenyang. Bisa duduk di pinggir lapangan sambil lihat orang main skate. Suasananya lebih lepas," Ucap Ibrahim.
Dewi dan Fajar sepasang kekaih dari luar kota yang awalnya hanya lewat saja, tetapi mencoba untuk mampir. "Kami ngerasa kok ramai banget, akhirnya mampir beli jajanan, ternyata seru. Cuma parkirnya agak susah kalau sudah lewat jam tujuhkarena banyaknya orang yang parkir," ucapnya.
Di balik keramaian itu, sejumlah pedagang kaki lima berharap ada penataan yang lebih jelas. Area berjualan yang tersedia dinilai terbatas, sementara jumlah pedagang terus bertambah. "Kami tidak keberatan diatur, asal ada tempat yang pasti. Kalau rapi dan bersih, pengunjung juga nyaman," kata Rina.
Selain soal lapak, persoalan sampah dan lahan parkir juga masih dikeluhkan. Beberapa pengunjung menemukan tempat sampah sudah penuh menjelang tengah malam, sementara kendaraan kerap parkir hingga menyempit ke badan jalan.
Meski demikian, antusiasme warga belum surut. Pukul sepuluh malam, saat sebagian pedagang mulai menghitung pendapatan, rombongan pengunjung baru masih berdatangan, dan di salah satu sudut, pengamen memainkan gitar sementara pengunjung bernyanyi bersama.
Tidak ada komentar
Posting Komentar