Vokaloka, Sumedang - Ketika kandidat nomor urut 1 sibuk menjabarkan deretan program sosial dan petahana nomor urut 2 mempertahankan diri dengan daftar prestasi birokrasinya, Calon Kepala Desa nomor urut 3 justru memilih jalur yang sama sekali berbeda. Irvan Fauzi, Ass. Apt., menampilkan strategi kampanye visual yang sangat berani, mencolok, dan *out of the box* menjelang hari pencoblosan Pilkades pada 28 Oktober 2026. Ia mendobrak gaya politik konvensional dengan memadukan pendekatan budaya populer televisi ke dalam arena kontestasi tingkat desa.
Dalam spanduk kampanyenya yang berukuran raksasa, Irvan memajang dua persona yang kontras namun saling melengkapi. Di satu sisi, ia menampilkan foto formal berjas dan berdasi merah layaknya calon pejabat publik. Namun, di sisi yang lebih dominan, ia memajang potret dirinya mengenakan kostum serba hitam beraksen merah putih, lengkap dengan ikat kepala khas karakter "Unang Jenggo" dari sinetron populer *Preman Pensiun*. Identitas aktor televisi ini sengaja ia tonjolkan secara gamblang sebagai identitas politik untuk mencuri perhatian masyarakat di tengah ketatnya persaingan dengan dua kandidat lainnya.
Strategi visual ala *Preman Pensiun* ini rupanya memiliki tujuan yang sangat terukur, yakni menyasar basis suara pemilih pemula dan generasi milenial yang sering kali apatis terhadap urusan politik desa. Melalui slogan tegas berbunyi "Kaum Muda Bukan Masalah, Melainkan Aset Bangsa", Irvan berupaya merangkul generasi muda agar bangkit, berpartisipasi aktif, dan menjadi motor penggerak peradaban di desanya. Ia ingin membuktikan bahwa kaum muda memiliki kapasitas untuk memberikan warna baru dalam tata kelola pemerintahan, bukan sekadar penonton di pinggir lapangan.
Di balik gaya kampanyenya yang eksentrik, Irvan tetap menawarkan visi yang substansial untuk membawa Desa Sayang ke arah yang jauh lebih baik. Ia berkomitmen mewujudkan desa yang sejahtera, religius, serta memiliki daya saing tinggi. Aktor ini bertekad menyulap kampung halamannya menjadi desa yang mandiri dan berbudaya kreatif, yang ditopang penuh oleh birokrasi dengan konsep pelayanan publik yang cepat dan tanggap. Sebagai landasannya, ia menjanjikan pemerintahan dengan prinsip nilai budaya "Teramanah", yang meliputi transparansi, efektivitas, kemandirian, dan keharmonisan bermasyarakat.
Reporter: Muhamad Fauzi Muthaqien, KPI5D
Dalam spanduk kampanyenya yang berukuran raksasa, Irvan memajang dua persona yang kontras namun saling melengkapi. Di satu sisi, ia menampilkan foto formal berjas dan berdasi merah layaknya calon pejabat publik. Namun, di sisi yang lebih dominan, ia memajang potret dirinya mengenakan kostum serba hitam beraksen merah putih, lengkap dengan ikat kepala khas karakter "Unang Jenggo" dari sinetron populer *Preman Pensiun*. Identitas aktor televisi ini sengaja ia tonjolkan secara gamblang sebagai identitas politik untuk mencuri perhatian masyarakat di tengah ketatnya persaingan dengan dua kandidat lainnya.
Strategi visual ala *Preman Pensiun* ini rupanya memiliki tujuan yang sangat terukur, yakni menyasar basis suara pemilih pemula dan generasi milenial yang sering kali apatis terhadap urusan politik desa. Melalui slogan tegas berbunyi "Kaum Muda Bukan Masalah, Melainkan Aset Bangsa", Irvan berupaya merangkul generasi muda agar bangkit, berpartisipasi aktif, dan menjadi motor penggerak peradaban di desanya. Ia ingin membuktikan bahwa kaum muda memiliki kapasitas untuk memberikan warna baru dalam tata kelola pemerintahan, bukan sekadar penonton di pinggir lapangan.
Di balik gaya kampanyenya yang eksentrik, Irvan tetap menawarkan visi yang substansial untuk membawa Desa Sayang ke arah yang jauh lebih baik. Ia berkomitmen mewujudkan desa yang sejahtera, religius, serta memiliki daya saing tinggi. Aktor ini bertekad menyulap kampung halamannya menjadi desa yang mandiri dan berbudaya kreatif, yang ditopang penuh oleh birokrasi dengan konsep pelayanan publik yang cepat dan tanggap. Sebagai landasannya, ia menjanjikan pemerintahan dengan prinsip nilai budaya "Teramanah", yang meliputi transparansi, efektivitas, kemandirian, dan keharmonisan bermasyarakat.
Reporter: Muhamad Fauzi Muthaqien, KPI5D
Tidak ada komentar
Posting Komentar