Vokaloka, JAKARTA — Ada hal-hal yang membuat dua orang terasa dekat, bahkan sebelum mereka benar-benar menyadari betapa banyak kesamaan di antara keduanya. Bagi Ilmi Nurul Ramadhani dan Siti Nurhaliza, kesamaan itu berawal dari nama yang hampir serupa, kampung halaman yang sama, hingga perjalanan merantau yang perlahan membentuk mimpi mereka.
Keduanya berasal dari Bone, Sulawesi Selatan, daerah yang lekat dengan julukan Kota Beradat. Jauh dari rumah, mereka menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dengan kesibukan yang tak jauh berbeda. Kepanitiaan, berbagai kegiatan, dan kesempatan terlibat dalam acara-acara penting menjadi bagian dari perjalanan yang mereka tempuh.
Mereka berulang kali berada dalam lingkaran kegiatan yang sama. Dari satu kepanitiaan ke kegiatan berikutnya, kebersamaan itu tumbuh menjadi cerita tentang dua perempuan muda yang sama-sama ingin berkembang, memberi manfaat, dan membawa pulang kebanggaan bagi keluarga.
Di tanah rantau, keduanya tak hanya belajar mengejar cita-cita. Mereka juga belajar bahwa kesempatan sering kali datang bersama tanggung jawab, dan bahwa perjalanan menuju sesuatu yang besar dapat dimulai dari kesediaan mengambil peran-peran kecil dengan sungguh-sungguh.
Ketika perantauan mempertemukan mimpi
Merantau membawa seseorang keluar dari tempat yang dikenalnya sejak kecil. Ada keluarga yang dirindukan, kebiasaan yang harus ditinggalkan sementara, serta tantangan yang menuntut seseorang untuk tumbuh lebih mandiri.
Bagi Ilmi dan Siti Nurhaliza, perjalanan tersebut juga menjadi ruang untuk memperluas pengalaman. Keterlibatan dalam berbagai kepanitiaan dan kegiatan membuka kesempatan bagi mereka untuk belajar bekerja bersama, membangun relasi, dan berhadapan dengan lingkungan yang semakin luas.
Kesamaan latar belakang membuat perjalanan mereka terasa dekat, tetapi kesamaan visi menjadi alasan yang lebih dalam untuk terus melangkah. Keduanya ingin menjadi pribadi yang kehadirannya membawa manfaat bagi orang lain. Mereka juga menyimpan harapan yang sama: membahagiakan dan membanggakan kedua orang tua melalui ikhtiar, proses, serta pencapaian yang diperjuangkan.
Di antara orang-orang yang mengenal mereka, keduanya bahkan kerap disebut sebagai “Dua Nurul Kebanggan Mama Aji” yang sama-sama berjuang di perantauan. Sebutan itu menjadi bagian dari cerita kedekatan mereka tentang asal-usul yang sama, perjalanan yang saling bersinggungan, dan harapan yang terus dibawa dari rumah.
Empat hari yang menjadi pengalaman berharga
Salah satu pengalaman yang membekas dalam perjalanan mereka adalah keterlibatan dalam International Grand Imams Conference (IGIC). Selama empat hari, keduanya memperoleh kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan yang menghadirkan para imam besar dan ulama dari berbagai daerah maupun negara.
Bagi dua mahasiswa asal Bone ini, pengalaman tersebut bukan sekadar kesempatan menghadiri sebuah acara besar. Mereka menjadi bagian dari rangkaian kerja yang mempertemukan banyak tokoh penting, dengan tanggung jawab yang menuntut kesiapan, koordinasi, dan komitmen.
Berada di lingkungan para ulama dan imam besar menghadirkan kebanggaan tersendiri. Ada pengalaman yang tidak cukup hanya diceritakan melalui foto, sebab sebagian maknanya terletak pada proses yang dijalani: kesempatan untuk mengambil bagian, belajar dari lingkungan baru, dan menyadari bahwa diri mereka juga dapat berkontribusi dalam ruang yang lebih luas.
Pengalaman itu sekaligus memperlihatkan bahwa sebuah kegiatan besar tidak hanya berdiri di atas nama-nama yang tampil di hadapan publik. Ada banyak orang yang bekerja di balik layar, memastikan setiap bagian berjalan sebagaimana mestinya. Di dalam kerja bersama itulah, tanggung jawab dan pengabdian menemukan bentuknya.
Bagi Ilmi dan Siti Nurhaliza, keterlibatan dalam IGIC menjadi bagian dari perjalanan yang memperluas cara pandang mereka. Dari pengalaman tersebut, mereka memperoleh kesempatan untuk mengenal lingkungan yang berbeda sekaligus membawa pulang pelajaran tentang arti kepercayaan, kerja sama, dan kesungguhan dalam menjalankan peran.
Tentang sosok yang menjadi rumah di perantauan
Perjalanan jauh dari keluarga sering kali membuat seseorang menyadari bahwa dukungan tidak selalu datang dari orang-orang yang memiliki hubungan darah. Terkadang, sosok yang ditemui di tanah rantau justru menjadi tempat belajar dan menemukan teladan.
Bagi Ilmi, salah satu sosok yang ingin ia apresiasi adalah Kak Nurul, yang telah hadir sebagai figur kakak sekaligus panutan selama berada di perantauan.
Rasa terima kasih itu bukan semata-mata tentang kebersamaan, melainkan juga tentang kesempatan untuk belajar dari seseorang yang dianggap mampu memberikan contoh baik. Dalam perjalanan membangun diri, kehadiran sosok seperti ini dapat menjadi pengingat bahwa bertumbuh bukan hanya tentang melangkah lebih jauh, tetapi juga tentang belajar dari orang-orang yang lebih dahulu menunjukkan jalan.
Ilmi ingin menyampaikan terima kasih atas peran Kak Nurul dalam perjalanan tersebut. Baginya, memiliki sosok yang dapat dihormati, dijadikan tempat belajar, dan diteladani merupakan salah satu hal berharga selama menjalani kehidupan jauh dari rumah.
Sebab, di tengah banyaknya hal yang harus diperjuangkan sendiri, dukungan yang tulus dapat membuat perjalanan terasa lebih mungkin untuk dijalani.
Pulang membawa lebih dari sekadar pencapaian
Kisah Ilmi Nurul Ramadhani dan Siti Nurhaliza bukan hanya tentang dua nama yang hampir sama atau dua mahasiswa yang sering terlibat dalam kegiatan yang sama. Kisah mereka adalah potret perjalanan anak muda yang berusaha tumbuh tanpa melupakan dari mana mereka berasal dan untuk siapa mereka berjuang.
Bone menjadi titik awal yang mereka bawa dalam perjalanan. Tanah rantau menjadi tempat mereka belajar berdiri, memperluas pengalaman, dan bertemu dengan kesempatan-kesempatan baru. Sementara itu, setiap keterlibatan dalam kegiatan menjadi bagian dari proses panjang untuk membentuk diri.
Mereka mungkin belum sampai pada seluruh tujuan yang diimpikan. Namun, perjalanan ini mengajarkan bahwa menjadi bermanfaat tidak harus menunggu seseorang berada di posisi tertinggi. Kesediaan untuk belajar, mengambil tanggung jawab, dan membantu menyukseskan sebuah kegiatan pun merupakan bagian dari pengabdian.
Pada akhirnya, yang ingin mereka bawa pulang bukan hanya cerita tentang pernah berada di tengah para imam besar dunia. Lebih dari itu, ada harapan agar pengalaman tersebut menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh, menjaga niat baik, dan terus menghadirkan manfaat bagi orang-orang di sekitar.
Dua perempuan, satu tanah kelahiran, dan mimpi yang berjalan beriringan. Dari Bone, mereka berangkat membawa harapan orang tua. Di perantauan, mereka belajar memperjuangkannya. Dan di setiap kesempatan yang dipercayakan, mereka menemukan alasan baru untuk terus bertumbuh bukan hanya demi pencapaian pribadi, tetapi juga agar kelak keberhasilan mereka dapat menjadi kebahagiaan bagi keluarga dan manfaat bagi sesama.
Reporter: Ilmi Nurul Ramadhani

Tidak ada komentar
Posting Komentar