Di Antara Hafalan dan Mimpi yang Tak Ingin Berhenti

Bagikan :
X


Keinginan untuk berhenti mengikuti perlombaan pernah terlintas dalam perjalanan seorang mahasiswi yang akrab dengan dunia musabaqah Al-Qur’an. Padatnya tugas kuliah, target hafalan, dan persiapan lomba membuatnya harus belajar menentukan prioritas. Namun, setiap kali merasa ingin mundur, selalu ada kesempatan yang membawanya kembali untuk mencoba.

Yuriy Mayla Nashima Rachman, mahasiswi semester tiga Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, angkatan 2025, menjalani keseharian sebagai mahasiswa sekaligus mahasantri di Kampus 3 Ma'had Tahfidz Al-Quran UIN SGD Bandung. Keputusannya tinggal di ma’had berawal dari keinginan orang tua agar ia tidak tinggal di kos. Selain itu, lingkungan ma’had juga direkomendasikan sebagai tempat untuk membantu menjaga hafalan Al-Qur’an.

Kedekatannya dengan perlombaan keagamaan sudah terbangun sejak kecil. Ia terbiasa mengikuti berbagai kompetisi dan mulai meraih juara ketika duduk di bangku SMP. Cabang yang ditekuninya antara lain Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), yang kemudian terus ia ikuti hingga memasuki dunia perkuliahan.

Perjalanan tersebut membawanya meraih sejumlah prestasi, mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional. Pada 2026, ia meraih juara pertama MHQ sepuluh juz tingkat Kota Bandung dan juara pertama Musabaqah Syarhil Qur’an tingkat nasional dalam Musabaqah Funnun wal Islami di UIN Malang. Meski demikian, pencapaian itu tidak membuat seluruh proses yang dijalaninya menjadi mudah.

Bagi Yuriy, membagi waktu masih menjadi tantangan tersendiri. Ia harus menjalani perkuliahan, mengikuti kegiatan ma’had, menyelesaikan target hafalan, sekaligus mempersiapkan diri ketika mendapat kesempatan mengikuti lomba. Ia mengakui bahwa sampai sekarang dirinya masih belajar mengatur waktu dengan lebih teratur.

Cara yang ia coba cukup sederhana: berusaha fokus pada kegiatan yang sedang dijalani. Ketika berada di ma’had, ia memusatkan perhatian pada kegiatan ma’had. Begitu pula saat kuliah, ia berusaha menyelesaikan tanggung jawab akademiknya. Ketika akan mengikuti lomba, ia menambah waktu mengaji dan murojaah untuk mempersiapkan hafalan.

Salah satu masa terberatnya terjadi sekitar Juni, ketika tugas kuliah, persiapan ujian akhir semester, ujian tahfidz, target ma’had, dan persiapan MHQ di Kota Bandung datang hampir bersamaan. Ia merasa kesulitan menentukan hal yang harus didahulukan. Pada saat itu, tekanan yang dirasakannya bukan hanya soal banyaknya kegiatan, tetapi juga bagaimana membagi perhatian di tengah waktu yang terbatas.

Ketika kelelahan mulai terasa, Yuriy memilih memberi kesempatan kepada dirinya untuk beristirahat. Ia berusaha memahami kondisi tubuh dan perasaannya sebelum kembali melanjutkan tanggung jawab. “Kalau capek divalidasi dulu. Kalau ngerasa udah lumayan oke lagi, dilanjut lagi perangnya,” tuturnya. Baginya, mengenali batas diri menjadi salah satu cara untuk kembali mengumpulkan tenaga.

Ada pula pengalaman yang membuatnya menyadari bahwa dunia perlombaan masih menjadi bagian penting dalam hidupnya. Ia pernah merasa ingin berhenti dan memilih fokus pada sekolah saja. Namun, kesempatan mengikuti cabang lomba yang berbeda membuatnya kembali mencoba. Dari yang biasanya mengikuti MHQ satu juz, ia kemudian menghadapi tantangan lima juz.

Meski sempat terkejut dengan perubahan tersebut, ia tetap menjalani perlombaan hingga berhasil melanjutkan langkah ke tingkat Provinsi Jawa Barat dan masuk final. Pengalaman itu terasa berkesan karena terjadi ketika dirinya hampir menyerah. “Di saat aku pengen nyerah aja, selalu ada hal yang bikin aku balik lagi ke situ,” ungkapnya.

Dari pengalaman itu, Yuriy melihat bahwa perlombaan bukan sekadar tempat untuk mendapatkan juara. Prosesnya memberinya ruang untuk belajar, mengenali kemampuan diri, dan menghadapi tantangan yang sebelumnya terasa sulit. Ia pun merasa bahwa kegiatan perlombaan telah menjadi bagian dari perjalanan dirinya untuk terus berkembang.

Di balik perjuangannya, orang tua menjadi sumber motivasi terbesar. Dukungan mereka membuatnya kembali bersemangat ketika merasa lelah. Selain itu, ia juga menjadikan guru-gurunya sebagai teladan, terutama mereka yang mampu menjalani pendidikan sekaligus tetap aktif mengikuti perlombaan dan meraih prestasi.

Melihat perjuangan orang-orang di sekitarnya membuat Yuriy terdorong untuk terus berusaha. Ia menyadari bahwa menjalani perkuliahan dan menjadi mahasantri secara bersamaan membutuhkan pengaturan waktu serta kesediaan untuk terus belajar. Meski belum selalu berjalan sesuai harapan, ia mencoba menyelesaikan tanggung jawab satu per satu.

Perjalanannya menunjukkan bahwa prestasi tidak hanya berbicara tentang gelar juara yang berhasil diraih. Ada proses panjang berupa latihan, pengulangan hafalan, tekanan, dan keraguan yang harus dihadapi. Tidak semua perjuangan terlihat oleh orang lain, tetapi pengalaman-pengalaman itulah yang turut membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Keinginan untuk berhenti mungkin masih bisa datang, begitu pula rasa lelah di tengah padatnya kegiatan. Namun, bagi Yuriy, selalu ada alasan untuk kembali mencoba. Di antara perkuliahan, hafalan, dan perlombaan, ia terus belajar bahwa bertahan bukan berarti tidak pernah merasa lelah, melainkan menemukan cara untuk melanjutkan langkah setelah mengambil jeda.

Reporter: Aura Nurzihan Kamilah

Tidak ada komentar

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka